breaking news New

Perubahan NTT Ada di Tangan Pemimpin

Keterangan foto: Salah satu cagub NTT dari kalangan profesional, Dr. Ing Ignatius Iriyanto Djou Gadi Gaa.

Oleh: Plasidus Asis de Ornay, SH

Pemilihan Gubernur NTT 2018 sudah dekat. Banyak nama yang telah beredar di tengah masyarakat. Ada yang sudah mendeklarasikan dirinya untuk maju sebagai calon gubernur NTT, ada yang lain masih menyatakan siap maju, dan beberapa nama disebut-sebut banyak kalangan didorong untuk maju juga sebagai calon yang diandalkan, antara lain Benny K Harman, Esthon, Christ Rotok, Melki Lakalena, Medah, Andre Garu, Daniel Tagu Dedo, Iriyanto Djou, dan lainnya.

Macam-macam latar belakang mereka. Ada yang mantan pejabat, politisi aktif, birokrat, akademisi dan tak ketinggalan dari kalangan profesional.

Siapakah yang pantas untuk NTT saat ini?

Pengalaman memperlihatkan buruknya citra para pejabat dan politisi di NTT. Bahkan Pengamat Politik dan intelejen Bonie Hargens pernah mengatakan dengan lantang dan berani bahwasanya pejabat di NTT saat ini ‘loyo dan sontoloyo’. Hopeless, tidak bisa diharapkan.

Walau banyak juga yang tidak senang dengan kejernihan nalar dan nurani Bonie Hargens ini, sesungguhnya ia sudah menguak fakta riil di NTT tercinta.

Menjadi pejabat di level birokrasi pemerintahan daerah saja sudah KKN, malas, tidak serius bekerja, kok malah digadang-gadang untuk maju sebagai calon gubernur NTT. Didukung pula oleh partai pengusungnya. Apa sudah tidak ada malunya atau sudah lupa dirikah mereka? Ataukah memang sudah tidak ada kandidat lain di luar pejabat dan politisi untuk direkrut dan didukung menjadi Gubernur?

Apa Ada Jaminan Mengusung Sosok dari Kalangan Profesional

Tugas partai sebagai penjaring bakal calon sangat berkepentingan dalam menghadirkan calon out of the box, di luar kalangan pejabat dan politisi. Akan tetapi, bukan tanpa dilematis dan keraguan. Pertanyaan besarnya bagi partai dan calon pemilih adalah adakah jaminan akan kapabilitas sosok dari kalangan profesional bakal menjadi seorang pemimpin yang akan membawa perubahan bagi NTT?

Bukan cerita baru sesungguhnya, tentang seorang pemimpin dari kalangan profesional. Proklamator sekaligus presiden pertama kita saja, Soekarno, adalah seorang insinyur. Hari ini pun Indonesia dipimpin oleh Jokowi, seorang Presiden berlatar belakang insinyur.

Kita juga mengenal sosok pemimpin fenomenal seperti Ahok, Gubernur DKI, dan Tri Risma, Walikota Surabaya, juga berlatar belakang profesional yang kebetulan insinyur juga. Didukung oleh profesi yang mereka tekuni serta niat tulus tanpa tekanan masa lalu politik dan birokrasi, membuat mereka lepas bebas membangun daerahnya hingga membawa banyak perubahan yang berarti. Sebab mereka tidak terbelenggu oleh konflik interest masa lalu partai dan birokrasi.

Begitu pula Bupati Bantaeng Prof. Dr. Nurdin Abdulah, pemenang 50 Award baik Nasional dan Internasional adalah dari kalangan akademis dan professional. Kang Yoyok yang mantan Bupati Batang Jawa Tengah berasal dari latar belakang militer namun sebelum menjadi Bupati yang sangat berprestasi di Batang, beliau adalah seorang sosok yang sukses mengelola perusahaannya. Kepiawaiannya dalam mengelola perusahaan menjadi modal penting dalam memimpin daerah.

