breaking news New

TPDI: Agus-Sylvi Melecehkan Profesi Satpol PP Di Muka Umum

Jakarta,Kabarnusantara.net-Tim Pembela Demokrasi Indonesia (TPDI) menyayangkan penampilan pasangan calon Gubernur DKI Jakarta nomor urut 1 Agus-Sylvi dan nomor urut 3 Anies-Sandi dalam debat ketiga atau terakhir.

Pasalnya, materi yang disampaikan oleh Agus-Sylvi dan Anies-Sandi sangat monoton, hanya mengulang-ulang materi penilaian mereka pada debat-debat sebelumnya, baik ketika menjawab pertanyaan maupun menanggapi pertanyaan paslon nomor 2 Ahok-Djarot. 

“Pasangan 1 dan 3 juga lebih banyak mengkritik pasangan calon nomor urut 2 Ahok-Djarot, tanpa memberikan gambaran tentang program mereka yang memberi solusi untuk memperbaikan berbagai persoalan Jakarta yang belum tuntas dikerjakan incumbent,” ujar Koordinator TPDI, Petrus Selestinus, di Jakarta, Minggu (12/2/2017)

Dengan demikian, kata Petrus, debat ketiga ini hanya menjadi milik paslon no. 2 Ahok-Djarot. Menurutnya, publik benar-benar menikmati paparan keberhasilan pembangunan dan program-program yang sudah dan akan dilanjutkan oleh pasangan Ahok-Djarot bila terpilih kembali.

Sementara pasangan Agus-Sylvi dan Anies Sandi, kata Petrus, hanya berputar-putar mengulang-ulang materi jawaban yang sudah disampaikan pada debat-debat sebelumnya, bahkan tidak tuntas menjawab apa yang ditanyakan dan apa yang mau ditanggapi.

“Penampilan Agus-Sylvi dan Anies-Sandi dalam debat pertama hingga debat terakhir, sangat tidak berkelas untuk menampilkan sosok calon pemimpin yang lebih baik dari Ahok-Djarot, mereka telah menampilkan sosok yang tidak siap dan tidak kompeten untuk memimpin Jakarta dengan beban sosial yang sangat tinggi dan kompleks,” ungkapnya. 

Menurut Petrus, dalam debat ketiga itu nampak sangat jelas paslon no. 1 dan no. 3 tidak menggunakan secara maksimal panggung debat untuk mengadu program, melainkan hanya mengkritisi kekurangan paslon Ahok-Djarot yang sesungguhnya berbeda dengan penilaian publik yang mayoritas menyatakan puas atas kinerja incumbent.

“Ketidaksiapan untuk menghadapi debat atau menghadapi debat terakhir tanpa persiapan dan miskin data, membuktikan bahwa pada debat ketiga paslon no. 1 dan no. 3 sudah kehabisan strategi, kehabisan informasi bahkan kehabisan semangat untuk sukses di tanggal 15 Februari 2017,” kata Petrus. 

Buktinya, jelas Petrus, debat selama 2 jam paslon 1 dan 3 tidak menampilkan sesuatu yang baru, sesuatu yang memukau yang dapat memperbaiki penampilan buruk mereka pada debat pertama dan kedua.

Lucunya lagi, kata Petrus, pernyataan Sylviana Murni seakan-akan menepuk air di dulang terpercik muka sendiri, karena mengkritisi perangai Satpol PP yang menakutkan. Padahal penampilan Satpol PP yang demikian itu adalah produk dari kepemimpinan Gubernur sebelumnya dimana Sylviana merupakan birokrat Eksekutif bahkan jadi Walikota yang ikut membentuk karakter perangai menakutkan itu. 

“Lebih celakanya lagi Agus-Sylvi ketika dimintai tanggapan tentang peran satpol PP dalam bidang penertiban non yustisial terhadap warga karena Sylvi pernah menjabat Plt. Satpol PP, namun Sylvi selain tidak menjawab tuntas soal pertanyaan paslon no. 3 malahan mengeluarkan pernyataan mendiskreditkan peran Satpol PP dan menyatakan Satpol PP sebagai sosok yang menakutkan karena sering berperilaku kasar terhadap Pedagang Kaki Lima dan masyarakat yang melanggar ketertiban umum,” jelas Petrus.

Padahal, lanjut Petrus, Sylvi seharusnya tahu bahwa karakter Satpol PP yang keras bahkan kasar itu adalah program binaan Sylvi yang sudah puluhan tahun di Pemda DKI Jakarta. ***(KbN)

0 Comments

Leave a Comment

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password