breaking news New

Foklore Tentang Liang Bua di Manggarai-Flores

Foklore Tentang Liang Bua, di Desa Liang Bua Kecamatan Rahong Utara Kabupaten Manggarai.

Liang Bua mempunyai mitos. Mitos itu sudah diwariskan secara lisan dari generasi ke generasi tentang penghuni pertama Liang Bua.

Namun sebagai mitos ia hanya menjadi bagian dari budaya lisan yang ‘agak sulit’ diterima sebagai kebenaran untuk sebuah penelitian ilmiah. Ia (tradisi lisan) hanya menjadi referensi jika dibutuhkan. Apalagi saksi sejarah tradisi lisan telah tiada.

Terlepas benar atau tidaknya tradisi lisan itu, setidaknya ada makna yang tersirat di balik semua cerita itu. Ada pesan yang dapat memberi pencerahan bagi kita bahwa mitos dapat menjadi salah satu medium penting untuk mengetahui secara komprehensif misteri Liang Bua itu.

Reba Ruek Manusia Misteri dari Liang Bua

Konon, ada dua pemuda bernama Mambo dan Magang. Pada suatu ketika keduanya berburu. Salah satu sarana buruan adalah anjing. Ada seekor anjing yang diberi nama Jitong. Pada saat mengejar buruan seekor babi hutan, Jitong masuk dalam gua mengikuti jejak babi hutan.

Gua itu baru pertama kali dilihat oleh Mambo dan Magang. Keduanya mengetahui jika anjing Jitong mengejar babi hutandan masuk ke dalam gua. Kedua pemuda itu menunggu dengan setia di luar gua mengharapkan Jitong segera keluar.

Lantaran kecapaian berlari mengejar buruan dan sengatan matahari mereka mulai merasa haus. Karena hari makin senja dan sinar matahari masuk gua, tampaklah ekor Jitong. Aneh bin ajaib, babi hutan yang mereka kejar berubah menjadi burung puyu dan masuk ke salah satu lubang dalam gua itu. Jitong pun ikut masuk lebih dalam ke gua itu. Karena rasa sayang pada Jitong, keduanya nekat mengikuti Jitong masuk dalam gua.

Pada saat mereka menyisiri gua, tiba-tiba ada percikan air dari langit-langit gua. Titik-titik air itu menyerupai mata dewa. Karena sangat haus, keduanya menadahkan telapak tangan dan meminumnya.

Air yang menetes dari langit-langit gua dalam bahasa setempat disebut wae mantir. Air itu sangat dingin. Akibat kedinginan yang berasal dari titik-titik air yang jatuh dari langit-langit gua mereka berteriak, “Oleeeeeee, ces tu’ung wae ho’o e, neho keta bua” (terjemahan bebas: Astaga dingin sekali air ini seperti es).

Kedua pemuda itu sepakat untuk memberi nama gua yang mereka temukan itu. Ada dua kata yang disepakati yakni liang dan bua. Liang artinya gua dan bua artinya dingin. Liang Bua artinya gua dingin.

Meski terkenal dingin, gua itu sering menjadi tempat berteduh di kala hujan, kepanasan atau sekadar melepas lelah. Mambo dan Magang sering berteduh di gua itu. Mereka tidak sadar bahwa dalam gua itu sebenarnya ada penghuni.

Suatu ketika, pada saat Mambo dan Magang sedang berteduh dalam gua, tiba-tiba muncul dua orang laki-laki. Satu diantaranya mengaku bernama Reba Ruek (Reba artinyapemuda ganteng, Ruek artinya kerdil). Kedua pemuda penghuni Liang Bua itu menaruh hormat kepada Mambo dan Magang yang berteduh di gua itu.

