breaking news New

“Istirahatlah Kata- Kata” Mengenal Wiji Thukul Sebagai Manusia

Kabarnusantara.net – Film Istirahatlah Kata-kata memboyong kisah dan sajak Wiji Thukul yang selama ini ada di buku tersebut ke medium visual.

Dari serangkaian kisah hidupnya yang dramatis, Yosep Anggi Noen, sebagai penulis naskah dan sutradara, memilih peristiwa pelarian Thukul dalam rentang waktu 1996-1998 sebagai latar cerita. 
Pilihan ini tentu saja beralasan, dan alasan itu dibeberkan dengan gamblang dari awal film lewat teks narasi yang ditayangkan di adegan pembuka.

Dalam teks itu disampaikan bagaimana Thukul menjadi seorang ‘menakutkan’ bagi pemerintah Soeharto yang mempelopori berdirinya Partai Rakyat Demokratik (PRD). Kerusuhan yang direkayasa pada insiden Juli 1996 lalu menempatkannya sebagai satu dari daftar orang yang diburu.

Dari pijakan narasi ini, Anggi kemudian menghantar penonton pada kisah pelariannya yang misterius dan terasing. Jalan sunyi yang mendominasi sepanjang film seolah menjadi penanda bahwa hingga kini pun kehadiran Wiji Thukul tidak pernah diketahui dengan jelas, apakah ia hilang atau dihilangkan. 

Anggi juga tak melepaskan imej Thukul sebagai penyair, malah mencoba menerjemahkan sosoknya ke layar dengan menjadikannya puitis, sunyi dan medium untuk berkontemplasi. Menikmati film ini juga kemudian tak jauh beda saat menikmati puisi dalam diam dan penuh tanda-tanda. 

Tanda-tanda itu menyebar di hampir setiap adegan, antara lain ekspresi kosong Thukul, kegelisahan Sipon, anak muda berseragam polisi yang tak waras, hingga pertanyaan akan kartu tanda penduduk. Semua menjadi tanda-tanda yang saling terkait satu sama lain. 

Di luar itu, Anggi menyelipkan sentuhan personal Thukul lewat perhatiannya yang besar untuk Sipon dan anak-anaknya, walaupan dalam masa pelarian. Sisi lain ini menjadi menarik karena jarang terungkap ke publik. 

Istirahatlah kata- kata 

Wiji Thukul menghilang. Polisi mencari dan memburunya hingga ke Solo. 

“Kapan bapakmu pulang?” seorang pria bertampang keras dan berjaket kulit menanyai perempuan dan anak kecil di hadapannya. 

Adegan berpindah ke satu pojokan kamar dengan latar seorang pria berambut keriting. 

Istirahatlah kata-kata/ Janganlah menyembur-nyembur / Orang-orang bisu. 

Tidurlah kata-kata / kita bangkit nanti / menghimpun tuntutan-tuntutan / yang miskin papa dan dihancurkan.

Untaian puisi karya Wiji Thukul itu lalu terdengar dibacakan, saat ia berada di sebuah kamar sempit di Pontianak, Kalimantan Barat. Ia berjarak ratusan kilometer dari rumahnya di Solo karena diburu polisi. 

Adegan itu lalu berseling lagi dengan gambaran intel yang menggeledah kamarnya di Solo. Ada nuansa tegang dan tekanan yang kental dalam adegan. Perempuan dan anak kecil itu kemudian diketahui adalah Sipon, istri Thukul dan Fitri Nganthi Wani, anak perempuannya. Selang-seling adegan Solo-Pontianak itu menjadi adegan pembuka dari film Istirahatlah Kata-kata.

Lalu, ada puisi Bunga dan Tembok yang dibawakan dengan musikalisasi emosional oleh Merah Bercerita yang berkolaborasi dengan Cholil. Merah Bercerita adalah nama panggung Fajar, putra Wiji Thukul yang memberikan kata-kata Thukul menjadi penuh makna dan kuat lewat penyampaiannya.

Seumpama bunga / Kami adalah bunga yang tak Kau hendaki tumbuh / Engkau lebih suka membangun rumah dan merampas tanah/

Seumpama bunga / Kami adalah bunga yang tak Kau kehendaki adanya / Engkau lebih suka membangun jalan raya dan pagar besi/ 

Interpretasi bukan imitasi

Ide film ini berawal ketika Anggi dikontak oleh aktivis hak asasi manusia Tunggal Pawestri, penulis Okky Madasari, dan produser Yulia Evina Bhara. Anggi sendiri mengaku tak terlalu mengenal sosok Wiji sebelum ia mengerjakan Istirahatlah Kata-Kata.

Untuk riset sendiri, ia terbang langsung ke Pontianak demi mendapatkan gambaran suasana. Sedangkan untuk pemahaman karakter Wiji, didapatkannya dari percakapan dengan keluarga.

Anggi menggabungkan karakter dua anak Wiji, Fitri Nganthi Wani dan Fajar Merah. “Fajar itu kalau ngobrol, tengil banget. Itulah Thukul. Sedangkan Fitri itu brilian. Tulisannya bagus, menggugah, pedih,” kata dia.

Namun, bukan berarti ia lantas menyetir para pemain yang terlibat. Ia menyerahkan sepenuhnya pada interpretasi masing-masing individu.

Mengenal Wiji sebagai manusia

Dalam film ini, tim produksi ingin mengenalkan sosok Wiji sebagai manusia. Periode 27 Juli 1996 ini menunjukkan sisi humanis, bukan aktivis yang banyak ditonjolkan selama ini.

Saat itu, ia baru saja ditetapkan sebagai buronan oleh rezim Soeharto. Demi keselamatannya, ia harus meninggalkan keluarga dan kampung halaman. Kesepian, ketakutan, dan jauhnya Wiji dari perjuangan menjadi fokus film.

Dalam pemutaran di berbagai festival film internasional pun, produser Yulia Evina Bhara mengatakan banyak yang jadi tertarik pada sosok Wiji.

“Mereka baru tahu ada sosok seperti itu di Indonesia,” kata Yulia.

Ia mengenang saat pemutaran di Busan, Korea Selatan, tahun lalu. Sekelompok mahasiswa Indonesia yang hadir juga bertanya pada tim produser. Ternyata mereka baru mengetahui sosok Wiji setelah selesai menonton.

Karena itulah, keberadaan film ini juga menjadi pengingat sejarah. “Kami anak-anak muda butuh berbagai kejelasan supaya tidak tersesat di hari-hari berikutnya sebagai bangsa,” kata Anggi.

Negara, lanjutnya, masih menanggung utang sejarah dan keadilan. Terkait nasib Wiji, maupun aktivis lain yang bernasib sama atau mati misterius.

“Film ini cuma inisiasi kecil, tidak memberi dampak terlalu luar biasa untuk hal-hal di luar jangkauan kita,” kata dia.

Melanie Subono, musisi yang juga merupakan aktivis buruh, mengatakan saat ini banyak kaum muda yang mengenakan kaos bergambar tokoh revolusioner luar negeri seperti Che Guevara.

“Harusnya mereka tahu ada tokoh seperti itu dari Indonesia,” kata Melanie yang juga memiliki peran di film Istirahatlah Kata-Kata.

Film Istirahatlah Kata-Kata antara lain dimainkan oleh  Gunawan Maryanto, Marissa Anita, Melanie Subono, Edward Boang, Dhafi Yunan, dan Joned Suryatmoko.(RR/KbN)

10 Comments

Leave a Comment

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password