breaking news New

Teater Kuno Dionysus

Kabarnusantara.net – Pengetahuan tentang teater bisa dikaji melalui peninggalan arkeologi dan catatan-catatan sejarah pada zaman itu yang berasal dari lukisan dinding, dekorasi, artefak, dan hieroglif.

Dari peninggalan – peninggalan itu tergambar adegan perburuan, perubahan musim, siklus hidup, dan cerita tentang persembahan kepada para dewa.

Di Athena Yunani, keindahan dan kemegahan bangunan teater terbuka bisa Anda nikmati saat berkunjung ke Theater Dionysus yang lokasinya masih di satu kompleks bukit dengan Acropolis Athena. Tempat ini sangat penting bagi seni modern Eropa karena dianggap sebagai cikal bakal teater modern Eropa.

Sekitar tahun 600 SM, bangsa Yunani purba melangsungkan upacara-upacara agama, mengadakan festival tari dan nyanyi untuk menghormati dewa Dionysius yakni dewa anggur dan kesuburan. Kemudian mereka menyelenggarakan sayembara drama untuk menghormati dewa Dionysius itu.

Sayembara semacam itu diadakan pada tahun 534 SM di Athena. Pemenangnya yang pertamakali bernama Thespis, seorang aktor dan pengarang tragedi. Nama Thespis dilegendakan oleh bangsa Yunani, sehingga sampai sekarang orang menyebut aktor sebagai Thespian.

Selama berabad-abad selanjutnya, gedung teater ini mengalami pembangunan dan perkembangan. Yang tersisa saat ini sebagian besar merupakan peninggalan dari Zaman Romawi kuno. Para arkeolog telah mengidentifikasi adanya sembilan fase pembangunan yang berbeda.

Pada 330 tahun sebelum Masehi, bangku-bangku batu ditambahkan (sebagian di antaranya berasal dari kayu) dan membentuk undakan membentuk setengah lingkaran. Barisan pertama jajaran tempat duduk di arena diperuntukkan bagi kalangan bangsawan, dan masih terlihat peninggalannya hingga kini.

Relief yang terdapat di arena pun bisa kita lihat berasal dari beberapa generasi penguasa yang berbeda. Relief yang menggambarkan legenda Dionysus misalnya, merupakan peninggalan dari Zaman Romawi.

Dikisahkan, salah seorang Kaisar Romawi, Hadrian, memiliki tempat duduk khusus tiap kali berkunjung ke Theater Dionysus. Arena teater terbuka ini dibangun pada awal mula munculnya seni pertunjukan drama dan teater. 

Diperkirakan pertunjukan drama kali pertama dipersembahkan oleh Thepis sekitar 530 tahun sebelum Masehi. Sekte Dionysus kemudian membawa pertunjukkan drama tersebut ke Athena sekitar abad ke-6 sebelum Masehi.

Di zaman Yunani kuno, sekitar tahun 534 SM, terdapat tiga bentuk drama; tragedi (drama yang menggambarkan kejatuhan sang pahlawan, dikarenakan oleh nasib dan kehendak dewa, sehingga menimbulkan belas dan ngeri), komedi (drama yang mengejek atau menyindir orangorang yang berkuasa, tentang kesombongan dan kebodohan mereka), dan satyr (drama yang menggambarkan tindakan tragedi dan mengolok-olok nasib karakter tragedi).

Tokoh drama tragedi yang sangat terkenal adalah; Aeschylus (525 – 456 SM), Sophocles (496 – 406 SM),dan Euripides (480 – 406 SM). Dan tokoh drama komedi bernama; Aristophanes (446 – 386 SM). Beberapa dari karya mereka masih tersimpan hingga sekarang. Dan sudah diterjemahkan dalam bahasa Indonesia. Di antaranya; Prometheus Bound (Belenggu Prometheus) karya Aeschylus, Oedipus Rex, Oedipus Di Colonus, dan Antigone, karya Sophocles, terjemahan Rendra, Hippolytus karya Euripides, dan Lysistrata, karya Aristophanes, terjemahan Rendra. 

Drama-drama ini dibahas oleh Aristoteles dalam karyanya yang berjudul Poetic.ekitar tahun 600 SM, bangsa Yunani purba melangsungkan upacara-upacara agama, mengadakan festival tari dan nyanyi untuk menghormati dewa Dionysius yakni dewa anggur dan kesuburan. Kemudian mereka menyelenggarakan sayembara drama untuk menghormati dewa Dionysius itu. (RR/KbN)

0 Comments

Leave a Comment

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password