“Oe ase kaen, delek ta, rantang hanang koe gami ce’e ho’o. Mai ga tite kaeng cama laing. Ai eme ite kaeng cama-cama, depa de senang, cama lewang nggere peang, cama poe nggere one, (Hai saudara, kami berterima kasih banyak atas kehadiran kalian. Agar kami tidak sendirian di tempat ini, marilah kita tinggal bersama-sama. Sebab jika kita tinggal bersama, maka kita akan memperoleh kebahagiaan, bersatu melawan segala bentuk rongrongan yang datang dari luar)

Namun karena postur tubuh penghuni Liang Bua sangat kecil dan berbulu, Mambo dan Magang ketakutan. Keduanya berlari sambil berteriak seperti kesetanan. Sementara itu, dua manusia kerdil yang mau bersahabat dengan mereka itu risih dan geli melihat tingkah Mambo dan Magang. Kedua pemuda itu pun menghilang, tanpa jejak. Kehilangan secara misterius keduanya membuat Mambo dan Magang semakin takut dan kemudian lari pontang-panting menuju kampung Teras melewati Wae Racang.

Mereka terus berteriak. Apa yang mereka alami dan saksikan tentang manusia kerdil yang muncul dari Liang Bua diceritakan kepada warga yang mereka jumpai. Setelah menjelaskan ihwal manusia misterius, keduanya kesurupan dan mengeluarkan darah segar dari mulut serta hidung. Akhirnya kedua pemuda itu mati mengenaskan di halaman kampung Teras.

Warga kampung berkesimpulan bahwa Mambo dan Magang mati secara tak wajar karena dikejar makhluk aneh dari gua besar yang jaraknya 2 km dari kampung Teras. Sebelum menghembuskan nafas terakhir, keduanyamenyampaikan temuan gua dingin yang telah mereka beri nama Liang Bua. Nama Liang Bua tetap dipakai samapi saat ini.

Sejak kematian Mambo dan Magang, warga kampung sangat takut, bahkan tidak lagi memburu babi hutan. Takut terhadap Reba Ruek yang diyakini sebagai penguasa alam sekitar. Kabar kematian Mambo dan Magang tersiar di seluruh negeri bahkan sampai di Bima dan Gowa karena hubungan perkawinan.

Diceritakan pula, sejak kematian dua pemuda itu, Reba Ruek selalu berusaha membangun persahabatan dengan warga kampung Teras. Namun tragedi kematian Mambo dan Magang membuat warga setempat enggan bersabahat dengan pemuda penghuni Liang Bua itu. Reba Ruek tetap berusaha menjalin relasi dengan warga sekitar. Bahkan karena kekuatan mistik yang dimilikinya, Reba Ruek mencoba hadir dalam mimpi-mimpi, baik orang tua atau siapa saja yang mempunyai kepekaan jiwa untuk bermimpi. Kehadiran Reba Ruek dalam mimpi ditafsir sebagai pertanda malapetaka yang akan menimpa orang yang bermimpi. Setiap ada mimpi berkaitan dengan Reba Ruek selalu digelar ritus tolak bala berupa satu butir telur ayam. Ritus itu disebut kando nipi ( kando artinya membuang, Nipi artinya mimpi).

Suatu saat Reba Ruek hadir dalam mimpi seorang yang bernama Seta. Dalam mimpi Reba Ruek mengajak jika ingin melihat dirinya bisa datang menyaksikan melalui bola api yang melejit dari Liang Bua menuju Wae Mulu. Bola api yang dapat dilihat secara kasat mata itu disebut. ‘wera’ (wera artinya cahaya). Munculnya ‘wera’ diyakini warga setempat sebagai tanda bencana kematian bagi warga kampung Teras dan sekitarnya.

Tanda ini telah menjadi keyakinan bagi warga Teras, Bere, Langke, Ajang dan Beokina.
Mitos ini belum tentu benar, karena mitos tidak bisa mengandalkan logika berpikir. Kita percaya bahwa segala sesuatu ada penghuninya termasuk Liang Bua. Seperti apa makhluk Liang Bua? Masih banyak hal yang perlu dikonfirmasi secara ilmiah pula. Masih banyak informasi yang harus digali dan dicermati lagi.

Oleh: Willy Grasias

0 Comments

Leave a Comment

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password