breaking news New

Tour de Flores Akan Digelar Mei 2017, DPRD NTT Menilai Hasilnya Tidak Terukur

KUPANG, Kabarnusantara.net –Terkait rencana kembali digelarnya Tour de Flores 2017 pada Bulan Mei mendatang, Anggota DPRD Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) dari Partai Kebangkitan Bangsa, Yohanes Rumat dalam diskusi bersama Group Jurnalis NTT, Selasa 7/2/2017, menilai Tour de Flores sebagai ajang promosi wisata yang menghambur-hamburkan uang rakyat sementara hasilnya tidak terukur.

Dirinya sepakat ajang Tour de Flores (TdF), sebagai ajang promosi pariwisata dengan segala keunikannya.

“Tetapi pertanyaannya untuk berapa lama atau berapa tahun ajang ini berjalan. Target apa yang mau dicapai tiap tahun. Terukur atau tidak dampak kunjungan wisatawan setelah kegiatan tahun berjalan dan masih banyak pertanyaan yang menggelitik lainnya,” ujarnya.

Lebih lanjut Rumat mengatakan pertanyaan seperti ini muncul karena Sail NTT sampai saat ini tidak terukur hasilnya.

Ia setuju ajang TdF sebagai ajang promosi wisata dan itu bisa diterima. Tetapi, ujar Rumat, bukan dengan cara subsidi penuh kepada peserta TdF.

Menurutnya, masih banyak cara yang lebih elegan terkait promosi wisata, contoh memberi kesempatan kepada pelaku wisata lokal, para pemilik Travel Agen untuk menjual produk NTT dengan pola Bussiness to Bussiness.

“Artinya pelaku wisata pergi tahu sasaran dan pulang dia bawah sejumlah kontrak kerja sama dengan tour operator kapal pesiar atau tour operator travel agen dunia,” ujarnya.

Dan banyak contoh lain yg telah dilakukan pihaknya di Asita, tanpa melibatkan uang rakyat atau pemerintah.

Lasimnya, tamu atau wisatawan yang terlibat dalam ajang Tour de Flores yang harus mengeluarkan uang.

Peserta tour sendiri yang membayar segala macam kebutuhan selama tour, bukan disubsidi oleh rakyat melalui anggaran pemerintah dengan angka uang yang fantastis.

“Saya khawatir ada upaya pembohongan publik disini, apalagi pegiat dan pelaku pariwisata disini tidak ada yang dilibatkan, yang muncul hanya pemerintah dan konco konco seidenya,” terang Rumat.

Ia menduga ajang ini dijadikan kesempatan memalak uang rakyat secara fantastis, sementara hasil kegiatan tidak terukur.

Rumusan wisatawan itu, ujarnya, dia berpindah dari satu tempat ke tempat lain, ke daerah tujuan wisata untuk menikmati objek wisata. Karena itu, wisatawan wajib mengeluarkan uang untuk membiayai perjalanannya seperti hotel, meals, transportasi, biaya masuk objek, dan guide.

Yang terjadi dalam ajang Tour de Flores, rakyat melalui pemerintah memberi subsidi kepada tamu.

Artinya pelaku pariwisata di NTT dengan susah payah mendatangkan wisatawan melalui travel agent dalam bentuk devisa, sedangkan pemerintah dengan senang hati membocorkan devisa ke peserta Tour de Flores.

Sebelumnya, dirinya berhasil mendatangkan kapal pesiar di Larantuka 3/2/2017, dan banyak kapal pesiar lainnya.

Para wisatawan juga diajak bersepeda keliling Flores, tetapi tidak ada yang digratiskan, semua membayar.

“Dalam mengembangkan bisnis wisata, tidak ada uang rakyat atau pemerintah memberi subsidi kepada semua tamu. Malah tamu itu yang bayar ke para pelaku wisata,” tandas Wakil Ketua DPD Asita NTT itu. (Alfan Manah/KbN)

0 Comments

Leave a Comment

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password