breaking news New

Menanam Kembali Benih Nasionalisme dengan Mengangkat Nilai Humanisme Lewat Sastra

Oleh: Yogen Sogen

Perjuangan melawan tirani yang tidak pro rakyat adalah perjuangan yang tak akan selesai dalam setiap diskursus yang terus mengalir beriring jalannya waktu. Keresahan-keresahan akan selalu timbul dan terus memanen duka jika rakyat diam dan menikmati kekejaman rezim yang lebih mencondongkan kapitalisme dari rahim humanisme. Keretakan sisi humanisme selalu melumat batin manusia jika nurani telah menjadi batu, jika nurani telah tergenang dalam kubang keserakahan.

Begitupun dengan sastra dan semangat nasionalisme. rezim dewasa ini adalah rezim yang penuh keabu-abuan. Penggiat sastra telah lupa diri. Novel, cerpen, prosa, puisi, yang kritis dan telah terjangkit virus lebay. Novelis, Cerpenis, dan Penyair semakin subur menanam eksistensi diri sendiri ketimbang memperlakukan sastra sebagai manusia yang berduka untuk mengenal kata tersenyum.
Melakukan sastra menjadi manusia berduka dalam makna implisit adalah mendekatkan atau menghadirkan sastra kepada batin manusia untuk menumbuhkan semangat penghargaan atas kehidupan manusia.

Memang pada dasarnya sastra timbul dalam alam imajinasi, dalam dunia rekaan, dan tak tampak realitasnya bahkan tidak dipahami oleh penikmat sastra itu sendiri. Namun sastra adalah suatu corong dalam menuntut zaman yang penuh kesewenang-wenangan. Sastra hadir sebagai bentuk penghargaan dan penghormatan kepada manusia (harus disadari).

Penulis dengan tegas mengatakan sastra pada rezim reformasi adalah sastra yang sibuk pada dunianya sendiri. Sastra yang telah lupa sisi humanisme. Sederhananya sastra yang lebay.

Kita kembali pada sisi Historisitas sastra pada era sebelum kemerdekaan, Orde lama dan orde baru. Kita akan melihat sastra degan begitu binalny menyajikan semangat perlawanan terhadap rezim yang otoriter, penjajahan, dan demokrasi terpimpin. Ia menumpahkan dengan begitu ketat semangat perjuangan seperti contoh puisi “AKU” sang maestro angkatan 45, dengan berani menitikan syairnya bahwa “biar peluru menembus kulitku aku akan terus menerjang, melawan”, ini menunjukkan betapa karyanya sangat melesat ke dalam sisi batin manusia dalam mewujudkan kemerdekaan terhadap penjajahan yang tidak manusiawi.
dan syairnya yang berikut mengatakan “aku ingin hidup seribu tahun lagi”, menjelaskan bahwa ia ingin hidup untuk melihat manusia yang merdeka, manusia yang bebas oleh semangat hidup yang menjadi fakta atas puisinya tersebut. Namun itu adalah dulu dan telah mati, “sekali berarti sesudah itu mati”.

Karya sastra adalah karya yang sangat kompleks. karena ia mengangkat segala sisi kehidupan manusia, sastra harus mengatakan bahwa salah adalah salah, dan benar adalah benar, kemiskinan adalah kemiskinan, kemunafikan adalah kemunafikan, dan lain-lain. Sastra harus demikian. Karena sastra adalah cermin kejujuran paling agung.

Sastra Perjuangan tidak laku-laku.

Saya mengatakan sastra perjuangan tidak laku-laku. Pantas. Karena tidak menyentuh kepada sisi dan pengalaman terdalam Manusia. Sastra perjuangan telah jauh dari batin manusia. Sastra tidak lagi menjadi penghangat bagi nurani manusia. Sastra tidak lagi menghayati nurani manusia, sastra tidak lagi menghargai manusia.
Bahasa-bahasa sastra kian menjauh dan menjadi sebuah kebohongan sebelum menyentuh batin manusia. Alasan hanya satu, karena ia sibuk membahasakan dunianya sendiri (bukan hanya puisi).

Lalu bagaimana sastra mendekatkan dirinya kepada manusia?

Untuk menjawab pertanyaan tersebut para sastrawan dan penggiat sastra harus terbuka dan melepaskan diri pada dunianya sendiri.
Sastra harus keluar dari dirinya dan berbaur dengan manusia dan alam, sastra harus lebih tegas menyerukan kehidupan yang sebenarnya, karena sastra harus memiliki realitas yang ada pada kehidupannya yang kompleks.

Memecahkan rahim kesendirian dan memperbaiki batin menjadi sebuah perdebatan panjang dari setiap kemunculan sastra dengan memerdekakan pikirannya dan juga memerdekakan manusia lain.
Bahwa apa yang diungkapkan sastra adalah hal yang ada dalam pengalaman hidup orang lain dan menunjukkan keutamaan realitas manusia.

