breaking news New

TPDI: Pernyataan Irene Putri Memperkuat Signyal Setya Novanto Menjadi Tersangka

Jakarta,Kabarnusantara.net – Koordinator Tim Pembela Demokrasi Indonesia (TPDI), Petrus Selestinus, mengatakan pernyataan JPU KPK Irene Putri bahwa Setya Novanto tidak perlu dikonfrontasi dengan saksi lain mengindikasikan adanya signyal kuat Setnov menyusul Miryam S. Haryani menjadi tersangka.

Petrus mengatakan Majelis Hakim Pengadilan Tipikor pada Pengadilan Negeri Jakarta Pusat harus berani menetapkan Setya Novanto sebagai tersangka atas dugaan melakukan sumpah palsu atau memberi keterangan tidak benar dibawa sumpah, segera setelah bersaksi dibawa sumpah dalam perkara tindak pidana korupsi E-KTP a/n. Terdakwa Irman dan Sugiharto menyusul penetapan status tersangka terhadap Miryam S. Haryani (Anggota DPR RI) pasca pemeriksaan sebagai saksi dalam persidangan a/n. terdakwa Irman dan Sugiharto di Pengadilan Tipikor pada Pengadilan Negeri Jakarta Pusat.

“Saatnya Majelis Hakim berani menumbuhkan budaya hukum berupa keberanian mengambil sikap tegas terhadap pejabat tinggi atau mantan pejabat tinggi ketika berkata berbohong dalam bersaksi dibawah sumpah,” kata Petrus, di Jakarta, Sabtu (8/4/2017)

Hal ini, kata Petrus, perlu untuk membantu KPK mengungkap tuntas sejumlah pelaku yang bersembunyi dibalik sumpah palsu yang akhir-akhir ini menjadi mode dalam perkara-perkara korupsi demi melindungi orang-orang kuat secara politik dan ekonomi dalam penyelidikan dan penyidikan perkara tindak pidana korupsi.

Petrus menjelaskan terdapat sejumlah fakta yang menjadi alasan untuk memperkuat Majelis Hakim dapat serta merta memberikan status tersangka karena “saksi palsu” kepada Setya Novanto.

Hal tersebut dikarenakan beberapa fakta persidangan telah mengungkap dengan jelas peran dan posisi strategis Setya Novanto dalam kasus penganggaran E-KTP senilai 5,9 triliun rupiah ini, baik dari kesaksian Irman, Sugiharto dan Diah Anggraini maupun tanggapan Terdakwa Irman dan Sugiharto ketika Setya Novanto bersaksi dipersidangan yang mengungkap peran dan posisi Setya Novanto dalam kasus E-KTP.

Namun Setya Novanto, kata Petrus masih tetap menyangkal fakta-fakta dimaksud meskipun beberapa Saksi dibawah Sumpah dan Terdakwa Irman dan Sugiharto telah membenarkan peran Setya Novanto.

Lebih lanjut Petrus mengatakan pernyataan JPU KPK Irene Putri dalam perkara a/n. Terdakwa Irman dan Sugiharto bahwa Setya Novanto tidak perlu dikonfrontasi dengan saksi lain, merupakan signyal kuat bahwa KPK sudah punya bukti kuat tentang keterlibatan Setya Novanto.

“Karena itu diharapkan tidak lama lagi Setya Novanto bakal menyusul Miryam S Haryani menjadi Tersangka Keterangan Palsu/Sumpah Palsu E-KTP,” ungkapnya.

Fakta-fakta yang mengungkap keterlibatan Setya Novanto, antara lain: Fakta pertama, Surat Dakwaan JPU KPK telah menguraikan dengan jelas keterlibatan Setya Novanto sebagai Ketua Fraksi Golkar dalam menentukan besaran anggaran E-KTP sebesar Rp. 5,9 triliun berikut porsi pembagian di antara mereka.

Fakta kedua, Setya Novanto disebut bersama Fraksi Demokrat mengawal kekuatannya di Komisi II untuk menggolkan anggaran E-KTP sesuai grand design.

Fakta ketiga, dalam Surat Dakwaan JPU KPK untuk Terdakwa Irman dan Sugiharto, Setya Novanto ditempatkan sebagai orang yang bersama-sama dengan Terdakwa Irman, Sugiharto, Diah Anggraeni, Andi Narogong, Muhammad Nazaruddin dan Anas Urbaningrum sebagai telah menyalahgunakan wewenang, memperkaya diri sendiri, orang lain atau korporasi dan merugikan negara triliunan rupiah.

Fakta keempat, kesaksian Setya Novanto membantah tidak pernah ketemu Irman dan Sugiharto dalam kaitan dengan proyek penganggaran dan pengadaan E-KTP telah dibantah melalui tanggapan Terdakwa Irman dan Sugiharto serta Saksi Diah Anggraini. Bantahan Irman, telah diperkuat oleh kesaksian Ade Komarudin yang menyatakan bahwa “Setya Novanto saat berkunjung ke rumah Ade Komarudin” sempat menyatakan “Beh, kalau soal e-KTP aman Beh” dan kesaksian Ganjar Pranowo tentang pesan Setya Novanto agar “jangan galak-galak soal e-KTP”, serta kesaksian Diah Anggraini tentang pesan Setya Novanto “tolong sampaikan ke Irman, kalau ketemu orang, ditanya bilang tidak kenal saya”.

Dari konstruksi Surat Dakwaan Jaksa Penuntut Umum dalam perkara Terdakwa Irman dan Sugiharto dan perkembangan pemeriksaan saksi-saksi dalam perkara Terdakwa Irman dan Sugiharto, menguatkan keterlibatan Setya Novanto pada beberapa posisi tindak pidana, yaitu sebagai orang yang karena kekuasaan. (KbN)

0 Comments

Leave a Comment

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password