breaking news New

Teknologi Telah Mengubah Kita

Kabarnusantara.net – Apakah anda seorang ‘phubber’ atau ‘smombie’? Anda bisa jadi seorang anggota ‘suku kepala tertunduk’. Frase-frase baru dapat menggali obsesi kita terhadap telepon pintar, kata Tom ChatfieldKata-kata baru terkadang membangun sebuah tren dengan begitu sempurna sehingga membuat Anda berpikir bagaimana Anda selamat tanpa mereka. Salah satu frase yang paling menyenangkan yang saya temukan beberapa tahun terakhir adalah sebuah terminologi Cina : dī tóu zú (低頭族), yang secara harafiah diterjemahkan sebagai ‘suku kepala tertunduk’.

Siapa yang dimaksud dengan itu? Orang-orang yang kita lihat setiap hari di jalanan kota – atau tidak, karena kita adalah anggota dari suku itu sendiri – kepala mereka tertunduk, menatap telepon mereka.

Itu adalah deskripsi yang semakin cerdas dan jelas terhadap para ‘pecandu telepon pintar’. Deskripsi itu memanfaatkan bahasa sosial dibanding penyakit medis, dan juga terasa lebih dekat dengan pengalaman kehidupan kita.

Dan jika anda adalah bagian dari suku kepala tertunduk, anda juga mungkin adalah anggota kehormatan mǔ zhǐ zú (拇指) atau ‘suku jempol’: orang yang tidak pernah berhenti mengetik. Terminologi itu berasal dari Jepang, yang mana oyayubizoku (拇指族) – ‘klan jempol’ – pertama kali muncul untuk mendeskripsikan remaja yang lebih lancar menulis pesan daripada berbicara.

Seperti banyak label sosial, istilah ini menimbulkan ketidaksetujuan dari pihak yang menjadi subjek, disertai pengakuan bahwa perubahan sedang terjadi. Persaingan gagasan etiket dan perilaku yang sesuai muncul ke dalam percakapan sehari-hari: ketegangan antar suku bergema di Bahasa-bahasa Asia Timur, sebagaimana blog Language Log (blog tentang penggunaan Bahasa oleh Mark Libermen,ahli fonetik dari Universitas Pennsylvania) telah dieksplorasi secara mendalam.

Apakah hal yang serupa terjadi di negara Barat? Dua hal muncul di pikiran, meski tidak ada satupun yang sama menawannya. Seni tidak mempedulikan orang dengan melihat telepon anda, meski anda sedang membeli kopi atau duduk bersama di sebuah meja, disebut ‘phubbing’. Singkatan dari ‘phone snubbing’ (cuek dengan telepon), kata ini ditemukan pada 2012 oleh biro iklan Australia McCann Melbourne sebagai bagian dari promosi kamus, yang melahirkan kampanye global ‘stop phubbing’.

Yang lebih sinis adalah gabungan kata-kata ‘smombie’, singkatan dari ‘smartphone zombie’ (mayat hidup telepon pintar’ dan digunakan untuk mendeskripsikan pejalan kaki yang memusatkan perhatiannya ke perangkat telepon mereka.

Smombie meraih Youth Word of the Year (Kata Anak Muda untuk Tahun) 2015 di Jerman – meski lebih banyak digunakan oleh orang yang lebih tua untuk mendeskripsikan hal yang buruk dari anak muda – itu menjadi hal yang mendesak dengan menggilanya Pokemon Go pada musim panas tahun ini. Jerman juga menjadi negara pertama di dunia yang memasang lampu lalu lintas di trotoar, yang didesain untuk menghentikan ‘smombies’ berjalan di depan bis.

Dapat dikatakan, tidak ada yang baru dari ini semua. Terminologi-terminologi atas ketidaksetujuan teknologi, timbul dari harapan dan ketakutan hiperbolik, sama usianya dengan komunikasi elektronik. Ketika telepon pertama tiba di rumah-rumah di Amerika di akhir abad ke-19, hal itu menimbulkan kegembiraan dan putus asa.

Untuk sebagian orang, perdamaian dunia hanya berjarak satu dekade dari telepon internasional. Untuk yang lain, bentuk berinteraksi yang baru dapat berarti kesempatan baru untuk adiksi, waktu yang terbuang dan percakapan yang kosong. Sekali lagi, kata-kata baru perlu dibuat, dan itu adalah istilah medis ‘mania’ yang ditolak para komentator.

‘Maniak telepon’ dimulai dengan sebuah artikel di Western Electrician jurnal Chicago pada 17 Juli 1897, “biasanya orang-orang yang senang bersantai kurang mengapresiasi harga dari waktu, dan semakin santai mereka semakin sedikit harapan untuk mereka, sejauh mana penyembuhan diinginkan… Gejala jelas atas penyakit itu adalah keinginan untuk berbicara dengan orang-orang yang cukup jauh tentang semua hal kapan saja, siang dan malam… Bagian terburuk atas penyakit itu adalah orang yang memilikinya tidak pernah menyadari mereka membuat diri mereka menjijikkan, dan terlepas dari waktu atau tekanan pekerjaan, mereka tetap ingin bercerita panjang lewat kabel telepon.”
Cerita-cerita panjang mungkin telah beralih menjadi perlombaaan mendapatkan likes di Facebook, namun keinginan untuk mencurahkan perhatian untuk kenikmatan yang jauh dengan mengorbankan lingkungan terdekat anda lebih kuat dari sebelumnya.

Memang, itu adalah bagian besar dari mengungkap cerita media, juga tantangan yang dimiliki dengan cara-cara pikir tradisional tentang ruang, komunitas dan waktu.

Kata-kata apa yang akan kita perlukan untuk mendeskripsikan seseorang berjalan melalui pemandangan kota dihiasi dengan realitas yang diperluas? Dan jika anda tidak ingin menundukkan kepala anda untuk melihat layar anda – jika itu dibuat dalam bentuk kacamata, digunakan sebagai lensa kontak atau diproyeksikan langsung ke retina anda – akankah seseorang menyebut mereka ‘phubber’?

Hingga saat itu tiba, kita harus menentukan bukan saat persepsi kita ditingkatkan dengan mesin, namun ketika kita tidak bergantung dengan mesin: ketika hanya sekedar melihat apa yang ada di bawah hidung kita membutuhkan kata yang baru. (RR/KbN)

Dilansir dari BBC Versi bahasa Inggris tulisan ini bisa Anda baca di The new words that expose our smartphone obsessions di BBC Future

0 Comments

Leave a Comment

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password