breaking news New

Kami Belajar Dari Maria

Oleh: Anita Anggriany Amier*

Kematian Jurnalis Palu Ekspress, Maria Yeane Agustuti (34) tahun, bagi kami tidak hanya menimbulkan kesedihan dan duka mendalam. Ini bukan hanya karena selama hidupnya Maria memberi kontribusi besar pada perusahaan.

Dia pekerja keras. Dia menjadi representasi dari perusahaan tentang bagaimana seharusnya sikap jurnalis Palu Ekspress di mana dia berada, beradab, santun, namun tegas dan memiliki isi kepala.

Pada perusahaan, Maria menunjukan loyalitas, pengabdian tanpa pamrih, ketulusan, persahabatan, serta kekeluargaan. Bukannya tak banyak yang mengajaknya untuk pindah ke perusahaan media lain. Namun bertahan dengan kami, itu bagian dari kesetiaannya.

Di tengah kondisi perekonomian yang mempengaruhi naik turunnya omzet perusahaan, di pagi hari yang dingin di paruh Februari 2017, Maria menelpon saya yang sedang berada di Makassar untuk mengikuti pra Rapat Umum Pemegang Saham perusahaan. Kami membicarakan banyak hal tentang pekerjaan.

Dan di akhir pembicaraan, Maria menyemangati saya,”Semangat Bunda!!! Kita sama-sama berjuang di Palu Ekspress hingga titik darah penghabisan,…!!”

Di tengah keharuan dada, kami sama-sama terbahak mendengar kata-katanya itu. Lalu dia menutup salam takzim,” Selamat pagi Bunda… Tuhan Memberkati”.

Tak kami nyana hingga di akhir hayatnya, Maria pun meninggalkan hikmah dan pelajaran besar bagi kami pribadi dan teman-teman di Palu Ekspress. Tentang apa arti kesetiaan dan pekerjaan menjadi bagian dari religiusitasnya.

Rasa-rasanya tak banyak yang kami berikan kepada Maria secara materi selama dia bekerja di Palu Ekspress, selain kewajiban sebagaimana umumnya perusahaan kepada karyawan. Namun dedikasinya menjadi bukti bahwa hidup ini tak melulu soal bagaimana untung rugi. Saya dapat apa? Apa yang bisa saya raih secara material?

Tak pernah berlebihan dalam keseharian, Maria selalu bersahaja dalam apa saja. Baik penampilan, sikap, dan tutur kata. Hanya saja, dia tak bersahaja dalam pekerjaan. Selalu maunya sempurna.

Menulis panjang dan tuntas. Sering dia lupa bahwa tenggat waktu atau deadline redaksi sudah di ujung tanduk. Dengan lembut dia membalas teriakan saya yang memburu tulisannya dengan sahutan ,”sedikit lagi bunda,” atau dengan wajah memelas di tengah waktu yang tak tersisa,”Bunda, masih bisa saya menulis satuuu saja berita?”

Dan, siapa tak luluh dengan kelembutannya, dengan wajah teduhnya. Saya tak pernah bisa menolak, selain menggeser berita lain untuk mengganti dengan beritanya di ujung deadline.

Tak pernah kami dengar sedikitpun komentar buruk tentang bagaimana dia bekerja, latar belakang hingga dia pindah bekerja, sikap pribadinya dalam keseharian selain kebaikan. Dia lembut, tetapi tegas dalam urusan pekerjaan. Dia tak segan memberikan pertimbangan kepada saya untuk melepas wartawan yang memiliki sikap yang tidak sesuai dengan profesi jurnalis.

Menurutnya, lebih baik dia mengerjakan sendiri, daripada dirusak oleh orang yang hanya mengambil kepentingan pribadi dari perusahaan.

Namun di sisi lain, Maria tak bisa tegas ketika berhadapan dengan urusan hati kepada suami dan rumah tangganya. Sebagai jurnalis, apalagi perempuan, Maria tentu tahu sekali bagaimana harus bertindak dalam menghadapi kasus Kekerasan Dalam Rumah Tangga. Tetapi dia memilih mencintai suaminya, menjaga rumah tangganya dan menjadi martir untuk keyakinan yang dipegangnya teguh.

Bahwa “Apa yang dipersatukan Tuhan, tidak boleh dipisahkan oleh manusia. Hanya maut yang memisahkan. Pun dalam beberapa kali kami berdiskusi di sela-sela rehat di Kantor, Maria meyakini bahwa “Apa yang kini diperjuangkan, Akan Indah pada waktunya”. Kata-kata yang dinukil dari Imannya sebagai umat Katolik yang taat. Kami biasa saja mendiskusikan soal ajaran agama yang masing-masing kami anut. Dia Katolik dan saya Islam.

