breaking news New

Demokrasi (Bukan Democrazy) dan Pilkada DKI Jakarta

Sudah beberapa bulan ini salah satu isu krusial yang menyedot perhatian publik adalah pilkada DKI Jakarta. Dalam kompetisi putaran kedua tersisa dua pasangan calon Gubernur dan Wakil Gubernur. Mereka adalah Basuki Tjahaja Purnama-Djarot Siful Hidayat dan Anies Baswedan-Sandiaga Uno.

Kompetisi merupakan bagian vital dalam kehidupan manusia. Manusia hadir dan hidup dengan yang lain. Kerinduan akan persatuan dan kesatuan bisa diwujudkan melalui kompetisi. Bahkan ada daerah atau suku yang membudayakan kompetisi.

Adalah bukan hal baru bagi orang dari Suku Rendu (nama sebuah Suku di Timur) ketika berbicara tentang pertarungan. Mereka memiliki khazanah budaya yang mahakaya. Salah satu pesta budaya yang tersohor adalah Budaya Etu. Budaya Etu merupakan warisan leluhur yang diwariskan kepada generasi penerus; bagaimana menciptakan seni dalam pertarungan tinju.

Menarik bahwa dalam budaya ini dilegalkan dan disakralkan pertarungan tinju. Permainan tinju dilakonlan oleh dua orang. Demi kelancaran permainan, satu orang menjadi wasit. Di samping itu, ada salah satu pendukung untuk memegang pinggang sang petinju agar ia tidak jatuh dan melakukan hal ‘kriminal’. Sportivitas sangat disanjung dalam permainan adat tersebut.

Pertarungan tinju ini tidak dilakukan di ‘Ring’ seperti yang kita sering saksikan atau dipertontonkan di TV atau ikuti secara langsung di arena tinju. Pertarungan ini dilakukan dalam suatu lingkaran dengan batas yang telah ditentukan. Setiap pemain tidak boleh melewati batas yang telah ditentukan. Dalam pertarungan, nilai persaudaraan dan tali persahabatan tetap menjadi nilai yang melampau pertarungan.

Tidak lagi mengikuti pola, survival of the fittest. Konteks dalam budaya tersebut, yang berhak menang adalah seorang yang bermain dengan fair. Yang ‘fit’ bukanlah suatu keniscayaan memenangkan pertandingan. Yang ‘fit’ untuk survival tak jarang menelan kekalahan karena tak mampu mengontrol emosi dan mengendalikan hati.

Mari kita bayangkan tradisi budaya tersebut dalam konteks demokrasi Indoneneia akhir-akhir ini. Salah satu konsepnya, demokrasi tak mengandung unsur SARA. Isu SARA inilah yang mencedrai demokrasi Indonesia, khususnya yang kita saksikan sendiri di Jakarta. Demokrasi akan terpelesit menjadi democrazy jika unsur sara pekat dengan situasi masyarakat Jakarta. Sebaliknya, yang diharapkan adalah budaya sportivitas yakni sebuah “khazanah berpolitik” yang sehat.

Nilai-Nilai Budaya Etu

Setidaknya ada beberapa nilai fundamental budaya Etu bagi manusia yang hidup di zaman ini.

Pertama, nilai persaudaraan. Persaingan tidak mereduksi apalagi menafikan persaudaraan. Kompetisi adalah hal wajar. Konsekuensi logisnya, kekalahan pun diterima dengan hati lapang, dengan suatu kesadaran bahwa tidak semua petinju wajib menang. Inilah sikap yang ditampilkan Agus Yudhoyono dalam menerima fakta kegagalannya dalam putaran pertama.

Kedua, keperkasaan. Dalam persaingan ditunjukkan keperkasaan. Setiap petinju berikatpinggangkan keberanian, berbajuzirahkan kasih, dan berketopongkan kedamaian. Kerendahan hati menerima kekalahan merupakan salah satu bentuk keperkasaan yang terhormat. Sebaliknya, rasa tinggi hati tat kala menang dan mengganggap yang lain rendah adalah bukan suatu keperkasaan.

