breaking news New

Derita di Balik Pembangunan Waduk Napun Gete

Oleh: Arnol Jemadu

Media massa lokal belakangan ini kembali menarasikan megaproyek pemerintah pusat, yakni pembuatan waduk Napun Gete di Tanarawa, Kabupaten Sikka, NTT. Hal ini memang patut mendapat sorotan dari media karena proyek raksasa ini merupakan salah program khusus Jokowi dalam membangun kesejahteraan dan kemakmuran bagi masyarakat. Di antara 49 megaproyek lainya yang dicanangkan oleh Presiden, Proyek Napun Gete yang ada di Maumere menjadi salah satunya. Namun benarkah pembangunan ini mendatangkan kesejahteraan dan kemakmuran bagi masyarakat yang ada di Maumere?

​Di balik pembangunan proyek besar ini, ada sebuah cita-cita besar pemerintah yaitu pemenuhan kebutuhan airi minum bagi seluruh masyarakat maumere. sawah-sawah yang selama ini mengalami keuranaga air akan diari. Dengan itu masyarakat Sikka tidak lagi mengalami gagal panen tetapi bisa menghasilkan panen yang lebih banyak. Grafik pendapatan daerah dan nasionalpun akan semakin baik dan berjalan dalam koridor untuk menggapai kesejeteraan dan kemakmuran dalam masyarakat.

Derita Masyarakat

Penulis memang tidak menyangkal hal positif dari pembanguan waduk Napun Gete. Sebab memang derita kemiskinan dan kemelaratan masih saja menjadi penyakit kronis untuk kabupaten Sikka. Kekurangan air minum semakin menjadi ceritra besama yang belum sepenuhnya terselesaikan selama ini. Karena itu proyek ini menjadi sebuah berita bahagia bagi masyarakat karena bisa membawa mereka pada ruang kesejahteraan dan kemakmuran melalui ketersedian air untuk irigasi dan air minum.

Namun demikian, kegiatan pembuatan waduk napun Gete menjadi soal dalam masyarakat ketika menindas masyarakat kecil. Hal ini menyata dalam kegiatan pembuatan Waduk Napun Gete yang berada di atas lahan dan pemukiman masyarakat. Janji ganti rugi akan tanah rakyat belum juga terwujud. Dana untuk Ganti rugipun tidak sebanding dengan harta tanah masyarakat. Hingga kini janji ganti rugi itupun tetap menjadi sebuah perdebatan dalam diri masyarakat kecil yang tanah dan pemukiman akan digadekan untuk kegiatan megaproyek Napun Gete.

Selain tentang hak ulayat masyarakat dicaplok, kegiatan Waduk Napun Gete akan merusak nilai kebudyaan masyarakat setempat. Tempat pembuatan waduk napun Gete menyimpan nilai kebudayaan yang sangat berharga dan memiliki nilai sakral yang tinggi dalam pandangan masyarakat setempat. Masyarakat biasa mengadakan ritual adat yang mewajibkan masyarakat setempat untuk mengikutinya.

Keadaan ini akan menjadi lain ketika pembangunan Waduk Napun Gete akan terjadi. Daerah yang selama ini masyarakat hormati sebagai tempat yang sakral menjadi rusak. Hal ini menjadi soal karena manusia tidak terlepas dari budaya itu sendiri. Manusia lahir dari budaya tempat manusia dilahirkan. Karena itu usaha menjaga budaya menjadi sebuah keharusan bagi semua pihak yag lahir dari kebudyaanya sendiri.

Selain itu, kegiatan pembuatan waduk Napun Gete melahirkan penderitan baru dalam diri masyarakat. Hal ini menyata lalam kurang terlibatnya tokoh masyarakat dalam mengambil keputusan akan pembuatan waduk Napun Gete. Masyarakat sebagai tuan tanah tempat kegiatan pembuatan waduk kurang dilibatkan secara menyeluruh dalam membicarakan megaproyek ini. Sehingga dengan demikian, segala tuntutan dan masukan masyarakat kecil belum sepenuhnya didengarkan oleh pemerintah sebagai pihak yang mengambil kebijakan.

Tentang persoalan yang demikian, Peter L. Beger dalam bukunya, Primida Korban, melihat penderitaan dalam hubungan dengan pembangunan dalam dua segi. Pertama, penderitaan fisik. Yang termasuk dalam penderitaan fisik adalah kelaparan, penyakit, penyiksaan, penggusuran, diskriminasi atau penindasan. Kedua, penderitaan makna. Beger melihat penderitaan makna dalam hubungan dengan pembanguan ekonomi yang tidak melibatkan masyarakat (Peter L. Beger,1982:168-191). Hal ini mengakibatkan sebuah pendertiaan karena manusia hanya sebagai objek dalam pembangunan dan bukan sebagai subjek yang terlibat lansung dalam sebuah pembangunan. Pada hal sejatinya pembanguan mesti melibatkan semua pihak terlebih masyarakat yang ada di sekitar tempat pembuatan Waduk Napun Gete.

Tingkatkan Intensitas Dialog

Melihat kenyataan di atas, Pemerintah mesti membangun dialog yang intesif dengan masyarakat sebagai pemilik ulayat. Dialog itu pun tidak boleh tertutup hanya untuk kalangan tertentu saja yang berkepentingan, tetapi semua pihak harus dilibatkan. Dialog itupun yang mengayomi kepentingan mereka yang paling menderita dalam rencana mega proyek ini, yakni para pemilik lahan dan juga para pemilik warisan leluhur (warisan religious dan budaya). Hal ini penting sebab sebuah pembangunan yang mengalami persoalan di masa kini, akan menjadi persolan pula di masa akan datang. Karena itu, pemerintah dan semua pihak yang terkait mesti berani dan mau mendengar keluh-kesah mereka berkaitan dengan jaminan yang diberikan pemerintah. Jaminan pemerintah tidak saja berfokus pada jangka pendek, tetapi juga menjangkau generasi selanjutnya.**

Penulis adalah Mahasiswa STFK Ledalero

4 Comments

Leave a Comment

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password