breaking news New

Perempuan Dalam Lanskap Postmodern

“Every 3 (three) minutes, a woman is beaten. Every 5 (five) minutes, a woman is raped. And every 10 (ten) minutes, e lil girls is molested,” demikian Ntozake Shange dalam Unger and Crafor, 1992. 

Kekerasan selalu melingkari kehidupan perempuan. Kekerasan menggembos harkat dan martabat mereka. Kelahiran pascamodern menandai ekspresi tak ada titik pusat kebenaran. Kebenaran bukan lagi tunggal, melainkan jamak. Menolak hierarki dan merayakan perbedaan (celebrate the differ). Ada sebuah gerakan menolak kebenaran subjek. Semua orang bebas dan tak boleh dikekang. Konsep umum yang menonjol adalah tidak suka makna tunggal.

Dalam konsep seperti ini, manusia hidup pada kebenaran ganda. Kebenaran tidak punya tuan. Pengobjekan terhadap individu serentak mendewakan kekuasaan. Di balik kekuasaan, ada kekerasan. Sasarannya adalah perempuan. Di banyak kasus kekerasan terhadap perempuan, korbannya selalu dipersalahkan. Sedangkan pelakunya luput dari perhatian publik.

​Dalam biro periklanan, perempuan selalu dicari untuk menawarkan barang-barang yang menjadi pusat perhatian manusia. Iklan selalu digandengkan dengan perempuan. Perempuan dijadikan sebagai ‘umpan’ untuk menarik minat nitizen. Animo ini sudah melatah bahkan hampir merasuki kehidupan, namun hanya sedikit orang yang mampu melihat, ada apa di balik semuanya?

​Di balik gemerlapnya lanskap pascamodern, muncul pula kekurangan daya kritis dan selektif. Budaya tanya menjadi mandeg. Karena apa? Semua hal adalah benar. Kekerasan pun adalah benar. Pun pengobjekan terhadap individu adalah benar. Semua orang memburu laba dan keuntungan. Semua hal digunakan kalukulasi matematis, untung rugi. Di manakah kebahagiaan?

​Phytagoras, ”jika engkau ingin hidup senang, maka hendaklah engkau rela dianggap sebagai tidak berakal atau di anggap orang bodoh”. “Jangan sekali-kali percaya pada kasih sayang yang datang tiba-tiba, karena dia akan meninggalkanmu dengan tiba-tiba pula”. Jangan membanggakan apa yang kamu lakukan hari ini, sebab engkau tidak akan tahu apa yang akan di berikan oleh hari esok.

​Manusia postmodern, tidak lagi mengagungkan pengorbanan dan kerja keras. Kerja keras merupakan jalan panjang. Kalau, ada jalan sempit dan cepat, kenapa tidak menggunakan jalan itu. Jargon manusia yang selalu hidup bebas diletupkan ke permukaan pasar kehidupan.

​Perempuan pun hidup dalam gemerlap pasar. Pasar yang mencari keuntungan dengan menjadikan tubuh sebagai “alat” memburu laba. Bayangkan dalam iklan motor, selalu ditampilkan perempuan yang memakai rok mini. Kalau dikritisi, tidak ada hubungan dengan iklan motor dan perempuan yang memakai rok mini.

​Lantas, timbul pertanyaan baru? Ada apa di balik semuanya? Persoalan utamanya adalah “memburu laba dan uang”. Orang mengumpulkan laba sebesar-besarnya dengan menjadikan yang lain sebagai ‘alat’ menjual biro perusahaan. Pergolakan semacam ini menjadi sebuah panggilan humanisme. Manusia dipanggil melihat apa yang benar menurut hati nurani. Kebenaran utama adalah intuisi. Ini kebenaran yang ditawarkan dunia postmodern.

​Kebenaran tidak saja tergantung pada wahyu (tradisional), atau pada nalar (modern), tetapi juga pada intuisi (postmodern). Kebenaran itu soal apa kata hati nurani. Memang terlihat bahwa profil utama lanskap postmodern adalah kebenaran tidak punya titik pusat, tetapi menyodorkan kebenaran tunggal. Dan salah satunya adalah kebenaran intuisi. Kebenaran apa kata hati nurani.

​Kalau demikian, semua orang memiliki intuisi mengatakan apa yang menurut mereka benar. Kebenaran ini juga tanpa harus dilihat dalam konsensus sosial. Hanya saja ketika merunut lebih dalam. Ada sebuah paradoksal antara “memburu laba” dan “kebenaran intuisi”. Semua orang memiliki intuisi pribadi mengatakan bahwa kekerasan terhadap perempuan baik secara simbolik maupun secara personal merupakan malum in se, tetapi ketika itu digandengkan dengan kepentingan, menjadi pupus.

​Ramalan Habermas, manusia hidup tak luput dari aspek kepentingan diafirmasikan dalam konteks ini. Kepentingan justru menghilangkan daya intuisi manusia. Manusia tahu bahwa pengobjekan terhadap perempuan tidak baik, tetapi kepentingan perusahaan untuk meraup keuntungan lebih tinggi. Di sana, letak kehidupan mereka. Kalau seandainya perusahaan tidak menggandengkan perempuan, maka minta konsumen semakin kurang. Kembali ke soal tawar-menawar.

​Ada beberapa hal hemat saya yang perlu digarisbawahi. Pertama, perlu dicari garis lurus antara faktor kepentingan dan kebenaran intuisi. Kebenaran intuisi justru menempatkan faktor kepentingan pada level kedua. Hati nurani tahu bahwa perbuatan atau tindakan ini tidak baik. Ada unsur A atau B. Dengan demikian dicari garis lurus yaitu mana yang mendatangkan kebahagiaan.

Kedua, tidak semua hal menyenangkan mendatangkan kebahagiaan. Pandangan yang mencampurbaurkan kebahagiaan dan kesenangan justru mati di dalam dirinya. Kesenangan tidak selalu sampai pada titik kebahagiaan. Bisa saja orang menawarkan seks bebas, narkoba, prostitusi sebagai unsur kesenangan, tetapi belum tentu itu nantinya mendatangkan kebahagiaan.

Ketiga, kekerasan selalu melahirkan kekerasan. Kekerasan apa pun tidak mendatangkan kebaikan. Kekerasan selalu mendatangkan hal yang lebih keras. Konsekuensi logisnya adalah kekerasan mendatangkan kemelaratan.

Keempat, perempuan artinya hidup. Kata perempuan berasal dari kata bahasa melayu yaitu Empu yang artinya adalah hidup. Kekerasan sama sekali tidak memberikan kehidupan kepada mereka. Malah mematikan gerak hidup mereka. Perempuan tidak boleh dilihat hanya dalam tugas 3 ur (dapur, kasur dan sumur). Mereka perlu mendapat penghargaan sebagai sumber kehidupan. 

​Akhirnya, tak ada manusia yang lahir dari sejarah. Semua manusia lahir dari perempuan. Mengulangi lagi makna perempuan yaitu hidup. Semua orang berasal dari ‘yang hidup’, maka ada kehidupan. Jangan lagi kita mematikan pada apa yang hidup. Hanya dengan demikian kekerasan tidak lagi melekat dalam diri perempuan, melainkan kehidupan dan keharmonisan.

Oleh: Eugen Sardono, SMM, Mahasiswa Sekolah Tinggi Filsafat Widya Sasana Malang 

0 Comments

Leave a Comment

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password