breaking news New

INDECON Galakan Percepatan Pengembangan Pariwisata dan Ekonomi Lokal Melalui Kewirausahaan Kreatif di Flores

RUTENG, Kabarnusantara.net –Indonesia Ecotourism Network (INDECON) sedang menggalakkan program CREATED (Creative Enterpreneurship for Accelerating Tourism and Local Economic Development) atau program Percepatan Pengembangan Pariwisata dan Ekonomi Lokal melalui Kewirausahaan Kreatif di Flores, Provinsi Nusa Tenggara Timur.

Demikian disampaikan Direktur Yayasan INDECON Indonesia, Ary S. Suhandi kepada wartawan di sela-sela pertemuan Para Pihak di Kantor Bupati Manggarai, di Ruteng, Selasa, 7/2/2017.

Dikatakan Suhandi, Flores merupakan prioritas nasional untuk pengembangan pariwisata karena memiliki kekayaan keanekaragaman hayati dan elemen geologi yang penting dan tonggak sejarah serta budayanya yang beragam.

Dan program Created, ujar Suhandi merupakan kelanjutan dari program sebelumnya yang didanai Uni Eropa yaitu Infest (Innovative Indigenous Flores Ecotourism for Sustainable Trade).

“Kami selama 3 tahun menjalankan program Infest dari 2013 hingga 2016 untuk mendorong pengembangan desa-desa wisata di koridor pariwisata Flores. Di Manggarai, kami mendampingi komunitas masyarakat adat Wae Rebo, Desa Satar Lenda,” ujarnya.

Lebih lanjut dikatakannya, Program Created akan dilaksanakan di tiga kawasan yaitu di kawasan Mbeliling Kabupaten Manggarai Barat, Kawasan Ruteng di Kabupaten Manggarai dan Kawasan Inerie di Kabupaten Ngada,” ujarnya.

Program ini, ujar Ary Suhandi, berupaya mendukung pemerintah daerah dan masyarakat dalam rangka menyelaraskan sektor pariwisata dan sektor penunjangnya melalui pengembangan wirausaha kreatif berbasis pangan dan kerajinan.

Di Wae Rebo, yayasan yang dipimpinnya itu melalui program Infest telah melakukan pendidikan pariwisata, promosi, pengembangan produk lokal, branding produk, pembuatan kaos Wae Rebo, pengembangan kopi Wae Rebo, Madu Lebah Ruang Wae Rebo, tenun khas Songke Manggarai, serta membangun jejaring dengan kampung-kampung adat di Flores bagian barat dan tengah.

Kunjungan wisatawan ke Wae Rebo pun meningkat hingga 5090 kunjungan di tahun 2016.

“Secara keseluruhan sejak tahun 2003 tingkat kunjungan ke Wae Rebo sudah mencapai 20.000 pengunjung baik domestik maupun mancanegara,” ujarnya.

Pihaknya juga membangun jaringan desa adat yang memiliki keunikan untuk saling belajar mempertahankan keaslian dan budayanya.

“Kami mengembangkan pariwisata dengan konsep penyelarasan dengan ekonomi lokal melalui kewirausahaan kreatif dengan melibatkan lembaga pengembangan pariwisata di kampung-kampung seperti Lembaga Pelestarian Budaya Wae Rebo, Riang Tana Tiwa, Lembaga Ekowisata Tado, Cunca Wulang, Tololela, Malanage dan Forum Pariwisata Jerebu’u,” tuturnya.

Ia juga menjelaskan empat komponen utama program ini yaitu menciptakan nilai tambah bagi produk-produk masyarakat desa dengan meningkatkan kualitas dan jenisnya untuk industri pariwisata, meningkatkan kewirausahaan organisasi pariwisata lokal dan masyarakat setempat, mengembangkan jaringan bisnis dan pemasaran produk masyarakat untuk industri pariwisata, dan meningkatkan kapasitas dan mempromosikan dialog dalam pengembangan ekonomi lokal dalam kerangka mengintegrasikan pengembangan pariwisata antar daerah. (Alfan Manah/KbN)

0 Comments

Leave a Comment

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password