breaking news New

Privatisasi Air dan Dampaknya Bagi Masyarakat

“Air adalah kehidupan. Kehidupan di bumi bergantung sepenuh pada ketersedian air”

Oleh: Arnol Jemadu

Setiap ciptaan yang ada di muka bumi pasti membutuhkan air. Untuk manusia kebutuhan akan air menjadi hal yang substansial dalam hidup. Sebab, dalam tubuh manusia selalu membutuhkan jumlah air yang cukup banyak untuk keberlangsungan hidup manusia itu sendiri. Dua pertiga dari tubuh manusia itu sendiri terdiri dari air. Karena itu, Goethe menulis, “Everything orignated is the water, everything is sustained by water – Air adalah kehidupan. Kehidupan di bumi bergantung sepenuhnya pada ketersedian air”.

Namun demikian, kebutuhan air minum yang menjadi kebutuhan dasar dalam diri manusia kini menjadi barang komoditi yang diperjualbelikan kepada masyarakat. Hal ini didukung oleh kemampuan manusia dalam bidang teknologi sehingga bisa mendapatkan air yang bersih. Keadaan membuat kaum kapitalis berlomba-lomba untuk memprivatisasi mata air dalam masyarakat serta mendirikan perusahaan air dalam kemasan. Darinya, kaum kapitalis sebagai pemilik perusahaan air minum mendapatkan keuntungan sebesar-besarnya.

Di satu sisi, kecanggihan teknologi seperti ini memang membantu manusia. Melaluinya, kebutuhan air minum yang bersih dalam diri manusia bisa terpenuhi. Selain itu, hal ini membantu masyarakat untuk mendapatkan air minum tanpa harus merepotkan diri untuk memasak air seperti kebiasaan masyarakat pedesaan pada umumnya. Dengan duit lima ribu rupiah, masyarakat dapat mengisi ulang air pada galonnya.

Namun privatisasi membawa pengaruh negatif terhadap masyarakat pada umumnya. Ketika air minum sebagai kebutuhan dasar diperjualbelikan untuk mendapatkan keuntungan, maka hal ini merugikan masyarakat kecil dalam kehidupan sehari-hari. Mereka yang tidak mampu membelinya akan mengalami kewalahan untuk mendapatkan air minum. Akibat lanjutnya, masyarakat yang tidak mampu akan mati kehausan.

Air sebagai Harta Bersama

Tentang privatisasi air oleh pihak ketiga memang menjadi soal tersendiri dalam kehidupan bermasyarakat. Jika dilihat asal mulanya, kesedian air dalam alam semesta bersumber dari penyerapan air hujan yang berlansung miliaran tahun di dalam muka bumi. Penyerapan yang berlansung dalam waktu yang cukup lama serta dalam proses alamiah menghasilkan mata air yang dapat memberikan kehidupan kepada banyak orang.

Dengan ini, air dalam alam semesta merupakan sebuah harta bersama yang mesti dijaga dan dirawat demi kebaikan bersama pula. Hal ini ditegaskan dalam komite PBB tahun 2002 menegaskan, “Air harus diperlakukan sebagai harta sosial dan budaya bukan semata-mata sebagai komoditi ekonomi yang diperjualbelikan kepada masyarakat”. PBB menghendaki pemakaian air untuk memenuhi kebutuhan pokok manusia akan air sehingga tidak ada mati kehausan karena ketiadaan uang untuk membeli air.

Selain privatisai air membawa dampak pada masyarakat kecil dalam mendapatkan air minum sebagai kebutuhan pokoknya, privatisasi air juga membawa dampak bagi petani. Jika mata air yang ada diprivatisasi, maka jumlah air untuk persawahan semakin berkurang. Hal ini membawa dampak negatif terhadap petani kecil yang membutuhkan air dalam jumlah yang cukup banyak. Padahal data di lapangan memperlihatkan bahwa penggunaan air terbesar dalam masyarakat adalah para petani. Mereka memanfaatkannya untuk persawahan tempat mereka berkeja untuk mendapatkan beras.

Ketiadaan air akan membawa mereka pada sebuah situasi gagal panen. Sebab, untuk proses reproduksi dalam tanaman padi membutuhkan dua unsur utama yang penting. Kedua unsur itu adalah karbondioksida (C02) dan air (H20). Ketika dua unsur ini tidak seimbang dalam tanaman, maka tanaman tidak bisa berbuah dan menghasilka panen yang berlimpah bagi petani.

Keadaan ini membawa pengaruh besar pada kehidupan bangsa. Ketika petani mengalami gagal penen, maka hal ini berdampak penuh pada kebutuhan pokok umat manusia pada umumnya dan Indonesia pada khususnya. Orang akan menderita kelaparan karena ketiadaan makanan. Posisi petani sebagai basis ketahanan pangan nasional menjadi hancur. Hal ini membuat negara memilih jalan tengah untuk mengimpor beras dari luar negeri. Sebab jika tidak demikian, masyarakat akan menderita kelaparan serta berakibat pada kematian.

Untuk itu, air dalam kehidupan selayaknya dikembaikan sebagai harta bersama dan dirawat secara bersama. Privatisasi akan air hanya mendatangkan kerugian kepada masyarakat kecil dan lebih khusus para petani. Karena itu, negara perlu menjaga sumber air yang ada sambil memanfaatkan untuk kepentingan semua orang tanpa harus diperjual belikan untuk kepentingan sekelompok orang tertentu dalam kehiduapan bermasyarakat. Jika tidak, perang semua melawan semua sebagaimana gambaran dari filsul Thomas Hobbes akan terjadi. Masyarakat akan berusaha mempertahankan hidupnya dengan merebut sumber air yang ada di atas muka bumi.

Penulis adalah Mahasiswa STFk Ledalero yang Tinggal di Ritapiret

5 Comments

Leave a Comment

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password