breaking news New

Ignatius Iriyanto, Siap Berkontribusi Membangun NTT Yang Lebih Maju

Kabarnusantara.net-Hakekat politik adalah mengayunkan langkah untuk menghasilkan dan meningkatkan kesejahteraan umum. Pengertian politik seperti ini harus menjadi dasar bagi siapa saja yang bersedia dan tertarik memasuki dunia politik.

Proses pemilihan kepala daerah adalah proses politik karena melibatkan lembaga-lembaga politik, terutama partai politik. Namun hakekatnya, proses politik itupun dilakukan dengan tujuan mencari pemimpin daerah yang berintegritas dan kompeten dalam meningkatkan kesejahteraan umum.

Membangun NTT berarti siap membuka diri pada semua komponen, sehingga pihak-pihak yang mau berkontribusi secara positip dengan cara-cara yg benar, dapat bersinergi dalam derap langkah yang sama. Komponen CSO, khususnya NGO, lembaga keagamaan, pihak universitas, lembaga riset, swasta, media, BUMN dan BUMD, serta pemerintah harus mengambil porsi saling mendukung, tidak tumpang tindih, apalagi saling mendestruksi. Semua lembaga sama penting karena memiliki tujuan luhur, Bonum Communae, mewujudkan kesejahteraan umum.

Politik memang penuh intrik, namun memanipulasi aspirasi publik untuk meraih kekuasaan dan mendapatkan jabatan demi meningkatkan kemashuran, sudah tidak menarik di era keterbukaan ini. Idola baru pemimpin masa kini harus berintegritas tinggi, sederhana, jujur, mau bekerja keras, dan mau menjadi pelayan bagi masyarat yang dipimpin, plus tulus hatinya. Dr.Ing Ignatius Iryanto, SF, M.Eng.Sc, CSRS memiliki kriteria tersebut.

Ignas Iryanto atau lengkapnya Ignatius Iryanto Djou Gadi Gaa, biasa disapa Yanto adalah putra asli NTT. Lahir di Ende, 28 Februari 1962 dari keluarga pendidik, kedua orang tua, bapa dan mama adalah guru, asal Ende, Flores. Di tahun preschool (TK) 1963 -1966, Yanto kecil ikut orang tuanya tinggal di Kota Kupang, karena ayahnya, Yan Djou Gadi Gaa menjadi guru di SGA Negeri Kupang (sekarang SMA Negeri). Sebelumnya sang ayah mendampingi tokoh Kefamenanu Bapak Johanes Bala Ladjepen mendirikan dan menjadi guru di SGA di Kefamenanu, Timor Tengah Utara.

Ketika ayahnya pindah ke Ende, Yanto kecil menempuh pendidikan di SD Katolik Ende 2, melanjutkan tingkat menengah pertama ke Seminari St. Yohanes Berkhmans Mataloko, Bajawa, dan tingkat menengah atas ditempuh di SMAK Syuradikara, Ende Flores.

Keberanian Yanto untuk tampil dan memimpin, terlihat sejak kecil. Di SD ia menjadi komandan regu Pramuka, menjadi ketua asrama saat belajar di Seminari Mataloko (setingkat SMP), dan menjadi ketua OSIS di SMAK Syuradikara, Ende. Begitu pula dimasa-masa pendidikan tingginya, Yanto selalu terlibat dalam berbagai organisasi dan aktivitas sosial di masyarakat.

Meninggalkan Ende, Yanto menyelesaikan pendidikan S1 di UGM Jogyakarta, jurusan Fisika Nuklir. Setelah menyelesaikan kuliahnya, Yanto lalu ke Jakarta dan mengajar di Universitas Trisakti Jakarta. Yanto sempat juga ngajar di Sekolah TEKNIK, kini SMK Vincentius, di daerah Kampung Ambon, Jakarta Timur.

Pilihan mengajar di sekolah ini pun sederhana saja. Selain supaya dekat dengan kost tempat tinggalnya, sembari melanjutkan S2 di Universitas Indonesia, jurusan Optoelektronika. Setelah lulus S2, Yanto lalu kembali bertugas mengajar di Universitas Trisakti. Darah guru warisan kedua orang tua memantapkan Yanto menjalani profesi dosen.
Melalui beasiswa yang diperoleh, Yanto kemudian melanjutkan S3 Aplikasi Laser dan menyelesaikan disertasi dalam bidang technology Laser di Technische Universitaat, Berlin, Jerman. Melihat banyak ketidakadilan di era orde baru, saat kuliah di Berlin, Yanto tidak berdiam diri.

