breaking news New

Berjalan Menuju Diri Sendiri: Sebuah Tinjauan Filosofis

Jika kita bisa mengubah diri kita sendiri, maka dunia juga akan berubah. Ketika seseorang mengubah kelakuannya, maka kelakukan dunia terhadapnya juga berubah… Kita tidak perlu menunggu hingga orang lain berubah -Mahatma Gandhi, Politikus dari India 1869-1948.

​Cetusan refleksi Gandi membantu saya merefleksikan apa yang Montfort’s Brohters (MB) dan Komunitas Ngopi lakukan pada malam senin, 05 Desember 2016. Bidikan kedua komunitas ini berawal dari naluri refleksi filosofis. Filsafat merupakan mencintai kebijaksanaan. Bagaimana kedua komunitas ini mencintai kebijaksanaan. Pertama, berjalan menuju diri sendiri. Kebijaksanaan utama adalah membangun karakter diri, baru bisa keluar membangun karakter orang lain.

Ketika nalar dan hati berpadu merenungkan persoalan umat manusia pada umumnya dan mahasiswa Manggarai di Malang khususnya. Misalnya kurangnya berorganisasi dan melemahnya cita rasa religius. Lalu, pantas kita bertanya, di mana letak filsafat? Pa Hila (salah satu anggota komunitas Ngopi) mengatakan, sesungguhnya perubahan itu mulai dari dalam diri kedua kelompok, baru bisa mengubah kelompok lain. Komunitas Ngopi juga sudah jauh sebelumnya dibangun. Maka, komunitas ini tidak saja membangkitkan kembali image Mahasiswa Manggarai Malang, tetapi lebih dari itu, yaitu membangun perubahan dari dalam diri setiap anggota. Itu yang penting.

Pendidikan karakter sebagai basis elementer menentukan bekembang tidaknya hidup manusia. Hantu manusia Indonesia yang berintelek sudah ompong. Untuk mendukung pernyataan itu, kini saatnya kita memasuki ranah pendidikan karakter. Pendidikan karakter sedemikian latahnya diperbincangkan sampai-sampai terkesan bahwa isu tersebut menjadi populer ketimbang direfleksikan. Lebih sebagai sebuah slogan ketimbang dijadikan sebuah fondasi refleksi. Socrates pun mensinyalir bahwa “hidup yang tidak direfleksi adalah hidup yang tak layak untuk dihidupi”. Hidup menjadi begitu kering dan mengalami kehilangan makna ketika daya refleksi tumpul.

Sebuah ungkapan tersohor “ikan busuk mulai dari kepala”. Kalau mau berubah harus mulai dari otak. Otak diagungkan seperti dewa karena bisa melahirkan segala sesuatu. Daya rasio mendobrak semua keterkungkungan ketidaktahuan. Ibarat orang yang pergi ke luar rumah akan mengetahui banyak hal, ketimbang orang yang hanya berdiam di rumah. Di Flores, khususnya di Manggarai berkembang cerita rakyat dengan tokoh Si Pondik. Si Pondik terkenal dengan kelicikan dan kepintarannya. Bermodalkan kepintaran, ia dengan bebas menipu banyak orang. Pada suatu hari, seorang berguru kepadanya, ingin meminta pendapatnya, bagaimana cara menaman ubi yang baik? Lalu Si Pondik mengatakan, “pekerjaan yang sangat mudah! Kalau menanam ubi, pertama-tama yang dilakukan adalah merebus ubi sampai masak. Apabila semua ubi sudah dimasak, dilanjutkan tahap berikut, yaitu menanamnya.” Si Pondik menambah dengan tegas, “Apakah Anda mengerti?” Sahut orang itu, “ Ya, ternyata baru kusadari betapa bodoh diriku, padahal caranya semudah itu.” Ia pun menuruti apa yang telah si Pondik katakan dan mempraktikan teori yang telah diperoleh. Apa yang terjadi selanjutnya? Pada malam hari, Si Pondik pergi ke kebun orang itu dan menggali semua ubi, lalu makan sampai kenyang.

Apa yang diduskikan Komuntias Ngopi dan MB bukan untuk mengubah karakter masing-masing orang. Tetapi kiranya setiap karakter bisa mendukung dan membantu kehidupan Manggarai ke depan.

​Agar berbuah, maka cabang-cabang keegoisan dipangkas dan dimusnahkan. Ranting-ranting kebohongan dipotong sedemikian rupa. Akar-akar cemburu perlu dirampingi agar bisa menghasilkan cinta yang berbuah. Kedua pribadi tadi sama-sama harus berani melakukan ‘gerakan keluar’. Keluar dari zona nyaman. Keluar dari perasaan pribadi yang tidak baik. Keluar dari hobi pribadi yang membunuh cinta. Keluar dari kesukaan pribadi yang merugikan yang lain. Sehingga, keduanya berjalan menuju satu hal yaitu berbuah. Buahnya lebat atau tidak. Itu tidak menjadi pokok permasalahan. Yang dibutuhkan adalah berbuah. Hanya dengan demikian, orang bisa masuk dalam kehidupan yang sama-sama diinginkan. Bukan hanya keinginan seseorang. Melainkan, keinginan dua pribadi tadi. Seandainya demikian, kegagalan seorang pribadi adalah kegagalan pribadi lain. Keberhasilan seseorang adalah keberhasilan pasangan juga.

​Dan akhirnya, keduanya sama-sama berujar, amor omnia vincet (cinta mengubah segalanya). Atau orang menyanyikan secara bersama-sama sebuah syair, love changes everything. Semoga!

***

Eugen Sardono, SMM adalah Montfortan. Saat ini menjadi editor majalah Embrase dan Ketua MB (Montfort’s Brothers). Tulisannya pernah di muat di Kompas, Jawa Pos, Flores Pos, Pos Kupang, Forum, Majalah Hidup, Purakasastra, Internos, Majalah Kana, Utusan, Floresa, Fox Muda dan media lainnya.

1 Comment

Leave a Comment

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password