breaking news New

Rekonstruksi Kredibilitas Terhadap Media Sebagai Pembentuk Persepsi Masyarakat

Oleh: Muh Sutri Mansyah*

Perkembangan teknologi yang begitu pesat dan membanjirnya informasi yang dikonsumsi oleh masyarakat dari berbagai lapisan kerap menimbulkan permasalahan. Salah satunya adalah pemberitaan yang dipublikasi oleh media online maupun media cetak yang patut untuk dipertanyakan sumber informasinya. Apakah informasi tersebut didapatkan dari stageholder atau narasumber secara langsung atau tidak? ataukah informasinya didapat dari pihak ketiga? Perlu dicatat, seorang jurnalis harus seobjektif mungkin. Objektif artinya berita yang dibuat selaras dengan kenyataan, tidak berat sebelah, bebas dari prasangka. Lawan objektif adalah subjektif , yaitu sikap yang diwarnai oleh prasangka pribadi (Kusumaningrat Hikmat, Kusumaningrat Purnama, Jurnalistik Teori & Praktik, 2012, Hal. 54). Tentunya seorang jurnalis memiliki kewajiban untuk melakukan verifikasi terhadap informasi yang diberitakan, karena jika informasi tersebut telah menjadi konsumsi para pembaca maka akan membangun paradigma tersendiri apalagi terhadap pembaca yang tidak memiliki daya kritis.

Dewasa ini, media seolah sebagai pengambil kebijakan karena kemudahannya untuk menyebarkan informasi sehingga akan lebih mudah untuk menggiring opini publik. Hal itu mungkin terjadi apabila dilakukan secara masif tanpa disertai dengan pengontrolan atau pengawasan dan pembatasan. Jika melihat secara historis, the founding fathers yakni Soekarno menyebutkan bahwa “pers adalah alat revolusi yang dapat menggiring opini publik, maka oleh karena itu wartawan harus memiliki kesadaran untuk membangkitkan kesadaran rakyat untuk melawan kekuatan-kekuatan kontra revolusioner pada saat itu”.

Ketika media mudah menggiring opini publik, hal itu dapat disalahgunakan karena kepentingan kalangan tertentu atau media yang ditunggangi oleh kepentingan sesaat. Maka dari itu netralitas dan objetivitas dari media patut untuk dipertanyakan sebagaimana tugas dari media untuk menginformasikan sesuai realitas yang sebenarnya tanpa dibumbui oleh kepentingan tertentu, jika merujuk pada Everette E.Dennis dan John C. Merril dalam buku yang berjudul Basic Issues In Mass Comunication (1984). Dennis mengajukan tesis bahwa objektivitas dalam jurnalisme adalah kondisi yang mungkin dicapai, menurut laku jurnalistik dari mulai pengumpulan sampai penulisan berita memiliki standar-standar objektifnya sendiri. Standar-standar objektif yang dimaksud misalnya seperti pemisahan antara fakta dengan opini, cover both sides, fairness, dan sebagainya. Namun Merril membantahnya, Profesor jurnalisme di Universitas Missouri ini, memiliki pandangan tersendiri bahwa objektivisme adalah hal yang tidak mungkin atau dengan kata lain, mustahil dari mulai seleksi isu yang diberitakan, pemilihan narasumber, penentuan kata sampai strategi penulisan berita adalah sebuah tindakan ideologis yang didasari subjektifitas wartawan dan media.

Dari pandangan para ahli tersebut terjadi dialetika tentang pandangan objetivitas jurnalisme. Namun dalam buku Dennis McQuails, McQuails’s Mass Communication Theory (2004), membagi objektivitas media ke dalam dua kriteria yakni faktualitas dan imparsialitas. Faktualitas bisa diwujudkan jika didukung oleh kebenaran (truth) dan relevansi (relevance), sedangkan imparsialitas hanya dapat ditegakkan jika didukung oleh keseimbangan (balance) dan netralitas (neutrality).

Dari pendapat para ahli tadi, penulis membenturkan dengan realitas yang terjadi pada dewasa ini. Penulis melihat bahwa akhir-akhir ini kita sering mendengar berita hoax atau palsu yang bertebaran baik media cetak maupun media online (namun yang lebih masif dilakukan pada media online) sehingga penyebaran berita hoax tersebut sulit dicegah. Pertempuran antara berita yang sesuai realitas dengan berita hoax atau palsu selalu terjadi. Penyebaran berita palsu sulit untuk dicegah disebabkan karena laju publikasi yang cepat. Hal ini sebenarnya kerapkali membingunkan para pembaca berita, sehingga tingkat kredibilitas atau kepercayaan masyarakat terhadap media semakin menurun. Hal ini jika dibiarkan berlarut-larut, suatu saat masyarakat pun tidak akan menggunakan media, bahkan dengan sendirinya media akan tenggelam dari kehidupan masyarakat tersebut. Di sisi lain, dengan menyebarkan berita hoax, media akan membunuh karakter seseorang. Hal itu jauh dari substansi pemberitaan.

Tentunya hal ini membuat para pembaca harus lebih berhati-hati dan selektif mencari informasi. Dilansir oleh baticmedia.com, bahwa dunia media di Indonesia dikuasai oleh media abal-abal, Hanya 25% media yang dikelola secara profesional. Menurut Ketua Komisi Pengaduan Masyarakat dan Penegakan Etik Dewan Pers, Imam Wahyudi menyebutkan bahwa sebanyak 43.300 media siber, hanya 211 perusahaan yang dikategorikan sebagai perusahaan pers profesional dan ditambah lagi dengan data Dewan Pers, seperti yang dikutip Tempo, sebanyak 75% dari dua ribuan media cetak di Indonesia belum berbadan hukum, produk jurnalistiknya tak memenuhi prinsip jurnalistik serta ditambah 567 media cetak yang dikategorikan media profesional. Dari pernyataan tersebut, penulis dapat mengambil kesimpulan bahwa media yang memberitakan berita hoax atau palsu lebih banyak bertebaran di media cetak maupun media online daripada berita yang sesuai dengan realitas yang terjadi, hal ini tentunya berpengaruh terhadap kredibiltas sebuah media. Media mengalami kemerosotan yang dahsyat disebabkan karena berita palsu tersebut yang masif. Oleh karena itu, perlu ada suatu formulasi tersendiri untuk membangun kembali kredilitas media. Sudah seharusnya dewan pers dan pemerintah lebih tegas untuk menangani permasalahan ini dan berani menindak media yang memberitakan berita palsu dengan pemberian sanksi administrasi yakni pembekuan atau pemberhentian terhadap media tersebut bahkan bila perlu sanksi pidana. Namun tidak hanya peran dari pemerintah dan dewan pers saja, dibutuhkan peran serta masyarakat untuk memantau dan melaporkan mengenai pelanggaran hukum yang dilakukan oleh media terkait pemberitaan. Sehingga penulis dan masyarakat umum tentunya memiliki harapan baru terhadap media yang memiliki kredibilitas kedepannya. Media maupun jurnalis sudah selayaknya kembali menjunjung tinggi kode etik jurnalistik sehingga dapat menghasilkan berita yang kredibel.

*Penulis adalah Mahasiswa S1 Fakultas Hukum Universitas Brawijaya

0 Comments

Leave a Comment

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password