breaking news New

Orang yang Tinggal di Asrama Lebih Matang

 

“Di Formasi asrama, ada formator, ada formandi, dan ada formula. Inilah yang membedakan dari orang yang tinggal di luar asrama”

-Eugen Sardono, SMM-

 Pendidikan sebagai lahan intelek, kepribadian dan spiritual bertumbuh. Pertumbuhan itu mengarah pada proses formasi (pembentukan), bukan menjadi sempurna. Proses formasi menginkarnasi dalam proses pendidikan. Dalam sebuah Filosofi Cina, pernah bergumam demikian; ada seekor katak yang selalu mengeluarkan suara pada saat musim hujan, dan tak satu pun orang yang menghiraukannya. Namun sangat terbalik dengan seekor ayam yang berkokok pada pagi hari, banyak orang yang mendengarnya. Manusia tahu bahwa Matahari sudah mulai merekah. Dunia pendidikan melatih peserta didik untuk berbicara hal yang perlu. Orang tidak akan mendengar perkataan kita, apabila apa yang kita sampaikan hanya berada di permukaan, dan tidak dijadikan sebagai cetak biru untuk direfleksikan.

Apa itu formasi dalam pendidikan? Adakah sebuah formasi ditemukan di luar tubuh pendidikan. Formasi adalah proses membentuk, yang ditekankan di sini adalah manusia. Manusia dibentuk tidak saja di dalam lingkungan pendidikan, tetapi juga di mulai dari rumah, sebagai pendidikan pertama. Suatu yang menjadi hal umum, pendidikan itu mengarah ke formasi karakter. Formasi dalam pendidikan mengarah ke sebuah proses menjadi. Manusia bisa dikatakan dilahirkan kembali dalam “ranah pendidikan”. Ranah ini memulai suatu perubahan fundamental. Manusia berawal dari titik “zero” akan pengetahuan, kini dilahirkan kembali dalam sebuah formasi pendidikan. Maka di sini, ia berperan sebagai rahim kedua yang melahirkan manusia berintelek, berkepribadian. Manusia sungguh tahu berefleksi, merasa dan semakin mengerti artinya hidup. Manusia memahami bahwa ia ternyata lebih dari apa yang dia kenal. Ia bukannya benda mati yang selalu digerakkan tetapi dalam dirinya ada sebuah pendobrak, yang tidak lain karena dibuka cakrawala oleh pendidikan.

Sungguh fakultas otak tak bisa menangkap, kalau manusia tidak masuk dalam pendidikan atau pendidikan itu tidak ada. Maka ia ibarat katak yang ada dalam tempurung. Ia merasa besar dalam tempurung itu. Hanya jika ia mau ke luar dari lingkungan ketidaktahuan ke alam luas mencari kepastian. Jangkauan ratio pun sungguh dipertajam seiring perkembangannya. Manusia seolah-olah berenang di sebuah “sungai pengetahuan” yang membawanya semakin dalam. Di sana, ia belajar dan bisa mencari solusi dari setiap tantangan.

Formasi membentuk seorang menjadi manusia. Manusia berarti dia yang bisa menyadari, mengetahui dan menemukan ke dalam kepribadian dan dirinya. Formasi membentuk orang menjadi manusia. Orang itu adalah makhluk yang bisa berjalan, memiliki dua tangan, dan memiliki dua kaki. Tetapi lebih dari itu menjadi manusia adalah menjadi orang yang bisa berpikir. Menyadari diri bukan seperti meja atau bangku, tetapi kehadirannya sebagai sebuah proses aktif.

Pendidikan ibarat mesin yang bisa memancarkan, menggerakkan “motor tubuh manusia”. Dengan demikian pendidikan adalah ruah atau roh yang menggerakkan akal budi manusia untuk bertindak. Sungguh sesuatu yang menyedihkan kalau manusia itu tidak mengenyam pendidikan. Di zaman kita, pendidikan itu mendapat tempat pertama. Orang diakui keberadaanya, kalau ia berpendidikan. Kalau Rene Descarters mengatakan cogito ergo sum, maka senada orang bisa katakan educare ergo sum. Orang yang berpendidikan diakui keberadaanya, sebaliknya orang yang tidak berpendidikan tidak diakui keberadaanya.

Target utama dari formasi pendidikan adalah menciptakan manusia yang memiliki intelektual yang berkualitas, moral yang baik dan spiritual yang sungguh memuliakan. Kemuliaan sebuah pendidikan apabila karakter bangsa bisa diwujudkan dalam kehidupan nyata.

Yang ditekankan di sini adalah sekolah yang memiliki asrama. Ketika meneliti sekelompok mahasiswa yang berlatar belakang pernah mengenyam pendidikan di asrama, akan berbeda dengan mahasiswa yang tidak pernah tinggal di asrama. MB (Montfort’s Brothers) memiliki potensi besar menilai bahwa, asrama merupakan sebuah wadah yang baik bagi perkembangan daya nalar intelektual dan daya moral spiritual.

Penyusun: MB (Eugen, Arran, Arbi, Ustad, dan Greg)

4 Comments

Leave a Comment

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password