breaking news New

Mengakui NKRI, Mengakui Perbedaan

Oleh: Dominikus Siong*

Manusia adalah Mahkluk berpikir. Dengan berpikir manusia dapat mengerti dengan apa yang ada dan berada bersamanya. Berpikir lahir dari sikap sadar akan segala sesuatu yang ada, berada bersamanya. Jika manusia dikatakan mahkluk berpikir, maka ia dapat dikatakan manusia yang sadar akan eksistensi (keberadaan)-nya.

Dengan sadar manusia dapat bertanya tentang apa yang ia sadari, baik yang tampak maupun tidak tampak. Tanpa mengurangi arti dari kehadiran segala sesuatu, saya berpendapat bahwa kehadiran apa yang tampak dan ada itu membawa segala sesuatu yang tak tampak dari dalam dirinya. Kita manusia tidak akan pernah tuntas dalam mengerti dan memahami keseluruhan dari eksistensi atau keberadaan segala sesuatu, manusia sekali pun. Untuk menyikapi kerancuan antara yang tampak dan tidak tampak, manusia hanya dapat berkontak dengan apa yang tidak tampak itu dengan term “Kemungkinan”.

Kemungkinan merupakan suatu konsep atau ruang dari segala sesuatu di mana kita dapat bersikap berjaga-jaga atau waspada terhadapnya, sebab ia berpotensi menjadi apa saja.
Akhir-akhir ini kita dihadapkan dengan berita-berita yang sangat kompleks dan sulit diprediksi. Kenyataan ini terlihat dari beberapa berita yang mengangkat isu-isu keretakan bangsa, secara khusus di Indonesia. Berita yang cukup tenar adalah soal perbedaan. Apa persoalannya?

Perbedaan

Berbeda bukan berarti tidak sama, atau sama bukan berarti tidak berbeda. Kalimat ini agak paradoks, tetapi memang begitu kenyataanya. Persoalannya adalah kita sering melihat segala-sesuatu yang ‘ada-bersama’ dalam perbedaan tertentu, dengan satu kacamata yang berlatarbelakang budaya dan agama tertentu. Ini persoalan NKRI yang cukup serius. Untuk menyikapinya kita perlu tahu bedanya apa dan samanya di mana, lalu kemudian kita membuat persatuan.

Berbeda bukan berarti tidak sama. Yang dimaksudkan di sini adalah bahwa kenyataannya suku bangsa Indonesia itu berbeda. Dalam keadaan yang bersamaan mereka hidup berdampingan dan bahkan makan makanan yang sama yaitu NASI sebagai makanan substasialnya. Bedanya dalam hal apa? Pulau, itu salah satu perbedaanya. Beda pulau beda bahasa dan lingkungannya, lalu mengapakah mereka bisa bersatu hingga sampai pada saat ini? Dan mengapa ada percekcokan?

Adalah suatu hal yang wajar kalau interaksi awal antara satu orang dengan yang lain melahirkan percekcokan, karena itu merupakan proses untuk menentukan suatu tindakan sadar dan esensial. Bagaimana bisa bersatu kalau tanpa interaksi. Bagaimana bisa berinteraksi tanpa perjumpaan atau pertemuan. Yang terpenting adalah sadar dan mau bersatu.

Sama bukan berarti tidak beda. Justru dari perbedaan itulah tampak ciri khas keindonesiaan NKRI. Sekolah adalah sarana pendewasaan anak-anak bangsa. Oleh karena itu belajar kebudayaan Indonesia entah Jawa, Kalimantan, NTT, NTB, Sumatera dll, merupakan suatu hal yang sangat penting, selain untuk membina rasa persatuan dan kesatuan, juga yang paling penting adalah untuk membina rasa cinta akan NKRI yang sarat akan perbedaan.

Suku dan Bahasa

Tidak dapat dipungkiri bahwa NKRI memiliki ragam Suku Bangsa. Perbedaan Suku Bangsa menjadi warna tersendiri bagi warga Negara Indonesia. Lebih luas lagi bahwa perbedaan suku bangsa Indonesia menjadi warna yang lain yang membedakannya dengan bangsa non-Indonesia. Perbedaan yang ada melahirkan kekuatan yang sangat kokoh. Namun setiap realitas memiliki karakter tersendiri, tidak heran kalau dikombinasikan dengan suatu realitas yang berunsur lain akan terjadi benturan. Salah satu jembatan yang paling potensial untuk menyatukan perbedaan unsur-unsur tersebut adalah Komunikasi, Sosialisasi, Dialog dan akhirnya Pengertian terhadap perbedaannya yang ada.

Pancasila dan Persatuan

Pancasila bukanlah suatu Ideologi yang tanpa makna. Dia ada justru membuat NKRI bermakna dan berjaya sampai ke pelosok-pelosok desa Indonesia. Pancasila sudah tampak dalam wajah-wajah budaya setiap suku bangsa NKRI. Untuk itulah Pancasila ada yaitu menyatukan perbedaan dengan tujuan yang sama yaitu untuk membangun bangsa Indonesia yang Merdeka, Adil, Damai, Makmur, Sejahtera dan Bersatu. Kalau ada yang membuat suatu keributan yang kontra NKRI, itu pertanda bahwa ia sudah merasa bahwa ia sudah berjasa bagi Indonesia namun menuntut penghargaan.

Walaupun ada nada-nada sumbang yang berusaha melecehkan NKRI dan Pancasila tetapi tetap kita sadari bahwa kalau kaki orang yang menyangkal NKRI dan Pancasila masih berada di atas Bumi Indonesia itu tandanya logikanya impoten, sebab adakah orang Indonesia tinggal di Indonesia namun makanannya dikirim dari kayangan?

Mengaku NKRI, mengaku perbedaan. Mengaku perbedaan berarti mengaku persatuan dan akhirnya mengaku persatuan dan kesatuan NKRI menentang kontra Pancasila, sebab Pancasila adalah Jiwa Keindonesiaan NKRI. Aku Indonesia, maka aku cinta persatuan; Aku cinta persatuan, maka aku mengerti arti perbedaan.
Jadi perbedaan adalah sumber kekuatan NKRI yang dijiwai oleh Pancasila, Bhineka Tunggal Ika, dan Cinta.

*Penulis adalah Mahasiswa STF Widyasasana-Malang

0 Comments

Leave a Comment

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password