breaking news New

Korelasi Pesan Paus Fransiskus dan Pemikiran Jean Baudrillard

Kabarnusantara.net – Malam ini saya memilih untuk tidak tidur, entah kenapa mata ini sulit terpejam. Sekedar mengisi waktu saya mencoba melihat- lihat med
sos tidak terkecuali Facebook saya sendiri.

Ada hal yang menarik ketika membaca sebuah ulasan tentang pemikiran filsuf Posmo Prancis Baudrillard (1929 – 2007) dilesensikan dengan pesan Paus Fransiskus pada Misa perayaan Natal kemarin. Ulasan yang ditulis dosen saya sendiri, membuka saya untuk ingin lebih tahu tentang pemikiran Baudrillard.

Jean Baudrillard 

Jean Baudrillard (Reims, 20 Juni 1929–Paris, 6 Maret 2007) adalah seorang pakar teori kebudayaan, filsuf, komentator politik, sosiolog dan fotografer asal Perancis. Karya Baudrillard seringkali dikaitkan dengan pascamodernisme dan pascastrukturialisme. Ia merupakan seorang teoritisi sosial pasca-struktural terpenting.

Baudrillard lahir dalam keluarga miskin di Reims pada 20 Juni 1929. Ia mempelajari bahasa Jerman di Universitas Sorbonne di Paris dan mengajar bahasa Jerman di sebuah lycée (1958-1966). Ia juga pernah menjadi penerjemah dan terus melanjutkan studinya dalam bidang filsafat dan sosiologi. 

Pada awal kariernya Baudrillard dipengaruhi oleh “kritik kehidupan sehari-hari” dari Henri Levebre. Beberapa penulis mengatakan ia juga banyak dipengaruhi oleh Nietzsche, Sigmund Freud, Jacques Lacan, Saussure, Levi Strauss, dan tentu saja “revolusi mahasiswa” pada Mei 1968 yang menggulingkan tahta Presiden De Gaulle. 

Tapi itu bukan berarti ia mengkaji secara mendalam sejarah apalagi sejarah ide-ide. Atau lebih tepatnya ia tidak memiliki persepsi historis tentang suatu peristiwa, dan sejarah pun cenderung ia ‘mitologisasikan’. Seperti diakuinya sendiri; I am not a historian. I do not have an historical perception of events. But I would say that I have a mystical reading of them and that history for me, would be a long narrative which I tend to mythologize.

Dalam lingkup tertentu dekade 1980-an, Baudrillard dikenal sebagai McLuhan baru atau teoritisi terkemuka tentang media dan masyarakat dalam era yang disebut juga posmodern. Teorinya mengenai masyarakat posmodern berdasarkan asumsi utama bahwa media, simulasi, dan apa yang ia sebut “cyberblitz” telah mengkonstitusi bidang pengalaman baru, tahapan sejarah, dan tipe masyarakat yang baru.

Tulisan-tulisan Jean Baudrillard mengingatkan orang lebih kepada puisi daripada teks-teks filosofis pada umumnya. Menurutnya Baudrillard terus-menerus bermain dengan kata-kata dan membuat metafor-metafor liar dari astronomi dan menggoda pembaca untuk lebih berkonsentrasi pada bahasanya daripada pendapat-pendapatnya. 

Gayanya menulis nampak mengilustrasikan tesisnya bahwa kita tengah meninggalkan ‘realitas’ dan sedang dalam perjalanan memasuki apa yang disebutnya ‘hyperreality’; suatu tempat dimana kita bisa bersembunyi dari ilusi yang kita takutkan. Fondasi filsafat Baudrillard adalah kritisisme terhadap pemikiran tradisional dan ilmiah yang menurutnya telah mengganti realitas dengan ilusi tentang kebenaran.

Pesan Paus Fransiskus dan Pemikiran Jean Baudrillard

Dalam pesan Natalnya, di alun- alun Santo Petrus, Vatikan Minggu (25/12), Paus Fransiskus antara lain menegaskan bahwa sekarang ini cahaya komersialisasi begitu mendominasi dan cahaya Tuhan hanya (tinggal) menjadi bayang- bayang.

“Kita begitu peduli pada hadiah dan materi, tetapi hati kita beku dan tak peduli pada mereka yang terpinggirkan”.

Membaca pesan Paus Fransiskus di atas mengingatkan kita pada pemikiran Jean Baudrillard yang menegaskan dalam teorinya ‘SIMULACRA’ .

“Kehidupan moderen adalah representasi dari dunia simulasi, dalam kebudayaan simulasi realitas faktual dan citraan berkelindan, bercampur- baur, dan saling menumpuk. Dunia simulasi merupakan dunia yang dibentuk oleh pelbagai hubungan tanda dan kode secara acak tanpa kejelasan referensi (acuan) “.

Menilik dari ‘SIMULACRA’ Jean Baudrillard, berarti benarlah apa yang disampaikan Paus Fransiskus. 

Dalam kehidupan ‘simulacra’ dewasa ini, siapa pun kita boleh jadi tidak bisa lagi membedakan secara kritis dan tegas mana yang ‘hoax’ (palsu), mana yang asli, mana yang ‘sampah’ dan mana yang murni. 

Media sosial (sebagai representasi kehidupan kita sekarang), pesan ‘hoax’ dan pesan murni tidak terbatas karena saling berbaur dan berkelindan membentuk citraan ( simulasi) yang lantas mengungguli kebenaran faktual, lantas yang muncul di sekeliling kita adalah hiperrealitas, yang seolah- olah benar, seolah- olah pandai, seolah- olah kaya, seolah- olah bisa memimpin, seolah- olah hebat dan seterusnya.

Paus Fransiskus menilik dari fakta- fakta ini. Paus membaca keadaan ini, berusaha agar seluruh umat manusia hidup dalam kepedulian.

Melalui Gereja- Gereja Indonesia (PGI) dan Konfrensi Waligereja Indonesia (KWI) yang difokuskan kepada persoalan,

“Salah satu persoalan yang masih sering menggangu kehidupan berbangsa dan bernegara kita adalah kekerasan yang bernuansa SARA”.

Semoga bisa menjadi perenungan bersama, hidup dalam kedamaian persaudaraan. (RR/KbN)

Sumber : Wikipedia, Facebook Benk Wahyu.

0 Comments

Leave a Comment

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password