breaking news New

Talk Show KESA, Mendamaikan Otonomi Daerah dengan Otonomi Desa

Yogyakarta, kabarnusantara.net – Kelompok Studi Tentang Desa, KESA menggelar acara Talk Show untuk menanggapi UU No.23 tahun 2014 tentang Pemerintahan daerah dan UU No.6 tahun 2014 tentang desa pada Rabu (21/12/2016) di Kampus STPMD, Yogyakarta. Kedua UU tersebut masing-masing memiliki otonomi tersendiri. Kegiaan yang digelar di kampus Sekolah Tinggi Pembangunan Masyarakat Desa ini dihadiri oleh mahasiswa STPMD dan semua pengurus dan anggota KESA.

Pembicara Soni Fatih Wibisono, dosen STPMD  dalam penjelasannya melihat kehadiran UU no.23 tahun 2014 tentang pemerintahan daerah yang baru ini mensinyalir adanya penarikan kembali kewenangan kabupaten /kota yang dijalani selama ini oleh setiap daerah.

“Saya melihat kehadiran UU No.23 tahun 2014 tentang pemerintahan daerah ini bisa dikatakan terjadi redesentralisasi, dimana adanya beberapa kewenagan daerah yang diambil kembali oleh pusat dan ini tidak bisa dilepas-pisahkan dari pertarungan politik antara pemerintah pusat sampai di tingkat pemerintah kabupaten/kota” jelas Sony.

Senada dengan itu, melihat posisi desa, pemateri Elferem Erigius, mahasiswa pascasarjana Ilmu Pemerintahan STPMD, lebih menekankan pada penegasan yang  lebih ketat lagi pada dua asas yang dikandung desa yakni asas rekognisi dan subsidiaritaas. Keberadaan desa dilihatnya  sebagai institusi yang benar-benar harus diakui sebagai identitas masyarakat yang memiliki cara tersendiri untuk menerapkan UU No.6 tahun 2014 tentang desa.  Otonomi Desa   diharapkanya agar mampu membendung pengaruh-pengaruh dari luar dirinya dengan menegakkan kembali kewenangan-kewenangan yang dimiliki desa.

“Melihat keberadaan desa bagi saya perlu menegaskan kembali kedua asas yang dimilikinya yakni asas subsidiaritas dan rekognisi sehingga desa benar-benar harus diakui sebagai komunitas identitas masyarakat lokal dan  kewengan-kewengan yang dimilikinya lebih ditegakan lagi sehingga mampu membendung pengaruh-pengaruh dari luar dirinya.  Saya juga prihatin atas  penyelesaian persoalan di desa yang semestinya bisa diselesaikan di ranah masyarakat lokal tetapi kenyataannya banyak yang harus diselesaikan secara formal melalui aturan pemerintahan”,  pungkas Efrem.

Olan Erasmus selaku koordinator utama dalam acara Talk Show ini mengatakan kegiatan ini dilakukan untuk melihat relasi antara desa dengan  daerah atas otonomi yang dimiliki keduanya. Selain itu, Olan mengatakan kegiatan ini merupakan kegiatan yang sudah diprogramkan oleh kaur akademik untuk mengisi akhir tahun 2016.

“Bagi saya kehadiran undang-undang yang baru tentang desa maupun daerah adalah suatu hal yang perlu dikaji dan didiskusikan degan baik dan KESA mewadahi ruang diskusi itu melalui Talk Show ini dan kegiatan ini sudah menjadi program dari kaur akademik di akhir tahun 2016”, ungkap Olan.

Kepala Desa KESA Kar Beda dalam kesempatan yang sama mengatakan,  kegiatan ini adalah bentuk dari penambahan ruang akademik di KESA yang bisa dimanfaatkan sebagai ranah pembelajaran yang baik bagi anggota KESA. Ia juga mngharapkan dengan kegiatan ini KESA bisa bermitra dengan organisasi-organisasi internal kampus STPMD dalam penambahan ruang akademik  di kampus.

“Kegiatan Talk Show ini merupakan penambahan ruang akademik bagi KESA maupun bagi kampus STPMD ke depanya jika kita bisa bermitra lebih baik lagi dengan organisasi-organisasi internal kampus yang bisa dijadikan ranah pembelajaran yang baik bagi anggota KESA ke depannya”, tutup Beda. (Astramus Tandang/HIP/KbN)

 

10 Comments

Leave a Comment

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password