Saat reformasi, bersama teman temannya sesama aktivis PPI Jerman, ia pernah berusaha mendatangkan Megawati Soekarno Putri ke Eropa setelah peristiwa 27 Juli. Tujuannya untuk menarik perhatian dunia atas proses demokratisasi yang terjadi di Indonesia saat itu. Namun, gagal dan diganti menyelenggarakan seminar mengenai pemilu demokratis di Indonesia, mendatangkan Sekjend PDIP, Alex Litaay, Sekjend PPP Tosari Widjaya, dan Mulyana Kusuma, Sekjend KIPP (lembaga independen pemantau pemilu saat itu), sebagai “koreksi” atas Pemilu yang A demokratis semasa Orde Baru. Partai Golkar dan KPU sebagai lembaga resmi menolak untuk menghadiri seminar itu.

Media Nasional meliputi kegiatan anak anak Berlin ini, saat menggelar diskusi kritis soal kedatangan Soeharto ke Jerman pada tahun 1995, dimana Iryanto menjadi pemandu, yang kemudian menjadi alasan rejim saat itu untuk menjebloskan Sri Bintang Pamungkas ke penjara, karena dianggap sebagai pembangkang. Yanto harus datang ke Jakarta untuk memberi kesaksian di Mabes Polri dan Pengadilan atas kasus tersebut dengan perlindungan ketat aktivis Pro Reformasi. Pasca Reformasi, bersama beberapa tokoh lintas daerah dan agama, Iryanto dua kali mengambil bagian dalam pembentukan dan kepengurusan partai politik baru, namun tidak berlanjut, karena tidak puas terhadap kinerja partai yang ada.

Pada waktu itu, agak sulit memang, menjalankan politik dengan tetap berpegang teguh pada prinsip etik dan moral politik yang benar dan konsisten pada pertimbangan rasional semata. Yanto lalu beralih ke dunia NGO karena yakin ada elemen pengabdian yang lebih konkrit bagi masyarakat.

Bersama sosiolog terkemuka asal NTT Dr. Ignas Kleden dan beberapa tokoh lainnya, mereka mendirikan The Go East Institute yang kemudian berubah menjadi Center For East Indonesian Affairs.

Beberapa aktivitas di Indonesia Timur, antara lain melakukan misi rekonsiliasi konflik Maluku bekerja sama dengan USAID, pendidikan politik pasca reformasi dalam menyongsong Pemilu Demokratis pertama di tahun 2004 bekerja sama dengan KPU dan Pemerintah dengan dana dari Uni Eropa (scope kegiatan meliputi seluruh wilayah Indonesia), serta memberikan pelatihan peneliti Sosial di NTT dengan dana dari Toyota Foundation.

Tujuan diadakan pelatihan tersebut, yakni mendorong perumusan kebijakan publik di NTT berbasis riset dengan dasar data serta analisis yang valid, tidak berdasarkan selera pemimpin daerah semata.
Sayang langkah pembentukan kelompok peneliti sosial ini tidak diteruskan dengan usaha usaha implementasi konkrit karena masalah dana. Salah satu aktivitas sosial yang bersifat voluntary, namun mengandung risiko adalah sebagai ketua tim Paralegal PADMA pimpinan almarhum Pater Dr. Norbert Betan, yang saat itu berusaha menyelamatkan tiga orang terpidana mati di Poso, yaitu Marinus Riwu, Domi Da Silva, dan Fabianus Tibo. Yanto bersama Pater Norbert dan Ketua tim Legal, Roy Rening serta Maximilianus (Mili) berada di Palu ketika akhirnya ketiga putra NTT itu dieksekusi mati.
Mereka berempat yang akhirnya memulangkan jenasah Domi Da Silva ke Maumere, sementara jenasah Fabianus Tibo dan Marinus Riwu telah dibawa ke Desa Jamurjaya, Poso.

Pada tahun 2009, Ignas mengawali profesi sebagai konsultan dalam program IMIDAP (integrated micro hydro development program), kerja sama antara ESDM dan UNDP dengan dana dari GEF (global environment facility), berjuang di bawah Direktorat Energi baru dan terbarukan (kini menjadi dirjen).

Profesi inilah yang mengantarnya langsung bersentuhan dengan pengembangan masyarakat dan berinteraksi dengan lembaga pemerintah dan korporasi. Yanto bertanggung jawab pada rumusan pengembangan kebijakan publik dalam energy baru terbarukan, khususnya energy mikro hidro, penyusunan buku pedoman pengembangan, serta pengembangan usaha produktif di pedesaan dengan memanfaatkan energy listrik dari mikro hidro di siang hari.

Di bawah IMIDAP, Yanto berkeliling Indonesia meninjau proyek mikro hidro di berbagai daerah, memimpin rapat koordinasi dinas dan badan yang terkait dengan pengembangan mikrohidro. Setiap turun ke lapangan bersama tim, Yanto selalu didampingi pakar bidang technology, baik technology mikrohidro maupun teknologi tepat guna bagi pengembangan usaha produktif. Tidak ketinggalan, pakar bidang koperasi yang bertugas mengembangkan lembaga di pedesaan bagi pengelolaan distribusi energy di pedesaan, serta lembaga yang mengembangkan usaha produktifnya.

