breaking news New

Sekolah Agama ICRP;Posisi Syariat Islam di Era Transisi Demokrasi

Jakarta, Kabarnusantara.net –Indonesian Conference on Religion and Peace (ICRP) kembali mengadakan diskusi bulanan dalam konteks Sekolah Agama pada rabu (25/01) bertempat di Kantor ICRP, Cempaka Putih Barat. Diskusi kali ini diambil dari Disertasi saudara M Imdadun Rahmat dengan judul: “Posisi Syariat Islam di Era Transisi Demokrasi” dalam menyelesaikan gelar doktor di Universitas Indonesia. Bagi Rahmat, tema ini sangat relevan bagi bangsa Indonesia yang saat ini sedang mengalami gejolak terutama munculnya kelompok yang cenderung bertentangan dengan dasar negara dan konstitusi.

Secara singkat disertasi ini berisi perbandingan demokrasi Indonesia dengan Mesir. Fenomena demokratisasi Mesir pada tahun 2012, yang menumbangkan rezim Mubarak akhirnya tidak membuahkan hasil yang memuaskan. Adanya kepentingan berbagai kelompok menjadi penyebab gagalnya demokratisasi Mesir. Awalnya, kelompok-kelompok itu bersatu dalam menjatuhkan rezim Mubarak tetapi mereka tidak mencapai suatu kesepakatan bersama dalam menentukan ideologi bersama. Masing-masing mempertahankan ideologi kelompoknya. Pemilihan umum memang berhasil dilaksanakan namun tetap berakhir dengan referendum. Pemberlakuan syariat menjadi salah-satu problem di mana hal ini ditentang oleh kelompok nasionalis.

Sementara, Indonesia bagi Rahmat, proses penerimaan demokrasi di Indonesia cukup panjang. Puncaknya terjadi pada tahun 90-an, di mana kelompok-kelompok yang ingin mengubah dasar negara pada syariat Islam dapat diatasi. Kelompok-kelompok itu sudah lama bahkan sebelum kemerdekaan sehingga menuntut Piagam Jakarta diberlakukan lagi. Dalam kajian Rahmat, kelompok-kelompok itu dapat teratasi dengan berbagai faktor. Tokoh-tokoh nasionalis memberi peranan besar dalam menekan kelompok anti-konstitusi dan Pancasila seperti Gusdur dan Cak Nur. Artinya, kedua tokoh ini dapat mempengaruhi umat Islam sebagai agama mayoritas.

Dalam acara ini, hadir juga Ulil Abshar Abdala selaku ketua harian umum ICRP. Baginya keadaan bangsa Indonesia sekarang ini ditandai oleh polarisasi. Munculnya dua kelompok besar misalnya menjadi salah-satu indikator seperti kelompok kebhinekaan dan kelompok anti-kebhinekaan. Bagi Ulil, sosial media memberi peranan besar bagi situasi polarisasi itu. Orang dengan mudah menyebarkan berita tanpa mempertimbangkan lagi kebenaran dan bahkan dengan sengaja melakukan itu. Melihat situasi Mesir, Ulil berpandangan bahwa dalam banyak hal Mesir tetap lebih unggul daripada Indonesia sekalipun demoktratisasi tidak berjalan baik.

Namun di sisi lain, Indonesia telah matang dan menjadi negara demokrasi terbesar ketiga. Setidaknya tidak mengalami nasib seperti Mesir. Munculnya gerakan-gerakan keagamaan mesti diatasi dengan kehati-hatian. “Pergerakan-pergerakan mereka tetap menjadi ancaman namun tidak serta merta kita harus menghadapi mereka secara kasar karena justru menimbulkan konflik baru”, tegas Ulil. Acara inipun diakhiri dengan sesi tanya-jawab dengan peserta yang diwakili oleh berbagai kelompok baik suku maupun agama. (Melkior Sedek/KbN)

0 Comments

Leave a Comment

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password