breaking news New

Jalan Terjal Putaran Kedua

Jakarta, Kabarnusantara.net – Pemilihan Gubernur DKI Jakarta putaran kedua akan digelar pada 19 April 2017. Berdasarkan hasil hitung cepat KPU DKI Jakarta diapstikan pasangan nomor urut dua Ahok-Djarot dan pasangan nomor urut 3 Anis-Sandi yang akan masuk pada putaran kedua.

Hal ini sesuai dengan perolehan suara pasangan nomor urut 2 sebesar 42,91% atau 2.357.587 suara. Sedangkan pasangan nomor urut 3 memperoleh 39,97% atau 2.193.636 suara. Untuk pasangan nomor urut satu hanya memperoleh 17,07% atau sebesar 936.609 suara. Dengan demikian pasangan nomor urut satu tidak bisa melanjutkan ke putaran kedua.

Putaran Kedua

Putaran kedua menjadi sengit karena kedua pasangan ini memiliki selisih suara yang boleh dikatakan tidak terlalu jauh intervalnya. Namun bukan berarti mudah untuk dikalahkan. Setiap pasangan tentu mempunyai potensi yang terbuka lebar untuk memenangkan hati rakyat Jakarta pada 19 April nanti.

Pertanyaan penting bagi publik hari ini adalah siapa yang akan menang? Pertanyaan ini menjadi teka-teki yang terus menggelinding di setiap telinga publik Jakarta.

Bagi saya, pada putaran kedua nanti sangat ditentukan oleh beberapa hal.

Pertama adalah sejauh mana partai pengusung mampu melakukan konsolidasi hingga ke akar rumput.

Mesin partai harus lebih kencang lagi melakukan konsolidasi untuk memastikan bahwa kader partai siap setiap saat untuk melakukan kerja-kerja politik untuk memenangkan calonnya masing-masing.

Apalagi saya melihat kedua calon tersebut memiliki kader partai yang sangat militan. Misalnya di pasangan nomor urut 2 ada PDI Perjuangan yang kita sudah kenal memiliki militansi kader yang luar biasa.

Mereka selalu siap memenangkan calonnya pada setiap kontestasi di DKI Jakarta.

Pada pasangan nomor urut 3 ada PKS (Partai Keadilan Sejahtera). Partai ini juga memiliki militansi yang tidak jauh berbeda dengan PDI Perjuangan. Itulah modal yang dimiliki oleh kedua pasangan tersebut.

Kekuatan tersebut mesti dikapitalisasi sehingga mampu menggaet hati pemilih. Jika tidak, maka sangat susah untuk menambah dukungan suara pada masing-masing calon. Selain itu, tentu ada pengaruh partai pengusung yang lainnya yang tidak bisa dianggap sebelah mata.

Kedua, penajaman kembali visi dan misi para calon sehingga publik bisa menangkap pesan yang disampaikan. Jika visi dan misi masih mengambang dan menimbulkan perdebatan dan kontradiksi seperti yang terjadi pada pasangan Anis-Sandi dengan program 0 % down payment (DP) rumah.

Program ini telah menimbulkan perdebatan di dalam masyarakat. Ada masyarakat yang masih bingung dengan program tersebut.

Pasangan ini perlu mengklarifikasi kepada publik secara jelas jika tidak ingin ditinggalkan oleh pemilih loyalnya maupun yang masih mengambang terutama pemilih dari pasangan nomor urut satu.

Sedangkan untuk pasangan Ahok-Djarot perlu menjelaskan secara rinci apa yang sudah dilakukan dan bagaimana menyelesaikan beberapa pekerjaan rumah kedepan.

Dengan demikian, publik memiliki preferensi yang jelas dalam menentukan pilihan pada putaran kedua nanti.

Ketiga, perlu mengaktifkan kembali mesin eksternal partai atau relawan yang bisa membantu dari rumah ke rumah (door to door) untuk meyakinkan pemilih Jakarta untuk memilih calon yang diusung.

Temu pemilih secara langsung sangat efektif untuk mendapatkan suara pemilih dan dalam beberapa riset persepsi menunjukan bahwa rakyat lebih suka temu secara langsung baik dengan calon maupun tim pasangan calon.

Pada sisi yang lain, tidak bisa diabaikan peran tokoh agama seperti NU dan Muhammadyah.

Siapa yang mampu melakukan komunikasi politik yang baik dengan kedua ormas Islam terbesar di Indonesia itu, maka bisa menambah electoral di puataran kedua.

Apalagi misalnya, wakilnya Ahok yakni Djarot yang merupakan warga NU Jawa Timur. Sentimen komunitas bisa menambah tingkat elektabilitas pasangan nomor urut 2. Demikian pasangan nomor 3 bisa melakukan hal yang sama.

Selain itu, amunisi terakhir bagi kedua pasangan calon Gubernur dan Wakil gubernur DKI Jakarta adalah momentum debat terakhir yang katanya akan dilaksanakan sekali sebelum pilkada putaran kedua.

Saya kira, ini ibarat perjamuan terakhir bagi setiap calon untuk memberikan suguhan yang terbaik, sehingga tidak hanya sekedar terkesan namun mampu memberikan dukungan lewat suara yang diberikan saat 19 April nanti.

Akhirnya, kita tidak perlu lagi bertanya siapa yang menang, namun siapa yang bekerja keras meyakinkan rakyat Jakarta menuju 19 April nanti.

Pasangan Ahok-Djarot sudah ada bukti dan tinggal melanjutkan beberapa program yang mereka siapkan. Sedangkan pasangan Anis-Sandi harus mampu memberikan harapan yang bisa menyedot hati pemilih Jakarta.

Wempy Hadir
Direktur Komunikasi INDOPOLLING NETWORK

0 Comments

Leave a Comment

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password