breaking news New

Konsistensi Penolakkan Pabrik Semen Hingga Akhir Hayat

Oleh: Muh Sutri Mansyah

Penolakkan pembangunan pabrik semen di Rembang, Jawa Tengah telah berkali-kali dilakukan oleh para petani kendeng. Aksi turun jalan disertai dengan teatrikal menjadi alat penyambung kegelisahan agar dapat menyampaikan pendapat, sehingga masyarakat tergugah hatinya untuk ikut partisipasi dalam penolakkan tersebut.

Apalagi, pemerintah sebagai pihak eksekutor kebijakan sudah seharusnya mendengar keluh kesah masyarakat kendeng tersebut, bukannya malah membiarkan mereka berteriak-teriak di jalan dengan perasaan ketidakadilan yang dialami oleh mereka, kemana pemerintah?

Apalah arti vox populis vox dei (suara rakyat suara tuhan). Istillah tersebut seolah tidak memiliki arti apa-apa jika melihat konflik yang terjadi antara para petani kendeng dengan pemerintah pusat maupun daerah (Jawa Tengah). Realitas dengan sendirinya telah menjawab dengan cara ketikdakadilan.

Ketidakadilan yang terjadi baik politik, sosial, ekonomi, bahkan hukum pun seolah menajamkan dirinya kepada swasta daripada masyarakat lemah. Hal ini mengafirmasi ungkapan seorang tokoh sosiolog bahwa “negara sebagai instrumen para pemilik modal”.

Menurut penulis, perbuatan pemerintah yang berdampak pada masyarakat kendeng adalah bentuk kebungkaman dan seolah menutup telinga untuk mendengar aspirasi mereka. Kebungkaman tersebut dilakukan dengan cara represif oleh aparat-aparat penegak hukum (polisi dan tni) sehingga memicu konflik vertikal antara masyarakat kendeng dengan aparat. Tentunya hal ini sangat disayangkan, karena seharusnya aparat itu adalah pengayom masyarakat dan cerminan dalam berbangsa serta bernegara. Akan tetapi malah menjadi lawan masyarakat.

Namun perjuangan para petani tidak pernah surut sampai akhirnya salah satu peserta bernama Bu Patmi meninggal dunia dengan dugaan sakit jantung. Ibu Patmi meninggal  setelah melakukan aksi bersama peserta lainnya dengan cara mengecor kakinya dalam kotak yang berisi semen sebagai simbol penolakkan pembangunan pabrik semen.  Tentunya mendengar hal tersebut siapa yang tidak terpanggil hatinya untuk melakukan dukungan terhadap para petani tersebut.

Dengan meningggalnya bu patmi seharunya menjadi pelajaran untuk pemerintah agar lebih cepat tanggap menyelesaikan konflik ini agar masalah Kendeng tidak berlarut-larut.

0 Comments

Leave a Comment

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password