breaking news New

Gereja Membutuhkan Media Untuk Mengintegrasikan Sabda Dalam Kultur Baru

RUTENG, Kabarnusantara.net –
Gereja sangat membutuhkan media dalam upaya mengintegrasikan sabda dalam kultur baru. Karena media itu sebuah kultur baru. Media menawarkan kultur baru, dengan bahasa baru, teknik baru dan psikologi baru. Nah, sekarang bagaimana Gereja masuk ke sana dengan menggunakan bahasa baru ini. Tidak bisa kita melunakkan media untuk kepentingan pewartaan.

Hal itu disampaikan Ketua Komisi Komunikasi Sosial Keuskupan Ruteng, Romo Edy Minori,Pr di sela-sela kegiatan Rekoleksi dengan Tema Spiritualitas Pewarta Katolik di Aula Keuskupan Ruteng, Jumat, 10/3/2017.

Dikatakan Romo Edy, kita tidak bisa hanya menggunakan media sebagai salah satu alat pewartaan. Kita kan berpikir media sebagai sebatas alat.

Media itu kan kultur baru, gaya hidup dan cara hidup baru.

“Nah kalau kita melihat Media sebagai sebuah kultur baru, gaya hidup dan cara hidup, kita tidak bisa melihatnya sebagai alat,” ujarnya.

Masalah utama kita kan, kita ini hanya sebatas meneruskan tradisi tanpa ada sebuah refleksi untuk melihat konteksnya sudah bergeser banyak. Kita masih dengan tradisi lama.

Sebagai Jurnalis Katolik, kita diharapkan memiliki spiritualitas yang sama dalam kemanusiaan.

“Pekerja media Katolik juga mengusung spiritualitas Katolik sebagai garam dan terang dunia. Spiritualitas itu semangat. Ada sebuah nilai yang mau kita perjuangkan melalui karya-karya kita di bidang jurnalistik,” tandasnya.

Lebih lanjut, Romo Edy Minori mengatakan bagaimana perspektif Gereja Katolik dalam hal komunikasi.

“Karena itu saya masih melihat di STKIP, STIPAS, mereka mengajarkan komunikasi dari teori hukum komunikasi. Filipina sekarang mereka sudah menggunakan pelajaran komunikasi di perkuliahan yaitu komunikasi sosial. Mereka menggunakan perspektif gereja dalam berkomunikasi,” ujarnya.

Karena itu menjadi seorang komunikator atau pewarta, yang paling penting dari dia adalah tidak hanya menyampaikan pesan lewat kata-katanya, tetapi dia menghadirkan pesan melalui perbuatan dan seluruh cara hidupnya. Dan itulah yang disebut sebagai kesaksian.

“Menjadi komunikator atau pewarta Katolik itu harus hidup dan bersatu dengan Tuhan. Dan seluruh hidupnya digerakkan oleh roh. Dan tujuan dari seluruh proses komunikasi, tidak lain adalah persatuan dengan Tuhan,” ujarnya. (Alfan Manah/Hip/KbN)

0 Comments

Leave a Comment

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password