breaking news New

Mengenal Moke Minuman “Penyihir” Khas Flores (Bagian 1)

Kabarnusantara.net – Moke adalah minuman khas dari pulau Flores (sejenis arak) yang terbuat dari tanaman siwalan (pohon lontar) dan enau. 

Minuman ini mempunyai banyak sebutan seperti sopi, dewe, dan moke. Tetapi nama yang paling familiar dan menjadi ciri khas dari Pulau Flores adalah Moke. Moke adalah simbol adat, persaudaraan dan pergaulan bagi masyarakat Flores.

Ketika dikatakan sebagai simbol adat, persaudaraan dan pergaulan, pengaruh Moke memang mempunyai peranan penting.

Dalam kegiatan/ ritual adat apapun orang- orang Flores selalu menempatkan Moke sebagai bagian dari kegiatan atau ritual tersebut. 

Sebut saja salah satu contoh ritual Tua Kalok . Ritual yang berasal dari Kabupaten Sikka (Talibura – Tanarawa) ini, adalah upacara adat untuk beramai-ramai meminum moke sebagai simbol pernyataan suatu kesepakatan. Upacara biasa dibuka oleh Tana Pu’an (kepala suku) Talibura dan Tanarawa.

Dalam upacara itu, berkumpullah 11 orang Tana Pu’an dan tokoh masyarakat setempat, juga orang muda. Sebotol moke dan gelas disiapkan di meja persis di depan tempat duduk mereka.

Tana Pu’an Talibura dan Tanarawa memimpin ritual doa dan sapaan adat dalam bahasa setempat yang memiliki arti mendalam. Setelah itu, gelas yang terisi moke diminum oleh masing- masing Tana Pu’an . Ritual ini dilakukan sebagai bentuk pengukuhan atas kebulatan tekad bersama- sama.

Moke merupakan minuman tradisional yang dibuat dari hasil penyulingan buah dan bunga pohon lontar maupun enau, proses pembuatannya masih tradisional yang diwariskan secara turun temurun dan masih dilakukan sampai sekarang. Pembuatan moke dilakukan di kebun-kebun masyarakat dengan menggunakan wadah-wadah tradisional seperti periuk tanah untuk memasaknya. 

Pembuatan moke memerlukan keuletan, kesabaran dan keahlian khusus untuk menghasilkan minuman yang berkualitas. Satu botol Moke butuh 5 jam, karena menunggu tetesan demi tetesan dari alat penyulingan yang menggunakan bamboo. Moke dengan kualitas terbaik sering disebut masyarakat dengan BM atau bakar menyala. Moke tersebut memiliki khasiat menyehatkan jika diminum secara rutin dan teratur dan kalau diminum berlebihan berefek memabukkan.

Pohon Lontar/ Enau

Perlakuan petani akan pohon lontar/ enau sedikit berbeda dengan pohon alami lain. Pada umumnya, petani membiarkan pohon enau (mike) dan lontar tumbuh dan berkembang secara alami di kebun lahan kering. 

Biasanya, mereka tidak memusnahkan saat pembersihan lahan siap tanam. Tanaman yang satu ini tidak ditebang. Hanya membersihkan sekitar pohon sekali dalam musim tanam. Tumbuhan ini dibiarkan hidup. Tidak ada upaya menaburi pupuk. Tiada usaha membudidayakan. Juga tidak ada perlakuan khusus walaupun memberikan banyak manfaat bagi tuan kebun. 

Binatang Musang menabur biji pohon enau, manusia menuai hasil setelah menjadi besar. Musang memakan buah pohon enau lantas bijinya dibiarkan jatuh ke tanah. Hewan inilah yang mengambil buahnya sebagai salah satu makanan. Buah dibawa pergi ke tempat-tempat yang aman buat makanan. Biji-biji enau dibiarkan jatuh ke tanah. Lama kemudian biji-biji itu tumbuh dan berkembang. 

Dengan demikian binatang Musang secara tidal sengaja seakan menabur biji enau ke tanah. Ada biji yang ditaburi di ladang atau di hutan belukar dekat kebun petani. Ketika biji itu bertumbuh menjadi besar maka manusia pada umumnya atau petani khususnya memanfaatkan bagian-bagian dari pohon enau. Tangkai buah kemudian diolah sebagai sumber penyadapan air Moke untuk diminum atau diolah menjadi gula.

Kini air Moke pun dapat digunakan sebagai salah satu bahan baku untuk fermentasi pembuatan pupuk dan pestisida nabati alami bagi tanaman kakao-coklat. Buah enau mengandung rasa gatal dapat dipakai sebagai obat menghalau hama tikus yang menyerang tanaman padi. 

Petani tradisional sangat menghargai pohon enau/ lontar. Sebab pengalaman bertani membuktikan sistem akar yang dalam mampu menaikan permukaan tanah hingga menjadi subur. Tanaman ini pun mempunyai fungsi menahan erosi saat tiba banjir pada musim hujan.

Oleh karena itu, pohon ini sama sekali tidak boleh diganggu oleh manusia. Usaha dan ancaman merusakan dari pihak-pihak luar selalu diawasi. Sebab ini adalah pengalaman leluhur yang diwariskan bagi anak cucu.(RR/KbN)

12 Comments

Leave a Comment

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password