Begitu pula Bupati Bojonegoro Kang Yoto yang sangat berhasil menggandeng perusahan besar di sana menjadi mitra pembangunan bagi daerahnya. Beliau juga berasal dari kalangan akademisi dan professional, bahkan pernah juga menjadi Rektor sebuah perguruan tinggi.

Mereka itu adalah sosok yang membawa pola pikir out of the box itu, keluar dari kelaziman, yang melahirkan harapan baru bagi warga yang dipimpinnya.

Kemampuan itu lahir dari latar belakang pendidikan yang meyakinkan, tidak mediocre rate…disertai dengan rangkaian pengalaman praktis dalam mengelola berbagai lembaga professional. Prinsip-prinsip manajemen modern disisipkan dalam etos kerja birokrasi yang dipimpinnya.

Sangat sedikit pembangunan transformatif dapat diimplementasikan oleh pimpinan daerah yang berasal dari figure yang meniti kariernya murni sebagai politisi. Mungkin dibutuhkan sebuah penelitian untuk menjawab persoalan ini. Secara umum, kita bisa menduga, bahwa kesulitan yang dihadapi oleh kelompok ini, adalah pola pola transaksional dalam politik praktis di negeri ini, biasanya diteruskan dalam manajemen birokrasi serta manajemen pembangunan daerah yang dipimpin.

Walaupun demikian, sesungguhnya di balik kelahiran sosok pemimpin dari kalangan profesional ini, kita menaruh apresiasi tinggi pada kerja partai politik yang menghadirkan mereka dan giat mendukung pencalonan mereka. Partai partai itu jujur melihat kurangnya kompatibilitas kader-kader mereka dengan tuntutan leadership daerah yang kini menjadi trend global dan secara bijak mendukung para professional untuk menjadi pemimpin daerah. Dengan cara demikian partai- partai tersebut juga mendidik para kadernya dengan mendorong mereka berkaca dan belajar dari para professional tersebut.

Bahwa kemudian para profesional tersebut bersedia bergabung dalam partai tersebut adalah benefit tambahan buat partai.

Mengusung Wajah Baru

NTT dengan segudang permasalahannya, bisa belajar dari kesuksesan pemimpin berlatar belakang profesional ini. Partai Politik harus ditantang untuk berpikir out of the box soal siapa yang akan dihadirkan dan diusungnya menjadi calon Gubernur NTT.

Hal ini hanya mungkin dilakukan partai apabila internal partai juga lepas bebas, tidak terbelenggu oleh kepentingan dan keterikatan emosional dengan pejabat dan politisi partisan yang sudah terlanjur berselingkuh secara material dan spiritual dengan partai selama ini.

Ada banyak tokoh profesional dari kalangan NTT yang punya niat tulus untuk mengabdi sebagai Gubernur NTT. Nama-nama seperti Daniel Tagudedo, Hyronimus Fernandez, Ignatius Iryanto Djou serta yang kini mulai muncul Robert Marut berasal dari kelompok professional ini. Mereka telah menyatakan niatnya bersedia memimpin provinsi NTT ke arah yang lebih baik.

Dr. Ing Ignatius Iryanto Djou Gadi Gaa, salah satu Putra terbaik NTT, kelahiran Ende ini meraih gelar Doktornya di Technische Universitaat, Berlin, Jerman. Walau berprofesi insinyur, Iryanto Djou juga dikenal sebagai aktivis sosial politik, akademisi, aktivis NGO, manajer dalam korporasi, juga memiliki pengalaman berinteraksi dengan pemerintah dan masyarakat desa.

Niat Saja Tidak Cukup Tanpa Pengusung

Realitas politik bicara. Niat saja tidak cukup, tanpa ada partai yang mau mengusung. Adakah niat baik dan keberanian partai untuk keluar dari kelazimannya dan berpikir out of the box untuk mengusung sosok calon dari kalangan peofesional ini?

Pertanyaan yang harus dijawab dan semoga itu terwujud, untuk NTT yang lebih hebat ke depan.

0 Comments

Leave a Comment

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password