breaking news New

Meng(adab)kan Perilaku Anti Korupsi

Mati satu tumbuh seribu, demikian sebuah ungkapan klasik yang dalam pemahaman saya cukup sinkron untuk menghubungkan perilaku korupsi yang semakin menjamur saat ini. Korupsi merupakan salah bentuk kejahatan yang luar biasa (extra ordinary crime). Di Indonesia, kejahatan ini dilakukan secara masif, terstruktur dan sangat sistematis. Keberadaaan lembaga KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi) sepertinya bukan menjadi suatu momok yang menakutkan bagi masyarakat untuk melakukan kejahatan tersebut. Kejahatan yang sangat masal ini dilakukan mulai dari masyarakat akar rumput sampai pada para pejabat yang katanya merepresentasikan diri rakyat. Kaum-kaum berdasi yang sudah kenyang akan jabatan, kenyang akan mobil mewah, kenyang akan rumah mewah, tidur di atas uang dan harta berlimpah masih saja menguras dan mencuri uang yang seharunya diperuntukan bagi mereka yang tinggal di bawah kolong jembatan, yang tidak memiliki pakaian, makanan dan yang dikategorikan dalam kehidupan yang tidak layak.

Meskipun setiap saat lembaga KPK berhasil menangkap dan meringkus para koruptor ke dalam bui, nyatanya kejahatan tersebut tidak pernah selesai. Negara seakan-akan sudah kehabisan cara untuk mematikan jenis kejahatan seperti ini. Banyak pihak yang berargumen agar para koruptor harus dihukum mati. Namun argumen tersebut nyatanya tidak semuda membalikan telapak tangan. Bagaimanapun sisi kemanusiaan selalu dijadikan basis utama dalam memerangi rencana hukuman mati. Lantas apa yang harus dilakukan untuk memutus mata rantai kejahatan yang paling besar ini? Masihkah negara terus memelihara para koruptor? Masihkah kita rela untuk dijuluki sebagai negara gudangnya para koruptor? Masihkah kita rela menyaksikan adanya disparitas yang sangat besar dan panjang antara orang yang kaya dan yang miskin? Jawaban atas semua pertanyaan ini tentu saja tidak. Harapan dari seluruh rakyat Indonesia dari Sabang sampai Merauke tentu saja terciptanya suatu keadilan untuk seluruh rakyat Indonesia.

Sila kedua pancasila berbunyi kemanusiaan yang adil dan beradab. Pemaknaan akan sila ini tentu saja sangatlah jelas yaitu terciptanya manusia yang adil dan beradab bukan manusia yang biadab. Meng(adap)kan dalam konteks tulisan ini berasal dari kata dasar adab. Berperilaku adab merupakan esensi yang paling besar dalam kehidupan manusia. Mengadapkan selanjutnya dipakai oleh penulis untuk kepentingan membumikan perilaku adab ini kepada setiap orang. Maraknya perilaku korupsi yang dilakukan oleh para koruptor saat ini merpresentasikan matinya nilai keadaban, dan digantikan oleh nilai kebiadaban (biadab). Para koruptor pun dikategorikan sebagai orang yang sangat biadab.

Perilaku anti korupsi merupakan suatu opsi untuk melakukan resistensi (perlawanan) terhadap perilaku korupsi. Mengadabkan perilaku anti korupsi sama halnya dengan memelihara, menanamkan nilai-nilai yang beradab kepada diri setiap individu untuk tidak melakukan tindakan korupsi. Dari mana kita memulainya? Keluarga merupakan agen sosialisasi yang pertama dan utama dalam mendidik dan membentuk perilaku seseorang. Sejak di dalam keluarga, nilai-nilai kejujuran yang merupakan cerminan dari nilai adab sudah harus dipupuk. Kejujuran ini merupakan kunci yang paling utama dan sangatlah penting guna membentuk karakter diri seseorang supaya bisa menjadi orang yang beradab. Selain keluarga, sekolah juga berperan penting terutama mendidik, membumingkan pendidikan karakter yang ditransmisikan dari guru. Edukasi tentang nilai-nilai kejujuran dan yang berorientasi pada terbentuknya manusia-manusia yang beradab dan yang tidak berpotensi pada perilaku korupsi sudah harus ditanamkan di dalam sekolah.

Mengadabkan perilaku anti korupsi tentu saja bukan hal yang sangat mudah. Hal ini dikarenakan oleh motif dari kejahatan tersebut yang sudah dilakukan secara terstruktur dan sistematis, yang selalu memberikan cela dan kesempatan bagi setiap orang untuk melakukan kejahatan tersebut. Oleh karena itu, memupuk sikap beradab harus dimulai dari dalam diri sendiri. Berani melawan sistem yang sedang memelihara kejahatan-kejahatan, berani keluar dari lingkaran kejahatan dan berani untuk menjadi pribadi yang jujur. Hal-hal ini yang harus ditanamkan dalam diri setiap individu ketika berhadapan dengan sebuah sistem yang justru akan menggiring dan mengarahkan kita kepada kebiadaban yang kemudian dipertontonkan ke tengah publik.

Epifanius Solanta

Alumnus Sosiologi, Universitas Atma Jaya Yogyakarta

0 Comments

Leave a Comment

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password