breaking news New

Desa dan Fantasi Pembangunan

Oleh: Yergo Arnaf*

Desa adalah salah satu komunitas lokal yang relevan, nyata, dan potensial kalau kita bicara soal membangun Indonesia. Kehendak hati berkarya bagi perubahan bangsa tak selamanya harus tampil dan berekesistensi di “panggung” nasional. Desa menjadi sarana yang baik untuk mempertemukan konsep-konsep pembangunan dengan keseharian realitas lewat praksis berkarya. Dalam desa, pertautan antara serangkaian fenomena kemasyarakatan dengan konsepsi pembangunan hidup berlimpah. Untuk hal ini, analisis menjadi urgen, kebangkitan kesadaran kritis dianggap perlu guna melihat desa sebagai sebuah sistem sosial sarat potensi, peluang, kekuatan, serta tantangannya. Segala bentuk kompleksitasnya.

Masyarakat Manggarai belakangan ini disuguhkan sederet peristiwa menarik tentang desa. Desember 2016 lalu, terjadi pelantikan kepala desa-kepala desa terpilih di wilayah Kabupaten Manggarai dan Manggarai Barat. Sementara di wilayah Kabupaten Manggarai Timur saat ini, ruang publik kembali larut dalam perbincangan kritis soal Pilkades. Februari 2017 mendatang, beberapa desa di Kabupaten Manggarai Timur akan menggelar pemilihan kepala desa (Pilkades), sebuah proyek demokrasi lokal di tingkat desa. Masyarakat desa akan memilih kepala desa dengan misi melaksanakan pembangunan desa sesuai ketentuan Undang-Undang yang berlaku.

Fenomena tersebut di atas sepintas terlihat sebagai sesuatu yang biasa saja. Dalam konteks Manggarai, masyarakat sudah biasa menelan pilkades sebagai perayaan demokrasi politik yang nyaris tanpa punya dampak signifikan terhadap pembangunan desa. Pilkades tak jarang lebih pada manifestasi rutinitas demokrasi setiap 5 (lima) tahun. Namun, bila ditilik secara dalam, terkandung sesuatu yang lebih esensial dari pada itu yakni memaknai kembali desa sebagai basis utama yang strategis dalam mengejar terwujudnya kesejahteraan rakyat dan kemajuan pembangunan bangsa. Di sini, niat dan motivasi populis adalah panglima. Bekerja demi kebaikan masyarakat dan perubahan bangsa menjadi tujuan. Sikap ini pertama-tama mesti tertanam pada diri para pemimpin desa. Meski terkadang bersifat minim dan nyaris terlupakan oleh pejabat desa itu sendiri. Bisa dibayangkan, bila desa-desa di seluruh Indonesia terus berkembang mendekati kesejahteraan, maka tentu berdampak pada pembangunan bangsa.

Sebagian besar orang masih terjebak dalam sikap pesimistik bila membuka wacana diskusi tentang desa. Problem infrastruktur, akses teknologi dan informasi, dan semacamnya adalah dasar kemunculan pesimisme tersebut. Mentalitas tersebut mendarat secara pasti ke dalam sistem berpikir terutama generasi muda zaman ini. Logika tersebut dapat diterima sebab salah satu persoalan utama di desa ialah infrastruktur. Tapi lagi-lagi berkarya di desa ialah soal pilihan.

Dari Desa Untuk Indonesia

Desa adalah tempat yang baik untuk berkarya. Gairah optimistik macam ini tak muncul tanpa analisis. Wilayah administratif dengan luas paling kecil dan ketersediaan sumber daya alam menjadi sangat mungkin pembangunan desa mampu bergerak ke arah yang optimal. Spirit berkarya ini mesti bertolak dari idealisme mutlak. Idealisme membangun bangsa dengan aplikasi pada ranah paling bawah secara sadar dan penuh totalitas. Berkarya dan berjuang untuk perubahan Indonesia membuat orientasi ke “Jakarta” tak harus selalu jadi obsesi dominan. Semua tempat di Indonesia ialah lahan subur mempresentasikan ragam ide maupun pemikiran bagi bangsa. Tak terkecuali di desa. Banyak orang berpikir, pasang badan untuk Indonesia harus “bertarung” di ibu kota. Bagi saya, pemikiran ini amat sempit. Bangun Indonesia dari desa, sejatinya adalah jalan keselamatan menuju Indonesia sejahtera.

