breaking news New

Tahun 2017: Bagaimana Sikap Kaum Muda Menghadapi Kebudayaan

​​Kabarnusantara.net – Bagaimana sikap kita kaum muda? Pertanyaan yang selalu menggerogoti, mengakar sampai terlupakan dalam setiap kurun pergantian waktu.

Dalam waktu lebih dari setengah abad ini, komunikasi menjadi sangat cepat dan canggih artinya kita tidak akan pernah lagi bisa ‘merenung’ terlalu lama dalam menghadapi benturan, penyusupan, dan pengaruh kebudayaan lain. 

Pada hematnya kita tidak perlu khawatir terhadap kebudayaan mana pun. Pada zaman lampau, nenek moyang kita meminjam Gatotkaca dan menyulap tokoh dalam Mahabhrata itu menjadi idola kita; dan mengapa pula sekarang kita suka ragu- ragu menghadapi pengaruh Superman? Nenek moyang kita dulu menyerap begitu saja Sampek Ingtai dan Ali Baba, tentunya kita sekarang juga tidak usah ragu- ragu menghadapi fiksi dan film Barat. Tentu saja kita boleh bersikap negatif terhadap kebudayaan massa, tetapi kita harus mengakui bahwa kebudayaan daerah pun dapat kita kemas menjadi kebudayaan massa yang memiliki ciri- ciri yang sama dengan kebudayaan yang sejenis dari negeri mana pun. 

Dalam hal itulah nyatanya yang terjadi sekarang. Dalam keadaan semacam itu apakah kita akan mengembangkan kebudayaan elit saja, sedangkan kenyataannya dalam masyarakat telah tumbuh berbagai kebudayaan cita rasa? Jika ingin mengembangkan kebudayaan yang disebut ‘Indonesia’, kita justru harus bersikap terbuka, yakni menganggap kebudayaan apapun bisa kita jadikan sumber untuk mengembangkannya. Dan kita harus berani menyatakan dan mengakui bahwa sama sekali tidak bisa mengetahui dan menjamin seperti apa ujudnya nanti. 

Kita bahkan harus berani membayangkan bahwa mungkin saja kebudayaan yang kita kembangkan itu ternyata tidak hanya satu, sesuai dengan ciri kebhinekannya. Hanya saja kita perlu untuk mengingat, kita tidak boleh pasif, yakni hanya menunggu dan menerima segala sesuatu yang ditawarkan kepada kita tanpa keinginan dan kekuatan untuk menentukan pilihan. Kita harus senantiasa aktif: merampas, mencari, merebut, dan kalau perlu mencuri apa saja dari kebudayaan lain yang kita yakini bisa bermanfaat bagi pengembangan kebudayaan yang kita inginkan.

Terdengarkah itu olehmu, wahai angkatan baru?

Putuskan, hancurkan segala yang mengikat!

Rebut gelanggang lapang disinar terang!

Tolak segala lindungan!

Engkau raja zamanmu!

(Sultan Takdir Alisjhbana, Buah karet, 5 Mei 1944)

(RR/KbN)

0 Comments

Leave a Comment

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password