Pengalaman ini membuka matanya pada masalah yang sering terjadi dalam koordinasi antarlembaga dan dinas/SKPD di daerah, dan yang sangat penting, sulitnya pengembangan kelembagaan produktif di pedesaan, masalah utama yang menyebabkan sulitnya pengembangan desa hingga saat ini.

Iryanto kemudian memasuki dunia korporasi/perusahaan, entitas yang selama aktivitasnya di NGO, dilihat sebagai pusat kapitalisme yang selalu menyengsarakan rakyat demi orientasi profit sebagai tujuan utamanya, hal yang kemudian disadari sebagai sebuah kesimpulan yang terlalu digeneralisasi.

Februari 2010 atas ajakan dan rekomendasi seorang sahabat senior, alumni Keluarga Mahasiswa Katolik Indonesia di Eropa (Jerman), Yanto bergabung dengan sebuah korporasi nasional yang bergerak di sektor energy. Melalui divisi CSR (Corporate Social Responsibility) dan Yayasan korporasi yang dibentuk, Yanto bersama team, bertugas mengembangkan masyarakat di wilayah operasional perusahaan.
Lima pilar pengembangan CSR korporasi sesuai skala prioritas, adalah Pendidikan, Pengembangan Ekonomi Masyarakat, Pengembangan kesehatan publik, Pengembangan sosial budaya, dan Penataan lingkungan yang berkelanjutan, bermuara pada peningkatan kualitas hidup masyarakat.

Pilar pilar ini dituangkan dalam program pengembangan yang dilaksanakan secara sistematis dan terencana, sesuai kemampuan yang dimiliki oleh perusahaan. Pimpinan divisi serta staf CSR di sana mengenal Yanto sebagai pimpinan yang bukan saja sangat piawai dalam merumuskan strategy pengembangan masyarakat melalui program, namun pimpinan yang senang turun ke lapangan, ke pelosok pedesaan, dan berinteraksi langsung dengan masyarakat binaan.
Atas upaya yang dicapai, team CSR di perusahaan tersebut, telah meraih berbagai penghargaan dalam bidang pengembangan dan pemberdayaan masyarakat, dalam skala nasional, regional, maupun internasional.

Hal penting yang dipelajari dalam korporasi ini adalah kesadaran bahwa korporasi merupakan pilar penting dalam pengembangan negara, bangsa, dan masyarakatnya. Banyak korporasi yang menjalankan bisnisnya secara beretika dan memiliki tanggung jawab sosial yang tulus serta melaksanakannya secara substantive dan serius. Kemitraan antara pemerintah dan dunia korporasi dengan melibatkan peran aktif masyarakat adalah kunci keberhasilan dari transformasi masyarakat di daerah.

Peran media juga terbukti sangat penting dalam memberitakan kerja kerja positip yang dapat memberikan inspirasi bagi pihak lain serta juga menambah semangat bagi kader kader dan penggiat yang melakukan pekerjaan transformative tersebut.

Yang dibutuhkan adalah keterbukaan untuk saling melihat kepentingan masing-masing, serta kerelaan untuk merumuskan strategi kemitraan, terutama hal-hal yang menyangkut kepentingan masyarakat.

Jebakan paling berat adalah kemitraan pemerintah dan korporasi hanya digunakan untuk memperkaya aktor-aktor di dalamnya, dengan mengorbankan kepentingan rakyat. Di sinilah integritas seorang pemimpin diuji.

Latar belakang pendidikan yang berkualitas dan rangkaian pengalaman panjang yang variatif, merupakan modal penting memimpin daerah. Dr.Ing Ignatius Iryanto, SF, M.Eng.Sc, CSRS memiliki semua kriteria itu. Sebagai aktivis sosial politik, akademisi, aktivis NGO, manajer dalam korporasi, juga memiliki pengalaman berinteraksi dengan pemerintah dan masyarakat desa.
Layak dan capable sebagai putra daerah untuk kontribusi dalam pembangunan transformative di Nusa Tenggara Timur.

Katharina Ziena Anastasia sang istri, serta tiga putra putrinya, Vincent Aloysius Baraputra (alumnus Fakultas Hukum Universitas Tarumanegara), Berliano Aurelius Baraputra (sedang kuliah di Universitas Atmajaya Jakarta), dan Angelin Gabriella Gayatri (Siswi SMP Santa Ursula Jakarta) mendukung penuh keputusannya.

Partai politik dan masyarakat NTT yang menginginkan perubahan yang substantive, perlu mendukung Dr.Ing Ignatius Iryanto, SF, M.Eng.Sc, CSRS menuju NTT yang lebih baik. (KbN)

0 Comments

Leave a Comment

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password