Ketiga, mengikuti semua prosedur pertarungan. Pertarungan yang baik adalah pertarungan selain mengejar ‘prestasi’ juga ‘prestise’. Adalah suatu kesalahan ketika prestasi diperoleh dengan ketidakjujuran, kecongkakan, dan kelobaan. Maka, kekalahan juga merupakan sebuah prestise ketika orang sudah bermain dengan mengikuti prosedur yang jelas dan telah disepekati bersama.

Pilkada DKI Jakarta

Pentas menjelang Pilkada DKI jakarta, semua pasangan calon Gubernur dan Wakil Gubernur siap berkompetesi (untuk membedakan dari persaingan bebas, persaingan culas). Setiap pasangan calon akan bersaing dengan diusung oleh partai pendukung.

Seperti pertandingan budaya Etu, setiap calon harus didukung oleh orang lain. Dalam Pilkada DKI, rupanya selain persaingan antara dua pasangan calon, kedua pendukungnya juga adalah orang-orang yang sebelumnya pernah bersaing. Pasangan Ahok-Siful didukung oleh Megawati (PDIP), Anies-Uno didukung oleh Prabowo (Partai Gerindra).

Kedua pasangan calon sudah sangat populer di mata populis. Keduanya masing-masing memili kans menduduki kursi kepemimpinan. Kiranya mereka pun bisa berkompetisi dengan persaingan yang sempurna, pukulan yang tepat, dan kharakter yang terlatih.

Belajar pada Budaya Etu

Belajar pada hal yang baik adalah kebijaksanaan. Permainan Tinju ini menjadi momen bagi kedua pasangan calon dalam kontestasi Pilkada DKI. Dalam konteks Pilkada, permainan tidak harus melibatkan fisik, tetapi strategi dan prosedur perlu ditata dan dipersiapkan.

Pertama, berdialog. Dialog adalah pertukaran ide antara dua individu atau lebih. Sebelum bertanding, seorang petinju tadi meminta doa dan dukungan dari tua-tua adat. Bersamaan dengan itu, sebelum pasangan calon dipilih, perlu mendengarkan dan berdialog dengan masyarakat. Kampanye yang baik bukan produksi kata-kata, tetapi bagaimana kata-kata itu bisa dilahirkan menjadi tindakan. Itulah kampanye dialog.

Kedua, sportivitas. Hidup ini adalah sanda gurau dan main-main. Menjadi pemenang itu kadang memabukan. Menjadi pemenang berarti menjadi orang yang berada di atas puncak. Menjadi orang yang dieluk-eluk oleh orang lain. Itu wajar. Namanya pemenang, berhak menerima pujian dan salaman. Akan tetapi, menjadi tidak wajar jika pemenang melewati tahap yang tidak baik dan jujur. Menjadi pemenang yang jujur lebih besar suka citanya daripada pemenang curang. Pemenang jujur adalah pemenang yang ikut pertandingan dengan suatu nilai yang menjujung tinggi moralitas dan kedamaian.

Ketiga, misi kemanusiaan. Seorang pemain yang baik membawa misi kemanusiaan. Misi kemanusiaan adalah memberi kebebasan kepada orang lain. Ketika orang menciptakan budaya takut, bukan kebebasan di sana sedang terjadi dehumanisasi.

Kiranya pertarungan antara kedua calon ini menjadi sebuah pertarungan budaya. Pertarungan budaya berarti pertarungan hidup dan kebaikan. Budaya tidak pernah menciptakan orang untuk memusuhi sesama, melainkan melihat sesama sebagai aku yang lain. Di antara dua pasangan calon pasti ada yang kalah. Dan satu keluar sebagai pemenang. Harapanya, bertarunglah dengan senjata yang baik, perkataan yang sehat, dan tindakan yang mulia.

Editor: Eugen Sardono

 

0 Comments

Leave a Comment

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password