breaking news New

Bupati Malaka Menutup Sekolah yang Dibangun Secara Swadaya

Malaka, Kabarnusantara.net – Pada 23 Januari 2017 lalu, Bupati Malaka-NTT mengeluarkan kebijakan yang kontraversial. Pasalnya, Bupati Stefanus Bria Seran memutuskan untuk menutup Sekolah Dasar Negeri (SDN) Oevetnai yang ada di Desa  Waeulun, Kec. Oeiku, Kab. Malaka, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Alasan penutupan sekolah tersebut dinilai sepihak sehingga menimbulkan keresahan bagi masyarakat setempat dan para pengajar di SDN Oevetnai tersebut.

Menurut informasi yang diterima Kabarnusantara.net dari seorang pengajar di SDN tersebut, penutupan sekolah dilakukan karena alasan gedung sekolah, fasilitas pendidikan dan tenaga pengajar yang belum layak.

“Alasan pemerintah menutup SDN Oevetnai adalah gedung tidak memenuhi syarat, fasilitas pendidikan tidak memadai, tenaga pengajar tidak berkualitas, SDM sedikit,” ungkap Ibu Nelcy via telepon.

Nelcy juga mengkonfirmasi bahwa kondisi bangunan sekolah dasar (SD) memang sudah mulai rapuh. Kondisi ini ditandai dengan dinding sekolah mulai rapuh, atap sudah mulai bocor serta banyaknya dinding bangunan berlobang. Meskipun demikian bangunan reyot yang diinisiasi oleh Ibu Nelcy diberikan pembatas papan dan atapnya ditambal dengan alang alang. Itu dilakuakn agar Kegiatan Belajar Mengajar tetap dilakukan.

Sementara itu, lanjut Nelcy, status SDN tersebut sudah mendapatkan izin operasional pada Tahun 2015 dengan surat keputusan Nomor 63/HK/20156. Sejak saat itu, angka partisipasi siswa yang bersekolah mengalami peningkatan meski keadaan fisik bangunan sekolah tersebut masih darurat.

“SDN Oevetnai ini sudah (legal dan resmi) mendapat ijin operasional dari pemerintah pada tahun 2015. Di sekolah ini terdapat 12 tenaga pengajar, terdiri dari : 4 orang PNS, 7 orang guru swasta dan 1 tenaga kontrak,” papar Nelcy.

Ditentang Masyarakat

Menurutnya, sangat mengejutkan dan tidak masuk akal ketika Bupati Stefanus Bria Seran memutuskan untuk melarang aktivitas KBM di sekolah yang sudah lama berdiri tersebut. Selain itu, Nelcy menambahkan banyak siswa SDN Oevetnai yang mendapat dana BOS (Bantuan Operasional Sekolah) dari pemerintah. Hal ini menurutnya menegaskan bahwa sekolah ini sudah terdaftar di Pemerintah Pusat.

“Maka dari itu, penolakan dari pihak masyarakat terhadap kebijakan Bupati tentu beralasan. Selain sekolah ini telah lama berdiri, sebelumnya, pihak pemerintah tidak ada komunikasi dengan pihak sekolah SDN Oevetnai dan masyarakat setempat,” ujarnya.

Tampak para siswa SDN Oevetnai bersama Kelompok Diskusi Secangkir Kopi-Media Cakrawala NTT (Foto: FB El Ro Karpitan)

Tak hanya Nelcy, kelompok Diskusi Secangkir Kopi-Media Cakrawala NTT di Kota Kupang menilai adanya kejanggalan dalam kebijakan menutup SDN Oevetnai. Mereka menilai, pemerintah seharusnya memberi perhatian serius kepada sekolah tersebut bukan justru menutupnya. Apalagi, lanjutnya alasan penutupan tersebut karena fasilitas dan Sumber Daya Manusia yang belum layak.

“Setelah sekolah ini ditutup, pemerintah tidak punya perhatian serius untuk  memperhatikan anak-anak yang ada di sekolah ini. Mereka hanya dititipkan  di sekolah yang jaraknya jauh dan harus ditempuh dengan berjalan kaki sejauh 2 KM. Ini tidak benar. Yang perlu diselesaikan adalah perbaikan gedung dan pembenahan fasilitas belajar menjadi lebih baik,” ujar El Ro Karpitan kepada kabarnusantara.net.

