breaking news New

Cerpen Minggu – Aku Bermimpi

AKAN kuceritakan bahwa Semalam aku bermimpi orang sakit jiwa kian mewabah dirumahku.

Aku bermimpi menenemui seseorang lelaki yang selalu tertawa sendiri di ujung taman dekat rumahku

Aku bertanya padanya “tuan, apa yang anda tertawakan selama ini?.”

“Tidak ada.” Jawab lelaki itu sambil tertawa

Aku terheran – heran kenapa ia selalu tertawa, tak seorangpun yang menghiburnya juga menggelitikinya.

“Apa yang anda tertawakan selama ini?.” Tanyaku sekali lagi

“Lihatlah aku melihat pelangi meski tak turun hujan dari kemarin.”

Ah aneh orang ini ia dapat ciptakan pelanginya sendiri di siang bolong. Aku makin penasaran saja pada lelaki ini.

“Apa anda pernah bersedih?.”

“Aku takperlu menunggu hujan untuk melihat pelangi, aku akan menangis bila aku berhenti tertawa.”

“Tuan, apa anda benar – benar menyukai pelangi?.”

“Gadis kecil ketahuilah, hitam adalah pelangi yang baru, takperlu hujan atau aku harus bersedih dulu untuk tertawa.”

Ah aneh sekali, mungkin dia sakit jiwa. Kasihan sekali nasibnya hingga dia ditakdirkan menjadi seperti itu, apa dia mengkehendaki dirinya atas apa yang terjadi pada dirinya.

Tak jauh dari lelaki itu ada seorang pria tua yang duduk melamun di ujung teras rumah ku menatap sebuah pandangan kosong. Aku menghampirinya dan bertanya

“Tuan, apa kau mendengarku?.”

“Ya, tentu saja.” Jawabnya namun tidak menoleh kepadaku

“Apa yang sedang anda pikirkan tuan?.”

“Aku sedang mencarinya, dia tersesat, dia telah kuberi kebebasan. Pikiranku telah pergi terlalu jauh dan ia terjebak dan taktahu jalan pulang.” Jawab lelaki itu sambil melamun

“Apa kebebasan itu berbahaya?.”

“Jangan kau bebaskan pikiranmu, pandu dia, kitalah yang memberi kehendak atas diri kita.” Katanya dengan nada membentak

“Maafkan aku tuan jika mengganggu melamun mu, tapi apa bisa mencarinya dengan melamun?.”

Sepertinya dia tak suka diganggu. Dia sibuk mencari pikirannya yang tersesat itu, tapi ia katakan dirinya sendiri yang memberi kehendak atas dirinya dan apa sulitnya menghendaki pikirannya sendiri. Ah sudahlah orang tua itu mempersulit pikirannya sendiri. Dia juga sakit jiwa kurasa.

Aku suka mendengar suara tangisan lelaki di belakang rumahku. Kata orang rumahku disana ada seorang aktor yang mahir ber-akting.

Aku akan mencoba berbincang kepadanya. Kenapa seorang aktor hebat selalu menangis, apa dia mengalami kegagalan dalam dunia karirnya.

“Hai tuan, aku sering mendengar tangisanmu, apa yang kamu tangisi?.”

“Tidak ada.” Sambil menangis jawab lelaki itu

“Loh, jadi buat apa menangis?.”

“Akulah sang aktor dan pesulap hanya melakukan tipuan murahan.”

“Jadi ini hanya bagian dari latihanmu saja?.”

“Tidak. Tetapi ketahuilah aku takperlu sebuah tragedi untuk menangis, aku dapat menipu pikiranku sendiri. Aku dapat kehendaki pikiranku, sesuka ku kapan aku mau menangis.” Jawabnya

“Lalu buat apa kamu kehendaki dirimu untuk menangis?.”

“Akulah manusia, aku sang aktor dan dunia adalah sebuah panggung pentas dimana kehidupan penuh tipu daya.”

Hebat sekali pria ini, dia memang pandai bersandiwara rupanya. Aku kira ia bersedih dengan sungguh – sungguh agar dapat menangis ternyata hanya di buat – buat.

