breaking news New

Sajak Untuk Negeri

Oleh: Effendy Marut OFM*

Kidung Damai 

Aku pernah menitipkan asa pada negeri ini

akan damai yang saban petang menemaniku mengakhiri hari

Serupa dongeng yang selalu setia bersama malam yang hendak berakhir

Asaku tak pernah mau pergi sebelum aku terlelap dalam diam di ujung hidupku

juga ketika aku diam saat ini,

semoga saja asaku masih ingin terus menyanyikan kidung damai itu

“damai, damai negeriku. Tuhan mengintaimu, bersamamu, menemanimu”

Dan kita mesti selalu tahu, Tuhan itu damai, bukan sebaliknya

* * * *

Dalam sebuah Gubuk

Aku pernah punya fantasi,

Kau mengirimkan lentera emas ke gubukku

Aku pun mengirimkan tawa syukurku pada tatapan mesra-Mu. 

Dan Kau terharu, pikirku.

Lalu perlahan aku mengintai maksud-Mu mengirimku lentera, 

selain untuk menerangi ruang gubukku yang hampir roboh ini

meski Kau sudah selalu memberiku rambu ‘tuk menjumpai-Mu

Dari dalam bilik gubuk aku menitipkan kidung pada petang,

di mana Kau selalu meyapaku dengan ramah

Juga ketika aku tengah lelah setelah seharian menjumpai waktu yang selalu gaduh

Dan lagi aku hanya punya tawa syukur yang kupelihara saban waktu

Untuk ‘kuhadiahkan bagi-Mu Sang Terangku

* * * *

Indonesia

Indonesia,

Ia yang pagi-pagi bersamaku bernyanyi tentang Tuhan

Yang mengajakku lebih merdu berdendang

Dan lebih tenang menenun nada

Lebih senang dan riang
Ia yang di siang hari menemaniku berteduh

Yang memanggilku dengan ramah

Juga ketika aku sedang letih menahan gerah

Ia menasihatiku untuk tak perlu resah

Apalagi gelisah

Ia pula yang di ujung malam memberiku kenangan yang benderang

Serupa lentera yang dititipkan Tuhan padaku

Untuk tidak mewariskan gelap sebagai kenangan

Tetapi terang yang bisa buat kita senang dan selalu riang

Juga tatkala damai sedang terusik

Seperti saat ini

*Effendy Marut OFM, Mahasiswa Semester VIII Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, Jakarta

1 Comment

Leave a Comment

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password