Sastra pada era reformasi.

Sastra pada era reformasi adalah sebuah karya yang mandul menceritakan apa yang semestinya dan seharusnya diungkapkan. Sastra pada rezim ini adalah sastra yang buta. Faktanya sastra seperti bingkai purba yang kian lapuk, terkoyak oleh arus globalisasi yang menampilkan daya ruang serba instan, arus globalisasi di dunia Maya lebih menunjukkan bahwa ia mengetahui dan lebih mengerti manusia, bahkan sangat dekat dalam degup jantung manusia modern.

Lalu sastra di mana ia ditempatkan?

Sastra hanya sebagai bumbu pelengkap dan bahan hiburan hati bukan sebagai bumbu utama, ia terkoyak dan retak dalam hidangan era reformasi. Meskipun penggiat sastra mengatakan bahwa “meskipun arus modernisasi semakin empuk, tapi sastra tetap akan bertahan”, secara sadar penulis mengatakan bahwa kondisi sastra tidak demikian adanya, ia semakin terpojok.

Sastra tidak lagi dipandang sebagai sebuah karya yang penuh kehangatan dan penghayatan, ia hanya serupa iklan yang mengganggu sinetron labil dalam kacamata reformasi. Jika sastra menyadari kondisi kritis yang sangat kompleks pada era reformasi, seharusnya sastra lebih gaung dari iklan-iklan kosmetik, kampanye politik yang tidak Pancasilais. Sastra seharusnya memanfaatkan momentum ini sebagai alat penyembuh luka dari pudarnya Nasionalisme di Indonesia, sastra harus lebih tajam dari belati untuk menyatakan bahwa ia adalah sebuah kekuatan yang dilahirkan untuk menyatukan puing-puing kehancuran oleh ketamakan rezim, sastra harus lebih dekat ke pluralisme, harus menjadi garda terdepan dalam bingkai persatuan dan kesatuan NKRI.

Seni, Budaya dan Sastra

Menurut Marcuse, seni dan budaya tinggi hidup dari oposisi terhadap faktualitas datar, dan perlawanan terhadap yang terberi. Seni “memuat rasionalitas pembatahan” (ODM 63), “apa yang semula menyatukan ilmu pengetahuan, seni dan filsafat adalah kesadaran akan jarak yang nyata dan yang mungkin” (ODM 229). Seni membuka kesadaran bahwa sesuatu mempunyai potensi-potensi yang melampaui realisasinya di tempat dan waktu tertentu.

Kedudukan sastra di antara seni dan budaya adalah satu ikatan dalam ruang produksi dan ekspresi jiwa dan lahir dari penggalan historisitas yang kemudian tersusun dalam batin manusia kemudian ia menjadi sebuah karya yang fakta berdasarkan penggalan-penggalan Historisitas itu sendiri.

Penulis merekonstruksi dan mengikat ketiga ruang tersebut (seni, budaya dan sastra) menjadi satu keutuhan yang lahir atas penghayatan yang murni bukan ruang samar, karena ketiga ruang tersebut adalah pengekalan pengalaman.  Penulis ingin mendobrak kenyataan negatif yang mengklaim diri sebagai ketidakbenaran. penulis ingin memberi fakta-fakta atas ambruknya kelahiran sastra yang menyatakan bahwa pengalaman yang disajikan itu cacat.
Tidak selamanya dan tidak semuanya penciptaan manusia lahir atas pencitraan semata dan imajinasi liar. Seni, budaya dan sastra adalah sebuah karya yang lahir atas penghayatan dan harus mendapatkan kedudukan dalam bentuk penghargaan karya.

Nasionalisme dan Sastra.

Jika karya sastra telah lepas jati dirinya dan melupakan ketiga ruang tersebut (seni, budaya, sastra) maka sastra tidak perlu untuk dihargai. Karena kelahiran mereka adalah merupakan produksivitas nilai-nilai sosial dan humanisme. Kelahiran sastra adalah mengekspresikan tatanan budaya dan nilai-nilai yang ada pada dirinya yang dibekali oleh ruang atau situasi sosial disekitarnya ataupun kondisi sebuah negara.

Pembawaan atau ciri sastra hendaknya tidak seperti kuda liar. karena ia mempunyai biduk tersendiri. jika sastra lebih dikenal sebagai peggalan imajinasi, maka sastra harus tahu jalan pulang untuk mementaskan kondisinya atau fakta-fakta. Ini akan membuat sastra dan menegakan sastra sebagai salah satu nasionalisme di era reformasi yang kian memudar.

Yoseph S.Kerobi Sogen adalah Mahasiswa FKIP Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Pakuan Bogor. Penulis Buku Antologi Puisi “Nyanyian Savana”.

0 Comments

Leave a Comment

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password