breaking news New

Senator NTT : Politisasi Sara Sebagai Tindakan Pengecut

Ruteng, Kabarnusantara.net – Anggota Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia (DPD RI) dari Propinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) Adrianus Garu menilai tindakan mempolitisasi isu Suku, Agama, dan Ras (Sara) yang terjadi dalam 4-5 bulan terakhir adalah tindakan pengecut.

Hanya untuk meraih kekuasaan atau memenangkan Pilkada, isu Sara sengaja diangkat untuk memecahbelah masyarakat.

“Kalau mau bertarung harus ‘gentleman’. Harus bertarung mengenai program, visi dan misi. Bukan memainkan isu Sara. Itu pengecut namanya,” kata Andre, sapaan akrab Adrianus dalam keterangan pers yang diterima kabarnusantara.net, Senin (27/2).

Sebelumnya, Andre telah mengatakan hal itu dalam Rapat Dengat Pendapat (RDP) dengan masyarakat di kota Ruteng, kabupaten Manggarai, NTT, Rabu (15/2) lalu. Dia meminta semua pihak mengentikan praktik-praktik kotor tersebut.

Andre setuju dengan Presiden Joko Widodo (Jokowi) agar menghentikan cara-cara seperti itu. Para elit politik harus menjaga keberagaman bangsa, menghormati satu sama lain dan tidak menjual isu Sara.

“Keberagaman itu sudah sebuah keniscayaan. Sebuah fakta bangsa ini yang tidak bisa diabaikan. Kita ini terdiri atas berbagai suku, agama, rasa dan latar belakang. Jangan diadudomba dengan isu Sara,” ujar Andre yang menjadi anggota Komite IV DPD bidang keuangan, APBN dan Perbankan ini.

Sebagaimana diketahui, pekan lalu, pada acara pengukuhan pengurus Partai Hanura, Presiden Jokowi mengemukakan dalam 4-5 bulan terakhir, terjadi politisasi Sara yang sangat tajam, kasar dan membelah masyarakat. Akibat politisasi Sara tersebut melahirkan saling hujat, caci-maki, umpatan, sumpah serapah dalam Sosial Media (Sosmed). Dia meminta semua pihak untuk menghentikan praktik-praktik tersebut dan fokus membangun bangsa dalam keberagaman.

Menurut Andre, ajakan Presiden Jokowi sangat tepat dan menjadi tantangan bagi para politisi. Obrolan dalam Sosmed menjadi tidak terkendali, memprovokasi dan melahirkan agitasi-agitasi yang tidak berdasar. Kampanye-kampanye Sara menjadi tontonan publik yang medegradasi yang lain yang tidak sepaham.

“Politisi harus punya inovasi, kreasi dan program-program unggulan yang harus dijual jika ingin terpilih, bukan menjual isu agama. Menjual isu Sara sama saja tidak mengakui adanya keberagaman yang dimiliki bangsa ini,” tutur politisi Partai Hanura ini.

Dia menambahkan bangsa ini sudah didirikan oleh para pendahulu dengan susah payah. Mereka mengorbankan jiwa dan raga untuk kemerdekaan dan kelahiran bangsa ini. Para pendiri juga sepakat bahwa bangsa Indonesia adalah bangsa yang terdiri atas berbagai latar belakang seperti Sara. Itulah yang termuat dalam Pancasila.

“Harus malu dengan pendahulu kita. Mereka dulu berjuang tanpa membeda-bedakan. Malah kita yang hidup enak-enak ingin menghancurkan bangsa ini. Jangan memaksakan kehendak pada orang lain,” tutup Andre. (MM/Hip/KbN)

0 Comments

Leave a Comment

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password