breaking news New

Kejutan dan Gelombang Elektabilitas

Pemilihan gubernur DKI Jakarta selalu memberikan kejutan gelombang elektabilitas pasangan calon. 

Hal ini pula yang menyedot publik tidak hanya para pemilik hak suara di Jakarta tetapi mata publik republik ini.

Selain itu Jakarta sebagai etalase dan barometer perpolitikan nasional juga menjadi alasan tersendiri tersedotnya perhatian publik dan seluruh media mainstream. 

Menarik untuk mengintip bagaimana suguhan kejutan dan gelombang elektabilitas pasangan calon gubernur dan wakil gubernur DKI Jakarta.

Berdasarkan survei yang dilakukan Kompas periode Desember 2017 menujukan bahwa pasangan Agus-Sylvi menempati posisi pertama dengan persentase 37,1%. Pasangan Ahok-Djarot 33,0% dan pasangan Anis-Sandy 19,5%. Belum menentukan pilihan sebesar 10,4%. 

Pada periode 24 Januari – 4 Februari 2017, Kompas kembali melakukan survei dengan sample 804 responden. Hasilnya adalah Ahok-Djarot menempati posisi nomor wahid dengan persentase 36,2%, Anis- Sandy 28,5% dan Agus-Sylvi 28,2%. Sedangkan tidak menentukan pilihan menurun menjadi 7,3%. 

Saya melihat bahwa elektabilitas pasangan calon Pilgub DKI Jakarta mengalami kelenturan yang luar biasa.

Hal ini tentu tergambar bagaimana lenturnya elektabilitas pasangan calon. Misalnya Agus-Sylvi pada Desember 2016 berada pada posisi pertama, namun kondisi tersebut tidak bertahan lama dan bertengger pada posisi buntut ketika dilakukan survei pada periode Januari-Februari 2017.

Kondisi yang sebaliknya terjadi pada pasangan Ahok-Djarot dan Anis- Sandy. Dua pasangan tersebut mengalami gelombang naik elektabilitas.

Misalnya saja Ahok-Djarot mengalami kenaikan elektabilitas dari 33,0% menjadi 36,2%. Sedangkan Anis-Sandy dari 19,6% menjadi 28,5%. 

Perubahan dukungan publik terhadap pasangan calon tentu dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti adanya program dari pasangan lain yang dinilai lebih baik. Selain itu juga pemilih melihat bahwa adanya program yang rasional dan masuk akal. 

Maka tidak heran kita melihat bahwa gelombang elektabilitas selalu terjadi pasca dilakukan debat kandidat.

Dengan demikian, saya melihat bahwa preferensi politik pemilih urban selalu bersandar pada track record serta program strategis apa yang hendak ditawarkan. Hal tersebut menurut saya yang mampu menyedot simpati pemilih DKI Jakarta. 

Pada debat yang ketiga merupakan momentum penting bagi ketiga kandidat untuk menunjukan kepada publik bahwa mereka layak untuk dipilih memimpin DKI Jakarta lima tahun kedpepan.

Setiap pasangan calon tentu harus memberikan impresi yang berbeda dan baru. Misalnya ada program yang memang baru dan belum pernah diimpleementasikan atau diusulkan olah pasangan calon lain. Katakanlah tiket kereta api gratis bagi penduduk DKI Jakarta, bis gratis bagi pemilik KTP DKI Jakarta serta program praktis yang lainya.

Program praktis tersebut saya yakin bisa memberikan amunisi elektabilitas pasangan calon.

Jika tidak ada hal yang ditawarkan oleh setiap pasangan calon, maka gambaran elektabilitas yang ada sekarang menjadi gambaram akhir pilkada DKI Jakarta 15 Februari 2017 nanti.

Oleh: Wempy Hadir

(Direktur Komunikasi INDOPOLLING NETWORK

137 Comments

Leave a Comment

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password