breaking news New

Syaf Atasoge: Semangat Pramuka Adalah Semangat Menghidupkan Pancasila

Adonara, kabarnusantara.net – Anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI asal NTT Syafrudin Atasoge,M.Pd mengajak kepada seluruh komponen yang tergabung dalam Dewan Kerja Ranting (DKR) Pramuka di Pulau Adonara untuk menghidupkan semangat pancasila dalam bingkai semangat pramuka di setiap aktifitas. Seruan ini di sampaikan oleh Atasoge ketika menggelar Sosialisasi Empat Konsensus Kebangssan atau Empat Pilar Kehidupan Berbangsa dan Bernegara di Waiwerang 20 Februari 2017 silam.

“Sebagai generasi muda, kita tidak lagi ingat betapa perdebatan para pendiri bangsa ini mengenai pancasila adalah serangkaian diskusi filosofis yang intens dan penuh gelora intelektual,” katanya.

Lebih jauh Atasoge menjelaskan bahwa lahirnya pancasila berhubungan erat dengan indonesia sebagai suatu imajinasi sosial yang menghadirkan gambaran tentang suatu situasi yang ingin dituju.

“Gambaran tujuan itulah yang memberi arah dan orientasi bagi institusi sosial dan pranata politik serta melahirkan budaya. Semua itu merupakan hasil dari proses bersejarah yang dilakukan dengan menengok kebelakang dan mencandra ke depan yang berujung pada nasionalisme Indonesia,” Urai Syafrudin yang merupakan mantan Pengurus PBHMI dua periode itu.

Politisi muda asal pulau Adonara ini menggambarkan bahwa Indonesia adalah hasil kesadaran yang di ekspresikan dalam sebuah sumpah pemuda yakni untuk bersatu menjadi negara-bangsa yang lepas dari cengkraman kemelaratan akibat penjajah menuju kesejahteraan yang hanya dapat di wujudkan jika bangsa indonesia bernaung dalam negara yang merdeka dan berdaulat.

Sementara itu pengamat politik Universitas Muhammadiyah Kupang Dr.H.Ahmad Atang dalam kesempatan itu menjelaskan bahwa ada kesadaran yang tumbuh di tengah masyarakat yang menjadikan Pancasila sebagai titik temu yakni menjembantani perbedaan dan menjadi orienstasi dalam melangkah bersama ke masa depan.

“Sila Ketuhanan Yang Maha Esa mengakui keberagaman bangsa Indonesia tanpa terjebak menjadi teokrasi yang mengacu pada agama tertentu. Secara sederhana kita bisa realitas bahwa agama mayoritas memberi tempat yang sama kepada agama yang lain sehingga tidak mendominasi rumusan cetak biru bangsa Indonesia,” jelas Atang.

“Pancasila tidak boleh sekedar menjadi dasar negara yang beku, tetapi menjadi hidup dan relevan karena selalu didiskusikan dalam kehidupan sehari-hari. Pancasila tidak semata-mata menjadi domain negara yang karenanya rakyat tidak peduli, tetapi berada di ranah publlik dalam sebuah ruang bersama dan di rawat bersama-sama untuk menjadi acuan solusi bagi berbagai permaslahan kebangsaan kita,” papar Ahmad Atang yang juga merupakan presidium KAHMI NTT ini. (Hipatios/KbN)

0 Comments

Leave a Comment

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password