breaking news New

ENGKAU Tetap Indah Seperti Fajar Pagi [Refleksi Natal]

​Natal, kenapa harus ada? Natal bukan merupakan pengkristenan budaya kafir Romawi. Natal memang sebelumnya bukanlah menjadi pusat perayaan umat kristiani. Pusat perayaan umat kristiani sebelumnya adalah paskah. Pada Abad ke-2, Klemens dari Aleksandria mulai menetapkannya pesta kelahiran Tuhan. Dan dasarnya bukan adaptasi Dies Natalis Solis Invictis (Hari Kelahiran Dewa Matahari Yang tak terkalahkan). Pandangan seperti itu amatlah keliru. Karena dasar perayaan natal adalah Kitab Suci. Misalnya dalam injil Yoh 8: 12, Kristus adalah terang dunia. Ia terang yang menghalau kegelapan dosa.

​“Engkau tetap indah seperti fajar pagi,” demikian letupan hati menyambut natal. Malam adalah situasi dosa dan gelap. Malam merupakan lambing tak ada cahaya. Manusia yang karena dosa adam berada dalam situasi malam. Malam sepanjang waktu. Kini, saatnya muncul fajar pagi yang bisa memberi cahaya bagi manusia.  

Kini, apa makna natal bagi saya? Pertanyaan yang kualamatkan, tepatnya kepada diriku sendiri? Natal kali ini berada di atas puncak PONSA (nama sebuah Bukit yang dihuni kaum berjubah). Situasinya sunyi senyap bersama malam yang tak mampu mengungkapkan isi hatinya. Hatiku semakin sunyi. Kalau sebelumnya, natal dirayakan bersama umat, kini situasi semakin lain. Kenapa harus hening dan tidak ramai. Itulah ronta hatiku. Natal yang sudah tertanam dalam pikiran harus ramai. Natal itu harus mendengar dentingan alunan musik. Natal itu berkumpulnya orang-orang makan bersama dan pesta minum anggur. Maka, situasi keheningan itu membuatku mempertanyakan makna di balik perayaan natal itu.

​Pada menjelang natal perayaan natal, saya teringat lagi kata-kata dari Romo Wim Peter, SMM. Beliau mengisahkan bagaimana, kesederhanaan Yesus dulu tampil di panggung kehidupan manusia. Yesus lahir di kandang yang sunyi. Yesus juga mau menjadi miskin. Maka, jangan meminta kekayaan kepada Yesus. Karena, Ia dulu miskin dari lahir sampai meninggalnya. Coba, lihat saja Yesus lahir di kandang Betlehem (bukan kepunyaan-Nya). Sudah lahir di kandang, bukan kepunyaan sendiri. Lalu meninggal di kubur pinjamana (kubur dari Yusuf Arimatea). Sungguh malang berkepalang ajar, nasib Yesus menjadi manusia. Kenapa, Yesus tidak diakui sebagai raja oleh orang Yahudi? Kemungkinan karena Ia miskin. Sekarang tidak ada raja yang miskin. Kalau ada raja yang miskin, berarti raja yang gila!

​Sebelum perayaan natal, saya berdiam di kamar. Di kamar, saya tidak tahu harus berbicara dengan siapa dan berbuat apa. Situasinya hening dan sepi. Dalam keheningan terbantai oleh sepi. Serasa natal yang berjalan tiada warna dan membuat hati berbunga-bunga. Natal sekarang yang luar biasa. Tidak seperti sebelumnya. Di kamar, saya justru menatap sebuah cermin. Cermin itu bersih dan bening. Dalam kebeningannya, wajahku kotor. Kristal-kristal dosa bisa dilihat di sana. Aku menyadari kenestapaanku. Betapa fananya kehidupanku ini.

​Natal kali ini hanya ditemani oleh hening. Hening dan sepi. Teman-teman juga mau bercinta dengan sepi di dalam kamar mereka. Masing-masing orang mau menikmati natal dengan kesendirian. Saya merasa sangat lain. Kenapa, semuanya terjadi seperti ini. Lama-lama, saya mencoba menikmatinya dan bermain di dalam keheningan itu. Justru di dalam keheningan, saya merasa kecil dan tak berarti. Peristiwa natal sungguh bermakna. Karena masih ada waktu untuk berefleksi.

​Rupanya benar, bahwa kalau orang belum sampai kepada sepi, orang belum sampai kepada kehidupan. Hening itu indah. Sungguh indah. Melampaui keindahan itu sendiri. Sampai saya hanya menikmatinya dan tak bisa lagi berbicara tentang keindahannya. Hening adalah guru yang baik, ibarat lilin yang membakar dirinya sendiri demi menerangi jalan orang lain.

​Dan pada hari ini, Ada harapan fajar pagi akan terbit. Manusia tidak terus berada dalam kekelaman dosa, tetapi akan dibawa kepada cahaya.

Eugen Sardono, SMM adalah Montfortan. Kini, tinggal di PONSA, Malang.

15 Comments

Leave a Comment

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password