breaking news New

Urgensi Berfilsafat Sehari-Hari Bagi Kaula Muda Masa Kini

Aku bertanya, Maka aku ada

Tidak terasa sekarang sudah tahun 2017, semua historis kehidupan pun tercatat dalam tahun-tahun yang telah lewat. Berapa pertanyaan yang telah kita jawab dan berapa pertanyaan yang telah kita ajukan baik terhadap sesama manusia maupun terhadap fenomena-fenomena yang terjadi setiap saat?

Kehadiran segala sesuatu merupakan presentasi dari apa yang membuatnya berada demikian. Tidak mungkin adanya sesuatu tanpa penyebab utamanya. Itulah tugas manusia yang berakal budi untuk terus menerus menelusuri dan menjawab “dunia lautan tanya” ini. Ada banyak pertanyaan yang sebetulnya selalu eksis, dalam perjalanan kita setiap hari, pertanyaan itu seakan-akan tidak ada artinya dan bahkan tertutup oleh kesibukan-kesibukan yang membuat kita tidak lagi tahu, pertanyaan apa yang perlu saya jawab hari ini? Bertanya bukan karena kita tidak berpengetahuan, tetapi sebagai ekspresi sekaligus respon positif terhadap kejadian dan aktualisasi dari suatu hal yang melatarinya. Kalau kita tidak memiliki sifat heran, kita akan sulit menjalani hidup yang kompleks ini.

Kalimat “aku bertanya, maka aku ada” bukan berarti menyimpulkan bahwa orang yang tidak bertanya berarti “TIDAK ADA”, tetapi hanya mau menegaskan bahwa sifat esensial manusia idealnya adalah selalu bertanya. Sebagai orang muda kita perlu terus bertanya baik terhadap fenomena yang berwujud ajakan dari orang lain, tawaran-tawaran, dan iklan-iklan, maupun ideologi-ideologi terselubung yang menunggangi Lembaga Kemasyarakatan dan atau Organisasi masyarakat tertentu. Ini menjadi penting agar kita tidak tertipu oleh orang yang justru tidak berpendidikan. Kesulitannya adalah membedakan kebenaran yang objekstif dengan kebenaran yang subyektif dan relatif. Untuk itu kita setidaknya belajar dari guru tertulis yaitu buku. Membaca teks adalah awal dari pengetahuan dan darinyalah kita dapat bertanya dan menanya-i sesuatu. Realitas adalah teks kompleks. Itulah yang perlu kita baca.

Berfilsafat bukanlah berteori yang mengawan, apalagi dikatakan “omong kosong”, sekali lagi bukan itu, melainkan menyenter realitas lain di balik realitas yang tampak. Realitas itu tidak hanya berupa barang, tetapi juga Ideologi. Bila kita membaca berita-berita yang memuat isu-isu tertentu di Negara kita kini, tentu kita akan melihat bagaimana secara jelas bahwa politik kita sedang dilanda oleh ideologi yang bertentang dengan NKRI. Kita hanya punya Ideologi Pancasila, tetapi perlu kita sadari bahwa di dalamnya mengandung ideologi barat salah satunya Kapitalisme, manifestasinya adalah kontrasnya jurang Kaya-Miskin; Kotor-Bersih; Berpangkat-Tidak berpangkat dll..

Filsafat Orang Timur (Keindonesiaan)

Dalam peradabannya, manusia timur hingga saat ini belum menemukan awal dari berfilsafatnya, khususnya dalam konteks Indonesia. Kecuali China, India dll. Apakah yang menyebabkan semuanya itu? Apakah benar demikian? Apa arti adanya Keindonesiaan?

