breaking news New

Kidung Untuk Eksploitasi Alam

Sebuah general tendention (kecenderungan umum) bertutur bahwa manusia adalah penguasa segala-galanya. Manusia pada hakikatnya memang memiliki unsur egonya. Ke-ego-an bisa menghempasnya pada sebuah actus malum. Ada tiga jenis malum seperti yang pernah dipelentir Kant yaitu malumphsicum atau keburukan alam misalnya tsunami, malummmorale atau keburukan moral dan malum metaphysicum atau keburukan metafisik. Yang menjadi perhatian utama adalah malummmorale atau keburukan moral. Keburukan moral inilah melahirkan sebuah sikap loba rakus. Manusia yang rakus melakukan segala cara demi mendapatkan keuntungan.

Alam semesta (langit dan bumi) disebut kosmos karena merupakan suatu ornamen dalam hubungan yang harmonis. Sebuah diskursus hangat sekarang alam kita sedang mengalami sakit kronis. Sakitnya sangat parah dan membutuhkan obat yang ampuh agar ia bisa sembuh dari sakit yang ia derita. Kenapa ia mengalami sakit parah? Karena adanya pergeseran relasi antara alam dan manusia. Pola relasi subjek-subjek kini diganti oleh relasi subjek-objek. Alam serentak dijadikan sebagai objek yang harus dikerok habis-habisan sampai ke jargonnya. Alam yang adalah dari sediakalah menjalin relasi simbiosis mutualisem serentak hadir sebagai sosok yang menakutkan bagi keduanya. Tak jarang lahirlah relasi baru yaitu simbiosis parasitisme, hubungan yang saling merugikan. Ini semua karena keegoisan manusia yang bisa mengakibatkan pembalasan dari alam.

Perselingkuhan antara penguasa dan pemilik modal

Menghalalkan segala cara menjadi hal yang wajar nan biasa. Adalah bukan hal yang asing lagi mendengar perselingkuhan antara pemerintah dan pemilik modal. Pertambangan di Manggarai, misalnya merupakan sebuah penindasan terhadap kaum miskin karena mereka diterlantarkan oleh pemilik modal yang mendapat license dari pemerintah. Penguasa sebagai laki-laki sangat tertarik dengan sosok perempuan penggoda. Pemilik modal memakai make-up sehingga bisa melululantakan hati sang penguasa. Mereka berdandan rapi dengan ber-make-up ‘uang’.

Laki-laki mana yang tidak jatuh ketika sang cewek memakai make-up. Ia dengan mudah jatuh dan melakukan perselingkuhan. Janjinya kepada rakyat kini sirna ditelan waktu karena eloknya si penguasa yang berdandan ‘uang’. Perselingkuhan itu terjadi sengit dan seru sampai melahirkan anak. Namun anak yang mereka lahirkan adalah anak haram. Mengapa? Karena banyak orang yang tidak menerimanya. Anak dari perselingkuhan mereka adalah emas, perak, mangan dan sederetan produk lainnya. Memang anak mereka sangat elok dan menawan namun dianggap haram oleh orang yang merasa dirugikan.

Di tengah kekayaan ada kemiskinan yang menyedihkan. Di tengah perselingkuhan itu ada orang yang dirugikan. Yang namanya selingkuh pasti tidak menyenangkan karena bisa menghasilkan desas-desus yang tidak enak didengar. Namun di tengah persoalan pelik, mereka tetap asyik berselingkuh. Ini adalah bentuk ketidakhormatan akan kehidupan sesama. Perselingkuhan yang asyik itu ada pihak yang merasa dirugikan.

Penyalahgunaan Teknologi Modern

Teknologi modern hadir sebagai sosok bermuka dua. Ia kadang berwajah baik dan menghasilkan hal yang baik pula, di sisi lain ia juga hadir sebagai monster yang menakutkan manusia. Kalau mengandalkan kekuatan manusia sendiri, maka eksplorasi dan ekploitasi terhadap alam tidak terlalu separah saat ini. Kehadiran teknologi ini justru membuat alam semakin geram dan ingin melakukan pembalasan. Pembalasannya dapat diwujudkan dalam bencana alam, tanah longsor dan sederetan bencana yang membuat alam itu kadang berwajah ganas.

Manusia kehilangan identitas individu. Suatu gejala yang mencolok dalam relasi antara manusia dan teknologi modern. Manusia menjadi titik temu dan menjadi muara dari teknologi modern. Seyogianya memang demikian, tetapi justru manusia jatuh dalam penyalahgunaan sehingga berdampak meresahkan bagi alam. Alam dijadikan sasaran objek yang harus diperas dan olah dengan menggunakan teknologi canggi. Alat-alat teknolgi itu justru memberikan sebuah dampak yang besar buruknya bagi alam.

Prefentif Action: Kembalikan Relasi Simbiosis Mutualisme antar Alam dan Manusia

Lalu serentak menguaklah sebuah pertanyaan menggelitik, mengapa alam dan manusia dikatakan berelasi simbiosis mutualisme? Bukankah dari fakta dapat dikatakan bahwa keduanya justru membangun relasi simbiosis parasitisme?. Kedua hal ini memang bersifat paradoks. Bagaimana mungkin alam menganaktirikan manusia dalam tempat yang sama memiliki relasi yang saling menguntungkan. Kalau fakta di atas, dapat kita katakan bahwa hubungan yang terjadi ke arah simbiosis parasitisme, hubungan yang saling merugikan. Maka roh simbiosis mutualisme harus terus digerakan.
Pada hakikatnya manusia dan alam bernuansa saling menguntungkan. Ada sebuah relasi harmonisasi antara keduanya. Keharmonisan dapat diterapkan dalam aplikasi hidup yang bernuansa saling mendukung. Manusi tak bisa hidup tanpa bantuan alam demikian pun sebaliknya alam ini akan terasa nirmakna ketika manusia tidak ada. Dalam pola relasi keduanya membangun pola subjek-subjek.

Manusia memandang alam sebagai subjek yang harus dihormati sedemikan adanya. Alam bisa membuat manusia bertahan hidup dan terus menerus hidup. Betapa tidak, sungguh tak bisa dibayangkan kalau alam tidak menyediakan air. Otomatis gong kematian akan menjemputi hidup manusia.

Inilah bukti nyata bahwa alam memberi sumbangsi besar bagi hidup manusia. Manusia pun demikian melakukan banyak hal terhadap alam. Alam yang tidak begitu indah ketika ditata rapi akan menjadi sebuah tempat yang indah dan ramai dikunjungi. Itulah sebuah bukti bahwa manusia dan alam membangun pola saling menguntungkan. (KbN)

151 Comments

Leave a Comment

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password