breaking news New

Tanah Adalah Surgaku

Oleh: Eugen Sardono, SMM*

Hidup ini seperti sedang berada di pesisir pantai, dengan muncul berbagai persoalan tak bertepi. Lihat saja, persoalan pembunuhan di Manggarai tentang tanah. Saya tidak ingin mengulas persoalan tersebut, tetapi saya hanya mau menggarisbawahi apa penting tanah bagi manusia. 

Pertama, tumbuhnya kesadaran baru bahwa tanah adalah rahim spiritual dan produk kebudayaan. Selama ini mungkin orang tidak sadar atau sadar, tetapi buta dalam melihat hal yang sesungguhnya. Kebutaan terjadi ketika mata dan hati disumbat oleh duit. Uang menguasai sisi hidup manusia. Mereka tidak sadar bahwa uang itu cepat habis, uang itu sementara, uang itu cepat lenyap. Lalu, bagaimana dengan tanah? Tanah ada sampai selama-lamanya. Kesadaran itu harus tumbuh lagi karena sudah hampir hilang bahkan mati. Masalah yang banyak terjadi yaitu orang menjadi pekerja di kebun sendiri, sesungguhnya karena mereka telah kehilangan kesadaran bahwa tanah itu adalah tanah mereka sendiri. Betapa mengerikan bukan? Orang menjadikan kita sebagi hamba atau budak di tanah kita sendiri.

Kedua, keberanian dan komitmen membela ibu. Banyak orang yang sadar tetapi tidak berani mengambil risiko. Manusia mau menjalani hidup dengan mendadak kaya, tidak perlu perjuangan. Maka ketika uang disodorkan, buta pula nurani mereka untuk menimbang mana yang baik dan buruk, bermanfaat dan tidak, menguntungkan dan merugikan. Orang mungkin sadar bahwa tanah itu adalah identitas keberadaannya, tetapi tidak berani dan mengambil risiko dengan hidup.

​Mereka telah mempersempit hidup dengan keegoisan diri. Tanah hanya untuk aku, tidak melihat bagaimana generasi berikutnya. Orang ingin berada di gunung dengan menggunakan pesawat atau helikopter, tetapi ketika pesawat itu dijual mereka harus turun berjalan kaki. Mereka tidak tahu bagaimana mendaki gunung sehingga bisa mencapai puncak, tetapi dipaksa harus turun. Ada kesulitan dan kewalahan di sini. Dan jalan keluarnya, orang langsung membuang diri karena sudah tidak sanggup lagi menurun gunung. Alhasil, hancur berantakkan. Karena orang tidak tahu dan tidak berpengalaman mendaki gunung, lalu tiba-tiba harus menurun. Ada sebuah shock culture berhadapan dengan realita demikian. Orang yang berhasil dengan berproses sudah tahu terang dan gelapnya hidup, sedangkan orang yang mendadak kaya mendadak juga miskin.

​Kiranya ada sebuah kesadaran dan komitmen yang jelas bahwa tanah itu merupakan sebuah status keberadaan manusia. Sebagai sebuah status, orang tidak bisa hidup tanpa ‘tanah’ karena itu menunjang keberadaan mereka. Konflik yang datang silih berganti, misalnya pertambangan tidaklah menjadi solusi menjual tanah. Sebagaimana suku Aborigin Australia melihat tanah sebagai tulang punggung, suku-suku di Manggarai harus memiliki mata yang sama dalam melihat tanah, tanah adalah tulang punggung. Kalau tulang punggung tidak ada, maka secara otomatis berlakulah semboyan, hidup enggan, mati juga tak mau. Tanah tidak saja memproduksi hal-hal biologis, misalnya makanan dan minuman, juga merupakan cetusan kebudayaan dan keberadaban. Desakralisasi terhadap tanah terjadi tat kala tanah tidak lagi dilihat sebagai ibu spiritual, tetapi sebagai objek untuk meraup keuntungan sebesar-besarnya. Ini tidaklah diinginkan.

​Kata seorang konsultan keungan Kenichi Ohamae, “pada sebuah peta politi, batas-batas antara negeri sudah sangat jelas. Akan tetapi dalam sebua peta kompetetif, sebuah peta yang menunjukkan aliran riil dari aktivitas keuangan, batas-batas ini hilang. Ekonomi tanpa batas.” Manggarai sangat disayangkan kalau tidak lagi memiliki pegangan. Ketika yang menjadi pegangan adalah uang, dan ego pribadi, maka terjadi seperti yang diungkapan Oahamae.

Dalam sebuah kutipan syair puisi yang dimuat di majalah floresa,

Flores

kupandang dari kejauhan

jauh nan luas

luasmu memeluk sang suria

merangkul senja di dalam bayangmu

 

lesu ingatanku, Flores

pulau Bunga

memikul raksasa dalam namamu

 

cintamu memadamkan cinta palsu

menyobek cinta kusut

 

bunga-bungamu

satu per satu gugur di musim panas kali ini

tak berkuncup seperti sediakala

 

kembang tak lagi mendekatimu

engkau sedang sakit

hampir sekarat

 

Puisi ini bisa menjadi sebuah tangisan pula bagi Manggarai, kenapa begitu banyak beban yang dipikul? Kembang tak mau lagi mendekati Manggarai, menunjukkan bahwa ada kehilangan kecemerlangan. Tanah-tanah yang indah sudah hancur. Kalau demikian, orang sedang merancang sebuah perang terhadap rahim (tanah Manggarai) yang sudah menghidupinya berabad-abad.

Catatan kritis ini memantikkan kepekaan reflektif, seitap orang Manggarai secara moral berkewajiban menjaga ‘ibu’ tanah. Kendatipun terlambat, tetapi masih ada kesempatan, mari kita bersama-sama menjaga tanah sebagai rahim yang menghidupi kita!

 *Penulis adalah Biarawan Asal Manggarai yang Tinggal di Malang

 

 

12 Comments

Leave a Comment

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password