breaking news New

Secercah Harapan Murid-Murid SDN Oevetnai

Tim Patroli Garuda- Peduli Anak Negeri saat mengunjungi siswa SDN Oevetnai.

Awalnya saya tidak mengetahui nama SD Negeri Oevetnai, yang terletak di Dusun Wetalas, Desa Weulun, Kecamatan Wewiku di Kabupaten Malaka yang berbatasan langsung dengan Kabupaten Timur Tengah Selatan (TTS), Provinsi NTT.

Lalu bagaimana saya mengenal nama SDN Oevetnai ini dan kemudian bersama teman-teman memperjuangkannya? Bahwa salah satu kebiasaan saya ketika dipercayakan menjadi narasumber di berbagai perguruan tinggi ternama di Jogjakarta, selalu selipkan RTL (Rencana Tindak Lanjut). Maksudnya, saya mengajak peserta seminar untuk bersama memecahkan salah satu masalah sosial yang terjadi di lingkungan kita.

Apa artinya seminar dengan biaya yang besar dan pesertanya yang pintar-pintar, tetapi hasilnya hanya mendengar doang. Seperti ketika memberikan pelatihan kepemimpinan bagi pengurus OSIS SMA/SMK se-provinsi DIY, saya menyodorkan foto salah seorang anak yang menderika penyakit Hidrosefalus dari Malinau Kalimantan Utara. Seketika peserta pelatihan berempati dengan mengumpulkan donasi bagi anak tersebut. Begitu halnya ketika menjadi narasumber di UGM (11 November 2016) saya menyodorkan sebuah foto tentang anak-anak SDN Oevetnai yang sedang mengatap gedung sekolah mereka yang bocor dengan daun gewang (sumber foto Novita Nurcahyati, guru SM3T). Maka tergeraklah empati mahasiswa UGM untuk berdonasi dan sudah disalurkan melalui guru SM3T di Malaka.

Sebagai putra NTT yang berada di Jogja, saya merasa miris dan malu, karena setiap tahun NTT tidak pernah alpa dari tingginya angkat gizi buruk, putus sekolah, dan korban TKI Ilegal. Padahal ada pemerintah dan ada anggaran (APBD), tetapi kondisi realnya yang gemuk dan perut buncit itu ASN, Bupati dan DPRD. Kondisi inilah yang membuat saya tergerak untuk mengajak sesama komponen anak-anak bangsa, mari bersama kita peduli pendidikan bagi generasi bangsa di Oevetnai Malaka, NTT. Karena jika kita hanya berdiam diri, hasilnya hanya mengeluh dan mempersalahkan pemerintah. Padahal berbicara tentang pendidikan, tidak terlepas dari peran Orangtua, siswa, lingkungan sosial, guru dan Negara.

Agar tidak terbaca bahwa saya hanya gembar gembor di media sosial dan/atau dikatakan mengeksploitasi kemiskinan di NTT, saya mewujudkan pergerakan ke SDN Oevetnai, Malaka dengan sebuah misi yang dinamakan “Patroli Bhinneka Tunggal Ika” Jogja-Malaka dengan sepeda motor (jalan darat). Saya membuat nasari tandingan makna Bhinneka Tunggal Ika, yang hanya diartikan berbeda identitas asal muasal (agama, suku, bahasa, ras) dengan makna baru, yakni berbeda talenta/profesi, seperti, seniman, akademisi, jurnalis, aktivis, atlet, dokter, relawan dan beragam profesi lainnya, bersatu untuk buat apa. Maka harus ada objeknya. Sehingga masalah pendidikan di SDN Oevetnai Malaka menjadi Objek misi Patroli Bhinneka Tunggal Ika. Misi ini murni panggilan nurani, sebagai warga akademis dan warga negara. Apalah artinya saya belajar menguasai ilmu namun masah bodoh dengan nasib anak-anak bangsa yang terabaikan pendidikannya.

Saya berangkat dari Jogja pada tanggal 23 Januari 2017, melintas Salatiga-Surabaya- Banyuwangi-Bali-Lombok dan tiba di Pelabuhan Sape, Sumbawa NTB, 26 Januari 2017. Kemudian saya tidak bisa melanjutkan pernyebrangan ke Labuhan Bajo karena cuaca buruk. Lima hari terdampar di pelabuhan bajo. Begitu pula penyebrangan dari Larantuka-Kupang tertunda sampai 8 hari karena badai.

Akhirnya sampai di SDN Oevetnai, kampung Wetalas, 14 Februari 2017. Tiba malam hari, kampung Wetalas, suasananya begitu gelap gulita, karena tidak ada listrik. Warga masih menggunakan pelita sebagai alat penerangan malam hari.

Berita tentang penutupan SDN Oevetnai oleh Bupati saya tahu melalui media sosial ketika posisi sudah di Surabaya. Namun saya tidak menanggapi, dengan maksud minimal ada data komparasi, sehingga kita cukup data untuk menjawab ada apa di balik alasan penutupan SDN Oevetnai oleh Bupati Malaka.