Sebagai perempuan, juga awam, seringkali saya kesal, melengos dan sengit dengan sikapnya yang tetap bertahan dengan berbagai kekerasan yang dialaminya. Tetapi, perempuan kelahiran, Ruteng, 19 Agustus 1983 ini, hanya mengangguk dan menyemburatkan senyuman ketika menerima nasihat yang cenderung keras dan bertentangan dengan pilihannya itu. Jawabannya selalu pasti,”Biarlah saya berteguh dalam keadaan ini bunda. Nanti akan selalu saya bawa dalam doa”. Maria pernah cerita bahwa di Gereja dia selalu berdoa di hadapan Patung Bunda Maria, memohon diberi hati yang penuh cinta, sabar, serta meminta perlindungan.

Pastor Quirinus Sutrisno, kakak kandung Maria, membenarkan sikap teguh adik kesayangannya itu. Pastor Tris, mengaku sering berkomunikasi dengan Maria soal rumah tangganya, soal suaminya Rinu Johanes Sandipu, termasuk tentang keyakinannya.

“Sebagai pribadi saya berduka dengan kematian adik saya dengan cara tragis. Tetapi, dengan religiusitas saya, saya memahami ada misteri Tuhan atas kepergiannya.” Pastor juga mengatakan, sebenarnya dia merasakan bahwa pada suatu saat, Maria akan pergi lebih dahulu. Mengingat curhatan Maria tentang rumah tangganya.

“Saya seperti menanti kapan hari itu tiba,” tuturnya dalam. Pernah pula dalam mimpi doanya, Pastor Tris berlutut di tanah yang kotor, namun kepalanya mendongak ke atas melihat langit yang berlapis-lapis awan. Dengan tangannya, Pastor Tris menyibak awan-awan gelap itu sampai di lapisan terakhir terbuka dan tampak cahaya terang yang menyilaukan mata. Namun di ujung cahaya terang itu, ia melihat Maria berjalan bergandengan tangan dengan seorang anak kecil.

“Mungkin saja ini anaknya, sebab sekarang Maria sedang mengandung,” ujar Pastor Tris tegar. Pastor ini meyakini adiknya sudah mempertimbangkan matang sebelum mengambil konsekuensi terikat dalam pernikahan.

Pengakuan Pastor Tris ini pulalah yang menenangkan perasaan saya, kalaupun pada akhirnya Maria pergi dengan cara yang tragis, saya tetap mensyukuri dan menghormati. Sebab dia pergi dengan membawa keyakinannya. Bukankah itu yang diinginkan oleh semua makhluk beragama, mati dalam keyakinan Aqidah iman kita..?

Di hari kematiannya, begitu banyak yang memberi penghormatan terakhir. Di hari itu saya melihat hasil kerja ikhlas, kerja keras tanpa pamrih yang selama ini Maria lakukan. Ada banyak orang membantu, sumbangan berdatangan dari berbagai kalangan, baik berupa materi maupun non materi. Mulai dari Palu hingga Jakarta dan NTT memberi perhatian kepada Maria. Tak kurang Gubernur Sulawesi Tengah, H Longki Djanggola bertandang khusus melihat Maria disemayamkan, di Minggu sore, 19 Maret 2017.

Mengenang hidupnya yang sederhana, bersahaja, tak banyak berkata-kata, meskipun juga ada saja ceritanya yang membuat kami tertawa, tak terbayangkan akan banyak orang yang merasa kehilangan, memberi testimoni tentang kebaikannya.

Setelah tiga hari yang terik kematiannya, di Senin pagi 20 Maret 2017 yang cerah, Maria diterbangkan menuju ke tempat beristirahatnya terakhir di kota dimana dia dibesarkan, Ruteng, NTT. Saya dapat kabar, Jenazahnya akan disambut Bupati Ruteng NTT.

Hebat Maria!! Ngana memang layak mendapatkan semua kehormatan itu di muka bumi. Karena ngana menjaga dan memegang teguh keyakinanmu yang bersumber dari langit. Terima kasih untuk pelajaran, hikmah, dan nasihat hidup yang ngana tinggalkan untuk kami.

*Pemimpin Redaksi Palu Ekspress 

1 Comment

Leave a Comment

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password