breaking news New

Ketua PMKRI Yogyakarta: Pluralisme Adalah Memahami Perbedaan Sebagai Kekayaan

Yogyakarta, Kabarnusantara.net – Menanggapi fenomena kebangsaan kita yang akhir-akhir ini menuai banyak persoalan serius. Seperti penggunan politik identitas dalam berbagai praktik-praktik ketidakadilan, kekerasan, dominasi yang semuanya mencatut SARA tentunya menuntut banya pihak untuk menaggapinya dengan serius.

Ketua Presidium PMKRI St. Thomas Aquinas Cabang Yogyakarta, Romualdus Lalung dalam seminar Kebangsaan Cipayung DIY yang mengusung tema “Damai Indonesiaku, Harmoni Bangsaku” menyoal lebih jauh makna pluralisme di indonesia saat ini.

Menurut Lalung, pluralisme itu harus diketahui (to know), di lakukan (to do), dan dihidupi dalam kebiasaan atau harus menjadi habitus (to libe) sehingga mampu untuk hidup berdampingan atau hidup secara bersama-sama di tengah perbedaan yang ada (to life to gether).

“Bicara pluralisme saya lebih menekankan pada 3 poin penting yaitu bagaimana semua orang memahami sebuah perbedaan sebagai kekayaan atau pluralisme, kemudian harus dilakukan dan diharapkan menjadi sebuah kebiasaan sehingga kehidupan bersama itu bisa berjalan dengan baik”, papar Lalung

Membaca pluralisme dari iman Katolik, Lalung menekankan kepada pribadi Yesus Kristus sebagai suri teladan yang baik. Mulai dari ketika Yesus bergaul dengan pendosa, penyakit kusta, pemungut cukai dan ketika dimana Yesus melihat Allah sebagai pusat kehidupan. Pengorbanan Yesus dilihatnya sebagai bagian dari penghargaan atas perbedaan dan ketidakadilan.

“Keteladanan Yesus sebagai manusia yang menghargai perbedaan terlihat ketika Yesus berbicara dengan prempuan Samaria, berkunjung ke rumah Sakeus sang pemungut cukai atau ketika Yesus mengampuni Maria Makdalena. Yesus juga melihat Allah sebagai pusat kehidupan maka, manusia sebagai citra Allah juga harus bisa melihat sesama sebagai secitra dengan mnghormatinya. Pengorbanan Yesus adalah bagian dari penghargaan atas perbedaan dan ketidakadilan”,ungkap Lalung

Melihat posisi PMKRI yang bergerak untuk Gereja dan tanah air, Lalung menegaskan bahwa PMKRI bergerak dan berjuang bukan untuk umat Katolik saja tetapi berjuang untuk semua masyarakat Indonesia.

“PMKRI bukan berjuang untuk umat Katolik saja tetapi, bergerak dan berjuang bagi segenap masyarakat di Republik Indoensia ini”, tutur Lalung
Kegiatan seminar yang dilangsungkan di auditorium Kedokteran Hewan Uniersitas Gajah Madah ini diakhiri dengan deklarasi perdamaian dan doa bersama lintas iman Cipayung. (Astramus Tandang/KbN)

0 Comments

Leave a Comment

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password