Mungkin ia sedang berlatih untuk sebuah pertunjukan yang banyak adegan menangisnya. Kurasa karirnya cukup baik sebab bakat akting yang ia miliki sangat hebat. Dia sakit jiwa sepertinya karna terlalu mendalami aktingnya.

Ah disini sangat aneh, aku melihat seseorang yang buta suka ber-ibadah. Melihat saja takbisa. Apa dia tau apa yang sedang ia lakukan itu benar.

Apa dia tau aku sedang menghampirinya ya. Apa di akan terganggu bila aku langsung bertanya padanya ya. Baiklah kurasa sudah selesai ibadahnya.

“Tuan, boleh aku bertanya?.”

“Tentu gadis kecil.” Jawabnya dengan tersenyum

Bagaimana bisa ia tau kalau aku ini gadis perempuan, padahal dia buta.

“Kamu mengetahui aku ini perempuan?.”

“Ya tentusaja, telingaku mendengar suara halus dari seorang gadis kecil”

“Tuan, bagaimana kamu bisa melakukan hal yang benar dan salah dalam dunia ini?, dengan mata yang buta kamu takbisa melihat bentuk fisik dunia ini.” Tanyaku

“Dengar gadis kecil, manusia seperti cacing mereka buta dan hanya dapat mengeliat untuk merasakan, dan karena mereka buta bukan berarti segalanya tidak ada.”

“Lalu bagaimana kamu dapat memilih hal yang benar dan mana hal salah.”

“Aku ini buta gadis kecil dan aku tidak dapat melihat hal – hal tersebut tetapi aku dapat merasakannya.”

“Merasakannya?.” Tanyaku

“Ya, kebenaran sejati terdapat pada hati nurani.”

“Tuan, hati nurani katamu, bagaimana ia bisa lakukan itu?.”

“Kelak kamu akan sadari dimana ilahi yang menuntun mu dari segala tindakan mu.”

Ah pria ini sungguh soktau, padahal dia hanya orang buta. Bagaimana dia bisa mengetahui hanya dengan kata hati nuraninya.

“Lalu tuan apa kamu percaya dengan tuhan? Sementara dia tak dapat dilihat”

“Ya, tentusaja aku percaya bahwa dia ada.”

“Bagaimana bisa tuan percaya bawha dia benar ada. Sementara dia takbisa dilihat.”

“Karna dia takbisa dilihat dengan bentuk fisik maka dia berikan apa yang bisa kita lihat dan rasakan yang berwujud fisik.”

“Apa yang dia berikan?.” Tanyaku

“Lihat dan rasakan sekeliling mu, betapa indahnya dunia ini, ya ini sudah membuktikan bahwa pencipta dari dunia ini sangat mencintai kita dengan diberinya keindahan yang dapat kita rasakan sekarang.”

Ah aneh sekali pria buta ini jelas sekali kalau dia buta lalu bagaimana dia bisa tau kalau dunia ini indah. Aku rasa kita semua adalah bagian dari tuhan sebab kita suka memperindah dunia ini dan kita juga suka menciptakan keindahan didunia ini, walaupun ada yang merusaknya. Mungkin dia sakit jiwa karna hanya dapat merasakan dan takdapat melihatnya.

“Tuan, kamu benar – benar buta?.”

“Iya gadis kecil, disini hanyalah gelap dan aku hanya sendirian, itu yang mataku perlihatkan padaku.”

“Apa kamu tidak takut sendirian?.”

“Tentu tidak, tuhan juga sendirian dan dia tak takut apapun, lagi pula aku dapat mendengar kalian semua.” Jawabnya

Ya, seperti itu mimpiku. Aku dibangunkan oleh suster penjaga ku, dia berkata aku harus segera sarapan dan minum obat.

Mimpiku seperti kenyataan. Dirumahku juga ada orang – orang seperti itu. Rumahku adalah rumah sakit jiwa. (RR/KbN)

Kuningan 2016 – Bajingan Sejati – Salah satu mahasiswa Sastra.

0 Comments

Leave a Comment

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password