breaking news New

Gusti Brewon: Tudingan KPA Biang Kerok ODHA Di Manggarai Bolong ARV Tidak Benar

KUPANG, Kabarnusantara.net –
Menanggapi pemberitaan Kabarnusantara.net tentang ODHA bolong ARV, Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) dan RSUD Ruteng dituding sebagai biang keroknya, Pengelola Program Komisi Penanggulangan AIDS Provinsi NTT, Gusti Brewon, Sabtu, 11/3/2017, mengatakan tudingan bahwa KPA biang kerok ODHA (Orang Dengan HIV AIDS) bolong ARV tidak benar dan sama sekali tidak berdasar. Pihaknya tidak bertugas selaku distributor logistik HIV termasuk obat ARV dan hanya berwewenang melakukan koordinasi.

Dikatakan Brewon, urusan distribusi logistik HIV termasuk ARV adalah urusan Dinas Kesehatan Provinsi NTT.

Ia juga mempertanyakan tudingan yang menyebutkan KPA lemah dalam hal koordinasi.

“Saya tidak tahu dari mana sumber yang menyebutkan kami lemah dalam hal koordinasi. Karena setiap kali ada masalah kami sangat tanggap dan responsif dengan masukan kawan-kawan ODHA atau pun stakeholder terkait,” ujarnya kecewa.

Ia mengaku selalu kontak Komunitas ODHA di Manggarai dan selalu membantu dengan senang hati.

“Kami selalu dikontak kawan-kawan Komunitas Dukungan Sebaya di Manggarai dan dengan senang hati kami bantu. Bahkan pada bulan Februari 2017 lalu, saya sendiri bawa ARV lewat Labuan Bajo, karena kendala cuaca buruk di Ruteng, pesawat pun tak dapat landing,” ujarnya.

Menurut Brewon, setiap bulan, sebelum tanggal 25, KPA Kabupaten Manggarai juga selalu lakukan koordinasi untuk pantau stock ARV.

Namun, ujarnya, kembali lagi dalam hal ini, yang kirim laporan itu petugas di Rumah Sakit Umum Daerah dr. Ben Mboi.

“Kami tidak bisa perintah mereka. Hubungan kami sebatas koordinasi. Staf KPA hanya bisa ingatkan agar jangan telat kirim laporan ke Dinas Kesehatan Provinsi NTT.

Berdasarkan koordinasi pihaknya dengan Dinas Kesehatan Provinsi NTT, obat ARV sudah dikirim, dan mudah-mudahan sudah bisa tiba di RSUD dr. Ben Mboi Ruteng pada Minggu, 12 Maret 2017.

Lebih lanjut dikatakannya, KPA Provinsi NTT terbuka terhadap kritikan.

“Kami sadar bahwa dalam kerja koordinasi, kami belum sempurna. Tetapi kami di KPA Provinsi NTT tidak tinggal diam. Kami berjuang sekuat tenaga,” ujarnya.

Soal dugaan Komunitas ODHA di Manggarai, ujar Brewon, perlu ditelusuri lebih lanjut di RSUD Ruteng. Karena saat pihaknya melakukan konfirmasi dengan Dinas Kesehatan Provinsi NTT, mereka mengatakan obat itu dikirim untuk stock tiga bulan.

“Kok bisa habis, ini yang harus dicek. Mungkin salah permintaan atau ada sebab lain,” ujarnya.

Sebelumnya diberitakan, ketersediaan obat ARV (Antiretroviral) menjadi masalah yang lagi-lagi terulang. Obat yang menjadi kebutuhan utama ODHA dalam mempertahankan hidupnya ternyata menjadi barang langka di Manggarai, Provinsi NTT.

Ketua Komunitas Dukungan Sebaya (KDS) Surya Kasih, Naga Bonar mengatakan kekosongan ARV jenis Duviral lagi-lagi terjadi.

Bonar juga menyatakan keheranannya terkait stock ARV jenis Duviral yang dinyatakan habis, sementara ARV sekali diusulkan untuk 3 bulan.

“Kuat dugaan saya, ada ODHA yang tidak ingin status HIV positifnya diketahui orang. Mereka diduga menggunakan jalur khusus di RSUD Ruteng. Dampaknya, jatah ARV bagi ODHA yang terdaftar dipotong. Ini dugaan yah,” tandas Bonar. (Alfan Manah/KbN)

0 Comments

Leave a Comment

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password