breaking news New

Anatomi Kemiskinan

Oleh: Stenly Jemparut*

Bagaimana mungkin anda berbicara tentang kemiskinan sambil minum teh?. Sebuah pertanyaan yang memaksa siapapun yang mendengarnya harus mengkaji ulang apa yang telah ia bicarakan terkait kemiskinan. Itu sama saja kita mendiskusikan sebuah wilayah yang tertimpa kelaparan di sebuah meja makan restoran dengan menu berkelas. Tentu hal seperti  ini sah-sah saja, tidak ada kewajiban bagi seorang kaya untuk tidak serampangan menuduh yang miskin pemalas . Isu kemiskinan dalam setiap diskusi baik dari kaum intelektual, maupun mereka yang mengatasnamakan kepedulian  sering menarik minat orang-orang yang sok tahu dan sok konseptual untuk menyodorkan formula-formula canggih untuk mengatasi situasi “keterbatasan “ orang lain.

Sampai detik ini hanya para ekonom yang berhasil merumuskan arti kemiskinan secara kalkulatif, dan hebatnya dengan menggunakan analisis matetamatis yang sarat materialis para pengambil kebijakan  sering mengaku berhasil melakukan program pengentasan kemiskinan namun tidak benar-benar menyelesaikannya.

Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik persentasi penduduk miskin Indonesia semester satu,  tahun 2016 adalah 10,08 persen, jika dibandingkan dengan semester dua tahun 2015 adalah 11,13 persen. Itu berarti pemerintah pada tahun 2016 mampu menekan angka kemiskinan sebasar 1,5 persen. Namun jika indikator makro kemiskinan nasional ini kita bagi berdasarkan wilayah kota dan desa, maka dapat kita lihat bahwa tingkat kemiskinan desa pada tahun 2016 meningkat sebesar 0,02 persen. Indeks Ratio Ginie selama 6 tahun terakhir sejak 2011 tetap bertahan pada 0,41 persen. Dengan demikian sekalipun angka kemiskinan bisa ditekan, secara fundamental ekonomi menunjukan adanya kesenjangan yang tidak berubah selama 6 dekade. Kenaikan harga pangan pokok yang selalu terjadi setiap tahun. Tidak ada perbaikan pendapatan masyarakat desa , terutama petani secara signifikan. Saat petani hanya  menikmati  keuntungan 2  persen dari penjualan gabah kering panen, pedagang bisa meraup  keuntungan hingga sepuluh persen dari hasil penjualan beras.

Adanya asumsi pertumbuhan ekonomi yang mulai membaik, rupiah yang terapresiasi terhadap dollar, partisipasi masyarakat dalam membayar pajak  meningkat dengan adanya tax amnesty dan investor yang menanamkan modalnya di Indonesia, ternyata belum pernah cukup untuk menjawab persoalan kenapa seorang suami menjual istrinya untuk tidur dengan lelaki lain? Kenapa segelintir anak-anak masih melakoni profesi pengemis di taman-taman kota dan di pinggir jalan? Mengapa para rentenir masih leluasa memeras orang-orang yang tak bermodal, atau yang sering  kita saksikan  ibu-ibu yang sambil menggendong bayi duduk di gerbang gereja untuk meminta sedekah?. Dan mengapa orang muda kita selalu khawatir dengan masa depannya?. Pertanyaan besarnya adalah dimanakah kehadiran negara sebagai garansi kesejateraan umum? Atau jangan-jangan kita yang berkelimpahan justru dipanggil untuk berpartisipasi dalam membangun tatanan eknomi yang adil melampaui konsep sedekah yang juga sama tidak pernah menjawab persoalan kemiskinan?

Para ahli filsafat berusaha terus menerus untuk mendalaminya sebagai sebuah fenomena peradaban dari dinding-dinding universitas yang sering berakhir tanpa penyelesaian yang jelas. Dan seorang penulis yang hanya sekedar memodifikasi pemikirannya sambil mendengarkan music instrumental. Sementara seorang perempuan paruh baya menjajakan dagangan bersama tiga orang anak  tertidur di pinggir jalan dikrumuni lalat-lalat. Kita membicarakan hal yang sama namun bertahan pada realitas yang sama sekali tidak sama.

Membicarakan kemiskinan serumit apapun itu dan sedalam apapun kesimpulan yang bisa diperoleh tentunya tidak sama dengan realitas kemikinan itu sendiri. Tulisan ini tidak untuk mengklaim apapun hanya sekedar penyalur pendalaman realitas oleh seorang penulis dalam sebuah narasi kemiskinan. Jika anda sampai pada titik ini menganggap tulisan ini tidak menjelaskan apapun anda tidak berdosa untuk berhenti membacanya.

Michael Taylor seorang Teolog di Universitas Brimingham bergulat langsung dengan kemiskinan di beberapa belahan dunia. Pertemuannya dengan kaum papa di Afrika dan Afganistan menyadarkannya dari tidur panjang di Universitas dimana isu kemiskinan hanya dijadikan dongeng.

