breaking news New

Buya A. Maarif dan Tito Karniavan Hadir Saat Semiloka di Menteng

Jakarta, Kabarnusantara.net– Seminar dan lokakarya (semiloka) yang bertajuk “Indonesia di Persimpangan: Negara Pancasila vs Negara Agama”, pada Sabtu (08/04/2017) siang yang berlangsung di Hotel Aryaduta, Menteng, Jakarta diikuti oleh 300 peserta berjalan dengan baik dan sukses.

Acara Seminar dan Lokakarya (Semiloka) ini diselenggarakan atas dasar keprihatinan bersama melihat maraknya politisasi perbedaan identitas di masyarakat secara massif, terutama identitas agama, akhir-akhir ini.

Sudah bukan rahasia bila tujuan dari politisasi tersebut cenderung sebagai propaganda demi memenangkan persaingan dalam meraih kekuasaan politik dan akumulasi modal. Atau sebagai bentuk provokasi untuk mengubah ideologi negara. Yang pasti, politisasi tersebut tidak memberi manfaat bagi kebaikan dan kesejahteraan hidup bersama.

Semiloka ini diselenggarakan bersama oleh Conference on Religion and Peace (ICRP) dan Institute for Interfaith Dialogue in Indonesia (Institut DIAN/Interfidei) Yogyakarta dan didukung oleh Jaringan Antar-Iman Indonesia (JAII), Maarif Institute, Aliansi Nasional Bhinneka Tunggal Ika (ANBTI), dan Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) Republik Indonesia dan Serikat Jurnalistik Keberagaman (SEJUK).

Acara ini dibuka oleh yang mewakili Menko Kemaritiman Jend. Purn. Luhut Panjaitan, Buya A. Syafii Maarif sebagai Keynote speaker, Kapolri Jend. Tito Karnavian juga turut hadir sebagai pemateri.

Dalam seminari ini Buya A. Syafii Maarif sebagai Keynote Speaker mengungkapkan rasa bahagia karena dirinya hadir dan duduk bersama para idealis.

Syafii Maarif mengatakan bahwa Sebenarnya, sejak kita merdeka, 17 Agustus 45, dasar negara Pancasila tidak pernah berubah. Sudah 71 tahun merdeka, kesenjangan sosial-ekonomi makin tajam. Pancasila, di atas Ketuhanan YME, di bawah ada keadilan sosial. Tapi itu masih menggantung, rakyat bergumul dengan kemiskinan dan narkoba.

Menurut Maarif, ada misleading fanatisme. Karena kesenjangan begitu tajam, maka seperti ISIS, pengikutnya ada di sini. BNPT membina lebih dari 1000 mantan kombatan. Tapi tidak akan efektif selama nilai-nilai Pancasila di bawah tidak turun ke bumi.

“Saya lelah sebenarnya kenapa negara sebesar ini, sebagian besar Muslim, terpecah dan saling menghujat. Suriah, Irak, Mesir dst. sudah hancur. Kita boleh menyalahkan Barat tapi juga harus tahu bahwa itu bisa masuk karena kita rapuh”, lanjut Maarif.

Buya A. Syafii Maarif juga menambahkan, Jujur tidak kita bela bangsa ini? Sungguhkah? Itu harus datang dari hati dan akal sehat. Jangan pakai topenglah. Topeng-topeng itu sekarang di mana-mana dan merusak. Pendukung segala sempalan yang ingin ganti Pancasila bersuara lantang karena yang mayoritas diam.

“Aparat harus peka. Kalau politisi di Senayan agak sulit sekarang, walau tidak semua. Negara Anda, negara saya, jangan biarkan tenggelam”, tutur Maarif.

Dipihak lain, Kapolri Tito Karnavian menegaskan bahwa Ideologi tidak pernah hilang dengan kekerasan, tapi dengan ideologi yang lain. Terhadap radikalisme, yang dibutuhkan adalah ideologi Pancasila, ideologi Islam sinkretik khas nusantara (Islam Nusantara, Islam Berkemajuan), dan ideologi demokrasi.

“Yang kami butuhkan adalah dukungan masyarakat dan hukumnya ada. Kami pasti maju. Jadi legitimasi sosial saja dari Anda, sisanya serahkan pada kami”, lanjut Jend. Tito. (Tiburtius/KbN)

2 Comments

Leave a Comment

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password