Berdasarkan hasil investigasi lapangan diketahu bahwa warga berinisiatif mendirikan sekolah ini yang berawal dari warga dua dusun di perbatasan, yakni dusun Wetalas Kabupaten Malaka dan Dusun Fatumetan Kabupaten Timor Tengah Selatan. Warga dari dua dusun di perbatasan ini masing-masing mengalami persoalan sama yaitu jarak antara sekolah induk dengan kampung mereka sangat jauh. Kemudian mereka berembuk dan menyepakati untuk mendirikan satu sekolah agar bisa menampung anak-anak mereka di daerah perbatasan ini.

Menurut mantan guru dan perintis SDN Oevetnai ibu Nelci dan ibu Ana, bahwa mereka memilih kampung Wetalas sebagai tempat berdirinya ini karena pertimbangan jarak, agar bisa dijangkau dari anak-anak dari dua dusun dimaksud. Dengan berjalannya waktu dan perjuangan mereka, akhirnya sekolah ini secara resmi bernama SD Negeri Oevetnai.

Berdasarkan penelurusan Data Pokok Pendidikan Dasar dan Menengah Direktorat Pendidikan Dasar dan Menengah Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah RI, bahwa SD Negeri Oevetani masih aktif dengan NPSN:69916336, Status Kepemilian Pemerintah Daerah dengan SK Pendirian Sekolah :63/HK/2015 dan SK Izin Operasional:63/HK/2015 dan berhak menerima dana BOS.

Lalu mengapa Bupati Malaka menutup SD Negeri Oevetnai? Saya menduga keputusan Bupati Malaka, dr. Stef Bria Seran, MPH., murni reaksi emosional hanya untuk menutup aib, setelah foto tentang kondisi real SD Negeri Oevetni menjadi viral media sosial. Artinya selama dua tahun, 2015-2016 SD Negeri Oevetnai benar-benar tidak diperhatikan oleh negara, dalam hal ini Dinas Pendidikan, Kebudayaan, Pemuda dan Olahraga(PKPO) Malaka, baik dari bangunan fisik maupun tenaga guru.

Jika hanya beralasan gedung itu tidak layak untuk proses KBM dan kekurangan guru, mengapa tidak ditutup sejak awal tahun ajaran 2016, jika sudah dikaji berdasarkan hasil evaluasi dan monitoring. Tindakan reaktif Bupati Malaka menutup SDN Oevetnai juga justru menggambarkan Bupati Malaka sedang menelanjangi dirinya, karena salah satu program prioritasnya adalah layanan dasar dibidang pendidikan dari lima program prioritas yang dicanangkan.

Apapun argumen pembenaran Bupati Malaka menutup sekolah di saat anak-anak sedang aktif dan semangat untuk bersekolah adalah tindakan yang melukai jiwa anak-anak bangsa. Tiba-tiba mereka harus rela berjalan kaki sejauh 3 km (Pulang-Pergi) ke sekolah induk SDN Weulun, bagaimana membayangkan nasib anak-anak kelas 1- III, rela jalan melintas hutan semak-semak. Sebuah beban baru yang mereka sendiri tidak bisa mengerti, mengapa harus terjadi seperti ini.

Lalu bagaimana dengan dana BOS untuk SD Negeri Oevetnai. Tidak mungkin pihak Bank mengeluarkan dana BOS untuk SD Negeri Oevetnai melalui sekolah induk SDN Weulun. Lalu siapa yang gunakan dana BOS ini, jika sekolahnya sudah ditutup.
Meskipun Bupati Malaka kembali menyatakan akan membangun sekolah model untuk SDN Oevetnai dan menyiapkan kendaraan untuk jemput-antar anak-anak ke SDN Weulun, namun bagaimana dengan nasib anak-anak di dusun Fatumetan. Mengapa nasib anak-anak eks SDN Oevetnai asal Fatumetan tidak dijemput dengan kendaraan. Bupati Malaka harus tahu sejarahnya, karena SDN Oevetnai didirikan atas inisiatif dan partispasi warga kedua dusun di perbatasan ini. Dan Anak-anak Indonesia berhak untuk bersekolah dimana saja dan negara wajib memperhatikan dan membiayainya, itu perintah UUD 1945 pasal 31 ayat(1) dan (2). Ini bukan perbatasan antar negara.

Saya pun menyesal dengan tindakan Bupati Malaka mengirim orang-orang mabuk untuk mengacaukan kegiatan bela rasa di SD Negeri Oevetnai, dari team Patroli Garuda_Peduli Anak Negeri Kupang yang di pimpin Gusty Rhikarno. Mereka dengan susah payah berjuang mengajak sesama anak bangsa untuk peduli terhadap masa depan generasi bangsa di Oevetnai. Bupati Malaka, seharusnya bersyukur dan berterimakasih karena masih ada pemuda bangsa di negeri ini dari luar anak tanah Malaka yang bersedia, berkorban untuk peduli dengan nasib rakyatmu. Kehadiran kami, baik dari Jogja maupun teman-teman dari Kupang adalah murni panggilan nurani sebagai anak-anak bangsa yang senasib dan sepenanggungan.

Kontibutor: Bung Sila, Komando Brigade Pancasila Sakti.

0 Comments

Leave a Comment

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password