Kemiskinan yang Ia temui menjadi sebuah bentuk membiasanya penderitaan. Kondisi ini sangat sulit untuk disadari oleh mereka yang hidup di dalamnya. Dengan demikian apa yang tampak dari luar sebagai kondisi hidup yang mengerikan, oleh orang-orang yang berada di dalam, dilihat sebagai realitas hidup harian yang tidak menutup kemungkinan bagi berkembangnya rasa puas dan kesenangan.

Pembanding yang tidak seimbang. Dalam dunia modern tolok ukur kesadaran sering kali jatuh dalam limit perbandingan. Seorang desa yang tergolong miskin menyadari kemiskinannya ketika melihat apartemen mewah dan mobil lamborjini, hingga baginya kemiskinan adalah ketiadaan apartemen dan lambojini. Paradigma seperti ini bukan tidak mungkin mengabaikan realitas keakuan dimana eksistensi aku menjadi eksis apabila aku memiliki apartemen dan lambojini. Kesadaran akan peranan idea dalam kasus ini sangat diperlukan. Idea memang pada dasarnya sangat abstrak dan mengawang-ngawang, namun tapa idea tidak akan ada visi hidup, yang ada hanyalah misi dangkal yang bisa membuat siapapun putus asa dan kehilangan harapan.

Dengan mengabaikan masalah pilihan nilai-nilai orang dibawa masuk ke rasionalitas instrumental. Rasionalitas instrumental ditandai oleh dominasi sarana atas tujuan atau sarana menjadi dictator. Akibatnya, realism bisa berubah menjadi sikap yang bisa menghendaki apa saja. Tindakan rasional bisa direduksi menjadi hanya masalah penyesuaian tujuan dan sarana-sarana. (Haryatmoko, Etika Politik dan Kekuasaan, Hal. 118)

Penyalahgunaan kebebasan yang didasarkan oleh keinginan konsumtif akan keuntungan dan kehausan akan kekuasaan dengan memutlakan ide dan gagasan yang muncul dalam bentuk sekularisme, marxisme, kapitalisme yang sering dipakai menjadi senjata untuk menguasai yang lain menyebabkan ketimpangan dan disharmoni di dunia ini. Inilah salahsatu pemicu kemiskinan dunia.

Batasan ekonomi tentang kebutuhan primer, sekunder, dan tersier menjadi kabur. Pertimbangan ekonomis yang seharusnya rasional menjadi tidak rasional, yang utama menajadi tidak utama, dan yang tidak diperlukan menjadi diperlukan. Jika kemiskinan tidak seburuk apa yang kita saksikan, tanpa mengabaikan kekayaan budaya, spiritual, dan moral orang-orang yang mengalaminya, maka pernyataan seperti itu harus diungkap langsung oleh mereka yang mengalami penderitaan akibat kemiskinan. Nyatanya, mereka tidak pernah mempunyai pandangan semacam itu.(Michael Thailor hal.29).  

Menjadi Solider

Henri Nouwen seorang imam asal amerika serikat, dalam suatu refleksi pribadinya saat hidup bersama kaum papa di Bolivia menyatakan “Kata-kata saya datang dari tempat yang jauh dan tidak menjadi sabda yang memberika kehidupan. Saya sedang belajar bahwa saya berada di suatu dunia yang lain dan bahwa kata-kata  yang pada waktu dan tempat tertentu dapat membarui budi dan hati, pada waktu dan tempat yang lain mungkin menjadi membosankan dan mempunyai daya yang mematikan. Saya menjadi sadar bahwa ini adalah saat untuk mendengarkan, bukan untuk berbicara, bukan waktu untuk berprakarsa, tetapi untuk menunggu; bukan saat untuk menawarkan kepemimpinan tetapi saat untuk membiarkan pergi pikiran-pikiran yang lama dan yang yang disenangi dan menjadi miskin dalam roh. Karena kita bisa belajar dari kesalahan-kesalahan kita , saya juga dapat menggunakan pengalaman ini sebagai cara untuk mengingat bahwa sekarang adalah saat untuk diam”. (Graccias, hal 131-132).

Sebuah catatan harian yang menunjukan ketakberdayaan penulis ketika berhadapan langsung dengan situasi kemiskinan. Seorang akademisi yang dibungkam oleh realitas keterlibatannya, hingga harus bersikap rendah hati dihadapan kenyataan dimana dia merasa harus menjadi seorang murid yang kembali menjadi miskin untuk mengerti dan memahami betapa kompleksnya  kemiskinan itu.

Visi keberpihakan bukan hanya dalam tatanan wacana melainkan harus digeluti secara sungguh. Sikap solider berarti betul-betul menjadi bagian yang utuh dari kemiskinan. Dalam hal ini  justifikasi tanpa keterlibatan dalam medan pergerakan adalah bentuk kepalsuan intelektual dan menunjukan ketidaksanggupan akal untuk benar-benar bergelut dengan realitas.

*Penulis adalah Ketua Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) – Surabaya

0 Comments

Leave a Comment

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password