Namun lebih jauh, apa itu pembangunan desa? Pembangunan desa adalah proses mempercepat perubahan sosial di desa dengan mengoptimalkan keseluruhan sumber daya yang dimiliki guna mencapai kesejahteraan hidup masyarakat desa. Yang pasti bahwa pembangunan desa tak harus bergantung sepenuhnya pada pemerintah desa apalagi pemerintah kabupaten. Aktivitas pembangunan dengan memposisikan pemerintah sebagai sektor dominan mesti dikubur dalam-dalam. Corak berpikir itu sudah selayaknya dibuang jauh. Otonomi daerah dewasa ini memberi kepastian mutlak bagi rakyat untuk bergerak aktif dalam roda pembangunan. Maka, masyarakat desa menjadi salah satu aktor strategis dalam membawa desa ke ranah perubahan. Tak cukup jadi penonton, apalagi apatis dan serba pasrah pasif.

Partisipasi masyarakat bisa digagas dalam ragam bentuk. Menjadi anggota Badan Permusyawaratan Desa (BPD), terlibat dalam perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi pembangunan di desa, memaksimalkan potensi-potensi desa yang berdampak pada pertumbuhan ekonomi masyarakat, pelestarian budaya, merawat lingkungan, mengkritisi kinerja pejabat desa, dan masih banyak lagi. Cita-cita ini diharapkan bertolak dari suatu kesadaran kritis kolektif berbagai komponen di desa.

Transformasi desa saat ini semakin mungkin diperjuangkan sebab didukung beberapa faktor. Pertama, Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang desa. Lahir dan berlakunya Undang-Undang Desa membuat desa-desa di seluruh Indonesia kini berpotensi ke arah desa yang lebih produktif dan berdaya. Idealisme yang melekat dalam produk hukum tersebut yakni kemandirian desa. Kemandirian desa berarti desa diberi kewenangan untuk mengatur serta merencanakan sendiri pembangunan desanya sesuai kebutuhan masyarakat setempat. Desentralisasi dan otonomi desa, pemberdayaan desa, kualitas pelayanan publik, kemandirian masyarakat, edukasi demokrasi, aktualisasi good governance di sektor desa adalah seperangkat nilai yang terpantul dari kedalaman substansi Undang-Undang tersebut. Peluang ini akan semakin menampakkan efektifitasnya manakala partisipasi masyarakat makin kuat.

Kedua, dana desa. Dana desa yang mengalir dari kantong pemerintah pusat ke rekening desa menjadi salah satu energi positif bagi terselenggaranya aksi pembangunan di desa, terutama sebagai modal untuk mengatasi kelangkaan infrastruktur, serta menjawab kebutuhan-kebutuhan masyarakat desa.

Namun peluang-peluang tersebut seringkali gagal paham. Terbentur sejumlah mentalitas destruktif. Efeknya menjurus pada progresivitas pembangunan desa. Pembangunan desa pun terkesan irasional, bergerak stagnan. Sumber daya manusia (SDM) pejabat desa dan masyarakat acapkali lahir sebagai suatu tantangan serius. Tak pelak tantangan tersebut menjadi semacam fenomena tersendiri dalam berdesa. Implementasi dana desa yang banyak dikorup pada beberapa desa di Manggarai adalah contoh aktual yang cukup memprihatinkan. Peristiwa tersebut mendeskripsikan secara transparan, pengelolaan dana desa yang tidak sesuai prosedur. Akibatnya dana-dana desa dikonsumsi demi kepentingan pribadi dan kelompok tertentu. Masyarakat teralienasi aspirasi maupun kebutuhannya. Situasi ini pun memperlihatkan pembangunan desa mengalami kemunduran signifikan.

Apatisme masyarakat dalam berdesa juga menjadi problem SDM yang nyata. Optimisme dan partisipasi masyarakat tergolong lemah. Bila penyakit SDM ini kian menggurita dalam ruang publik (desa), maka pembangunan desa tersebut akan tersendat. Mentalitas korup dan apatisme masyarakat dominan menjadi sebuah tantangan utama, manakala pembangunan desa mensyaratkan partisipatif, transparansi, dan sinergitas antar komponen menjadi sebuah keharusan mutlak.

Pembangunan SDM masyarakat dapat dicapai melalui ragam aksi edukatif. Diskusi dan pendidikan publik mengenai peran masyarakat dalam pembangunan desa, pelatihan soft skill, pendampingan masyarakat, transparansi dan akuntabilitas pengelolaan pembangunan desa dan sebagainya merupakan rangkaian solusi dalam menjawab persoalan SDM tersebut. Tujuannya semata-mata yakni terwujudnya profesionalisme dan akuntabilitas dalam membangun desa serta terciptanya masyarakat yang mandiri dan partisipatif. Berfantasi tentang pembangunan bangsa yang ideal bisa dimulai dan diterapkan dengan menyukseskan pembangunan desa.

*Penulis adalah mahasiswa Kebijakan Publik pada Program Pasca Sarjana Universitas Merdeka Malang dan aktif di Komunitas Diskusi Ngobrol Pintar (NgoPi) Manggarai-Malang

155 Comments

Leave a Comment

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password