breaking news New

Berpikir Global Bertindak Lokal

Berpikir adalah bagian esensial dari manusia. Berawal dari fenomena bercanda, ujung-ujungnya mengantar pada wawasan yang jernih dan menukik. NgoPi (Ngobrol Pintar) itulah salah satu Komunitas kecil yang cukup berpengaruh bagi kalangan Mahasiswa Manggarai di Kota Malang.

Kesan saya pertama kali atas komunitas ini adalah bahwa mereka tampaknya tidak serius, tetapi setelah masuk pada inti persoalan yang di angkat, paradigma saya berubah total malah muncul dari dalam diri saya kesadaran baru bahwa Realitas jangan dilihat dari kulit luarnya. Artinya penampilan atau bawaan bukanlah kesimpulan dari kualitas “ada”.

Dalam pertemuan kami pada Kamis malam, 08 Desember 2016, tema yang dibahas sangat kontekstual dan merupakan fenomena aktual masa kini. Tema yang dimaksudkan adalah Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) dalam konteks wilayah masing-masing daerah. Pertanyaan diskusi yang diajukan pemateri adalah “Bagaiman aktivitas atau eksistensi LSM di daerah kita…?

Dari pertanyaan di atas muncul pemikiran-pemikiran baru yang berkenaan dengan kehidupan sosial masyarakat, secara khusus masyarakat Indonesia. Dalam diskusi kami ada beberapa hal penting yang disorot. Beberapa hal tersebut adalah “LSM bisa menempati dua tempat di dalam Negara, pertama menjadi pendukung atau wadah kinerja Pemerintah; yang kedua sebagai “monitor” atau “pengkritik” dari kinerja Pemerintah. Kedua, hal tersebut tidak bermaksud untuk memonitori kesalahan kinerja Pemerintah, tetapi sebagai wadah, bagaimana persoalan dalam pemerintahan itu dievaluasi dan diarahkan pada kebaikan bersama di seluruh daerah (Bonum Commune). Akhirnya LSM berperan penting dalam pemerintahan Indonesia dan masyarakat di pelosok-pelosok kota dapat dilayani dan terjangkau.

Di samping itu kita harus waspada akan ada penunggang-penunggang yang tidak sesuai dengan pembangunan Nasional dengan menggunakan LSM sebagai Kudanya. Singkatnya kita perlu tahu, “apa sih tujuan esensial dari LSM?”. Umumnya LSM berfungsi sebagai wadah atau perpanjangan tangan dari pemerintah dalam menjangkau pelayanan khusus bagi rakyat yang termarginalkan atau penanggulangan bencana Allam.

Selain itu LSM juga menyoroti kebudayaan Lokal yang menjadi jiwa dasar bangsa Indonesia. NKRI ada karena memiliki kekuatan budaya yang beranekaragam. Dari hal inilah muncul kesadaran akan pentingnya memilihara kebudayaan setempat. Pertanyaannya adalah Siapakah yang bertanggung jawab atas kebudayaan yang ada di setiap suku atau daerah kita NKRI ini?

Kalau bukan kita siapa lagi? Kalau kita sungguh-sungguh mencermati fenomena-fenomena yang terjadi di Negara kita, tidak usah jauh-jauhlah di kampung kita masing-masing, saat ini orang tidak lagi menyukai lagu-lagu “Gundul-gundul Pacul (Jawa)” atau “Ngkiong (Manggarai)” “Kayu Ara (Kalimantan) dll. Orang lebih suka mendengar lagu-lagu barat misalnya Bruno Mars atau lagu-lagu yang “berbau sensual”. Perlu kita sadari juga bahwa tidak semua orang demikian.

Bertitik tolak dari kesimpulan diskusi kami tentang LSM, dalam hal ini lebih menekankan tentang kebudayaan Lokal sebagai pijakan dasar LSM bahwa Kita perlu “berpikir Global tetapi bertindak Lokal”. Hal ini menjadi penting karena kehadiran budaya-budaya modern sangat berpengaruh bagi generasi muda masa kini, jika kebudayaan Lokal hilang maka wajah Indonesia juga akan luntur. Itulah yang perlu kita jaga dan waspadai. Saya yakin anak-anak Indonesia berpotensi menjadi yang terbaik di tengah dunia dengan kekuatan budaya masing-masing sebagai jiwa moral universalnya.

Mengapa Pohon ara hampir punah?

Karena beberapa faktor. Salah satunya adalah karena kepercayaan akan adanya suatu realitas spiritual yang ada di dalam pohon itu sudah hilang, karena budaya skeptis yang terselip di dalam budaya akademis yang kurang bijaksana. Kesadaran ini muncul dari aktivitas manusia kini yang kurang lagi menghormati pohon atau pun tempat keramat yang terdapat di beberapa unsur alam. Kalau Indonesia ini kuat seperti Bali, pasti ada saat di mana kendaraan atau keheningan spiritual mewarnai kehidupan Indonesia, sebab di dalam keheninganlah manusia bisa menikmati keilahian dirinya.

Berpikir Global bertindak Lokal (Bukan primitif)

Tidak dapat dipungkiri bahwa kita hidup di era digital, kenyataan ini sangat membantu kehidupan kita sehari-hari, tetapi sebagai manusia Indonesia kita perlu sadar bahwa kita ada telah membawa budaya masing-masing, sedangkan progressitas dunia jangan kita ikuti begitu saja sampai mengorbankan daya dan tenaga serta harta sehingga kurus baik secara jasmani mau pun rohani. berbudaya adalah jati diri Indonesia. Bertindak lokal artinya bertindak kritis atas progressita yang ada yang dapat memudarkan arti penting koeksistensi kita di tengah Dunia. Jangan sampai kita menjadi korban atau tontonan dari negara lain yang menyuntik kita dengan virus kemajuan teknikal. Ayo Komunitas Ngopi terus mengada dengan cara sederhana tetapi mendunia. Kita ngomong Pintar, maka kita ada dan Indonesia Berbudaya, maka kita ada bersama, mengada persatuan NKRI sepanjang masa.

0 Comments

Leave a Comment

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password