Sebagai bentuk dukungan kepada siswa SDN Oevetnai, Kelompok Diskusi tersebut menggalang dukungan buku serta bantuan lain untuk memenuhi kebutuhan di SDN Oevetnai

“Pada tanggal 11-12 Mei Mendatang, kami akan melakukan kunjungan ke SDN Oevetnai membawa kado dan kebutuhan belajar anak-anak,” demikian tulis El Robby melalui Pesan Singkat kepada media ini.

Dibangun Secara Swadaya

Pendirian SDN Oevetnai merupakan inisiatif masyarakat dan dibangun secara swadaya oleh masyarakat setempat. Sekolah didirikan karena kepedulian Ibu Nelcy bersama masyarakt setempat atas pendidikan di Oevetnai yang sangat memprihatinkan.  Sebelumnya, Ia telah mendirikan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD).

Warga dan siswa SDN Oevetnai saat dikunjungi Kelompok Peduli Pendikan (Foto: Facebook Bung Sila)

Saat diwawancarai pada Jumat (24/2/2017), Nelcy mengatakan bahwa SDN Oevetnai berdiri pada 20 Juli 2013. Ia menjelaskan bahwa sekolah tersebut didirikan di atas tanah adat (ulayat) masyarakat Oevetnai atas kesepakatan bersama masyarakat dalam membantu semangat belajar anak-anak di Oevetnai.

“Sekolah ini didirikan di atas tanah mereka sendiri, tanah adat (ulayat) masyarakat Oevetnai. Alasan kami berjuang mefasilitasi anak-anak dengan mendirikan gedung SD karena di kampung Oevetnai tidak sedikit anak-anak yang putus sekolah dan banyak anak anak yang tidak mengenyam pendidikan. Melihat situasi ini, saya merasa prihatin. Jika ini dibiarkan, kami tidak akan pernah maju dan terus dijajah oleh kebodohan dan kemiskinan. Masyarakat rela memberikan tanahnya untuk mendirikan sekolah ini,” jelas Nelcy.

Ia sangat menyayangkan tindakan pemerintah yang tidak menghargai inisiatif masyarakat Oevetnai dalam mendorong semangat belajar anak-anak di Oevetnai.

“Ironisnya, di saat tempat lain berloma-lomba berjuang untuk mendirikan sekolah, di tempat kami malah pemerintah menutup sekolah yang kami bangun atas inisitaif masyarakat Oevetnai sendiri dan melarang pihak sekolah untuk melanjutkan aktivitas Kegiatan Belajar Mengajar (KBM),” lanjutnya.

Ibu Nelcy, selaku perintis dan Guru di SDN Oevetnai, menilai ada banyak kejanggalan dari kebijakan Bupati Malaka, Stefanus B. Seran tersebut.

“Sebelum Bupati mengeluarkan pernyataan “penutupan sekolah”, kami dijemput oleh pihak pemerintah untuk mendengar keputusan Bupati yang sangat menyakitkan hati kami. Kami dipanggil hanya untuk mendengarkan keputusan Bupati bahwa sekolah kami harus ditutup. Pihak sekolah dan masyarakat setempat tentu tidak bisa menerima begitu saja keputusan pemerintah perihal melarang aktivitas KMB di sekolah SDN Oevetnai. Alasannya jelas yaitu sekolah ini sudah lama berdiri dan sudah mendapat ijin operasional dari pemerintah pada tahun 2015,” pungkasnya.

Antusias Belajar Menurun

Seperti dilansir Pos Kupang pada 22 Februari 2017,  pasca penutupan SDN Oevetnai oleh Bupati Malaka pada Januari lalu, saat ini siswa siswa SDN Oevetnai dititipkan di SDN Waeulun yang berjarak sekitar 2 KM dari SDN Oevetnai. Dari 71 siswa, sekitar 30 siswa memilih terus melanjutkan pendidikannya di SDN Oevetnai.

Namun, setiap hari sekolah anak-anak harus berjalan sejauh 2 KM dari sekolah asal (SDN Oevetnai) ke sekolah yang baru. Selain jaraknya yang sangat jauh, para siswa harus berjalan kaki melewati hutan. Anak-anak seringkali terlambat memulai Kegiatan Belajar Mengajar setiap harinya. Parahnya lagi, menurut Nelcy kadang anak-anak lebih tertarik ikut orang tua ke kebun dan pasar yang tidak jauh dari rumah ketimbang mengikuti KBM di sekolah SD Waeulun yang jaraknya sangat jauh dari sekolah asal mereka. (Tiburtius/Hipatios/KbN)

5 Comments

Leave a Comment

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password