Bila kita mau menatap fenomena budaya dengan sabar yang ada di daerah kita; di Kampung atau desa kita masing-masing, dengan sangat jelas kita akan menemukan suatu habitus atau kebiasaan yang melekat pada budaya tertentu khususnya dalam kebudayaan masyarakat Indonesia. Itu terbaca lewat aktivitas kebudayaan setempat. Misalnya, melakukan penghormatan terhadap pohon atau kayu, batu dan unsur-unsur alam lainnya. Aktivitas tersebut memiliki dimensi manusiawi dan membentuk pola kehidupan mereka masing-masing. Dimensi manusiawinya dapat kita baca lewat cara mereka berelasi, bekerja dan berada bersama yang lain, contohnya orang Bali: Mereka sangat menghormati Pohon-pohon keramat dan meyakini bahwa di baliknya terdapat “realitas lain” yang menghuni dan berada di sana. Kearifan tersebut membentuk pola dan sikap yang ramah lingkungan, sehingga terjadilah suatu harmonisasi antara alam dan manusia serta mahkluk hidup yang ada di sana. Andaikan kita, Manusia Indonesia memiliki kesadaran ini tentu kita tidak hanya sekedar hidup tetapi sedang berfilsafat lokal dan kontekstual.

Kearifan Lokal dalam Konteks Modernisme

Tidak dapat dipungkiri bahwa dunia kita sedang dilanda Globalisasi dan berpengaruh kepada kebudayaan yang ada. Indonesia hampir kehilangan wajahnya, mengapa? Karena dipengaruhi oleh berbagai Ideologi dunia (Barat) yang menawarkan cakrawala baru dalam memilik dan menelisik ke kedalaman suatu budaya tertentu dengan mengandalkan Rasio (Rasional). Segala sesuatu yang bersifat lokal, atau ekstrimnya yang bersifat primitif dapat dirasionalisasi dan digugah eksistensi pandangannya, sehingga membuatnya tidak berbentuk dan akhirnya memudar dan bahkan dapat mati tak tersisa. Itulah realitas yang terjadi saat ini.

Berhadapan dengan keadaan itu, apakah kita tinggal diam saja, atau justru mendukung Ideologi baru tersebut dengan alasan-alasan relativistik tertentu dan mengeksklusi kebudayaan kita yang sering dianggap primitif dan kuno. Sekedar membandingkan, seratus tahun yang lalu keadaan awali suku-suku di Indonesia tentu cukup sulit diketahui oleh generasi kita saat ini.

Sangat berbahaya, ketika konsep-konsep moderen dibenturkan dengan konsep-konsep lokal, mengapa? Sebab dari sudut pandang konsep positivisme, tentu nilai-nilai etis lokal tidak mendapat tempat di kepalannya sebab segala sesuatu harus ditanjau dari apa yang tampak, terstruktur, terdata dan telah menjadi data empiris dari suatu Ilmu pengetahuan. Dan yang lebih berbahaya lagi adalah menghilangkannya secara halus dan sistematis.

Bertanya a la Pemuda Pancasila

Ini bukan term yang dibuat-buat begitu saja tetapi sudah sepatutnya diakrabi sebagai milik dan jiwa diri kita sebagai anak bangsa. Bertanya ala Indonesia mestinya berangkat dari fenomena yang bersifat destruktif, sebab Negara kita adalah Negara kesatuan. Seandainya eksistensi/ fenomena destruktif dibiarkan dan bahkan lebih dominan dalam masyarakat, maka apa yang dapat kita katakan tentang konsep Kesatuan tersebut akan mengalami pergeseran makna. Untuk itu kita jangan tertidur dalam kedamaian yang meninabobokan bangsa dengan iming-iming yang tidak pasti. Mata kita harus tetap terbuka pada hal-hal yang mengherankan dan meresahkan. Saatnya mata kita menalar realitas yang ada, supaya kesatuan dan persatuan tetap terjaga. Dengan demikian term “aku bertanya, maka aku ada” menjadi penting untuk kita realisasikan. Selamat mempraktekkannya.

Penulis: Fr. Dominikus Siong, SMM, adalah mahasiswa Sekolah Tinggi Filsafat Widya Sasana Malang, Jawa Timur.

0 Comments

Leave a Comment

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password