breaking news New

[Renungan] Pastor Muda dan Perjumpaannya Dengan Periuk Tanah Yang Kosong

Renungan Kamis Putih yang dikutip dari Kotbah Romo Matias Daven dalam misa Kamis Putih 2016 di Katedral Ruteng

Ia yang mencintai murid-muridNya, kini mencintai mereka sampai sehabis-habisnya. Apa inti pokok kalimat ini? Saya membiarkan pengalaman hidup ini berceritera. Pengalaman iman seorang Imam muda beberapa tahun silam terutama pengalaman perjumpaannya dengan Periuk Tanah yang Kosong.

Imam itu berkisah demikian. Pada tahun 1978, ada kelaparan hebat melanda 4 desa di Kecamatan Paga di Maumere Kabupaten Sikka NTT. Ada sekitar 15.000 ribu penduduk tertimpa musibah kelaparan. Keadaan para penduduk terlihat sangat kurus dan lemah, terutama keadaan para ibu hamil dan anak-anak sungguh mengenaskan.Selama tiga minggu, sang Imam muda itu membantu Pastor Paroki melayani umat di wilayah itu. Rumah Pastoran waktu itu ternyata berupa sebuah pondok di tengah sawah dan dikitari gunung-gunung.

Gereja berupa rumah memanjang berlantaikan tanah tanpa dinding, juga letaknya di tengah sawah. Di sampingnya ada rumah pastor dan ada sebuah barak darurat berukuran 5 kali 10 meter. Di dalam barak itu diletakan papan-papan, dan di atas papan-papan itulah, bergelimpangan 141 anak-anak balita dalam keadaan gizi yang paling buruk. Sebagiannya hanya tinggal kulit pembalut tulang, rambutnya rontok, bengkak-bengkak di bagian kaki, kepala bahkan luka-luka borok di sekujur tubuh mereka.

Tampak seorang ibu yang berkecimpung menampung anak-anak terlantar bersama sejumlah tenaga medis lainnya yang berasal dari Rumah Sakit Lela Maumere sebagai sukarelawan. Mereka bekerja keras merawat anak-anak gizi buruk tersebut. Selama Imam muda itu berada di sana, ada tiga orang anak yang mati. Ia bersama anggota pengurus Stasi kemudian menggali sejengkal tanah di lereng bukit untuk membuat pemakaman sederhana menguburkan ketiga anak tersebut. Dan di atas gundukan tanah kuburan, ditancapkan salib dari bambu sebagai tanda, bahwa oleh karena Iman mereka akan Yesus Kristus, merekapun mengalami penderitaan, wafat dan bangkit seperti Kristus.

Dalam catatan hariannya, pastor muda itu menceritakan bahwa ia belum pernah sampai seusia waktu itu, melihat penderitaan manusia yang begitu getir. Seumur hidupnya ia baru menjumpai penderitaan yang begitu mengenaskan dan mengkoyak-koyakan hati.

Pada suatu pagi, Imam atau pastor muda itu pun diminta untuk patroli ke arah sebuah pegunungan untuk mengunjungi keluarga-keluarga petani terpencil. Ia pun jalan, dan siang hari ia tiba di sebuah rumah panggung di tepi kebun. Seorang petani menyambutnya dengan senyuman yang ramah dan mengundangnya untuk masuk ke rumah pondok itu. Ia pun singgah dalam keadaan cape dan lapar.

Petani itu pun menghidangkan sayur dari dedaunan muda yang segar dan enak. Tak ada ubi, atau pun jagung. Petani itu pun meminta maaf berkali-kali, karena tak ada nasi, ubi, atau pun jagung yang layak untuk dihidangkan bagi sang pastor. Karena lapar, pastor muda itu pun memakan makanan yang dihidangan petani itu.

Sesudah makan ia baru bertanya,”bapak, di mana istri dan anak-anak bapak?” Pak Tani itu menjawab, mereka semua ada di dapur. Pastor muda itu pun masuk. Bagian dalam rumah itu disekat, bagian depannya dipakai untuk menerima tamu dan bagian dalamnya dipakai sebagai tempat istirahat dan jaraknya dekat dengan tungku api.

Betapa terkejutnya pastor muda itu, Ia mendapati seorang perempuan dan ketiga anaknya yang kurus terbaring lesu mengelilingi tungku api. Dan di atas tungku api itu, didapatinya sebuah periuk tanah, dan periuk tanah itu kosong.

Pastor muda ini pun terkejut dan bingung. Tiba-tiba dia menyadari, petani yang miskin itu telah menyerahkan makanan mereka yang terakhir hari itu. Pastor muda itu pun berdiri tertegun, bingung dan bahkan hampir menangis.

Dalam perjalanan pulang, ia tak tahan karena rasa haru, lalu menangis. Ia kemudian turun ke lembah di kaki gunung dan bermenung sebentar bahkan marah terhadap dirinya sendiri.

Lalu permenungan itu pun berubah menjadi Doa. “Tuhan, karena petani itu telah memberikan saya makanan mereka yang terakhir. Di lembah ini, saya berjanji untuk mengabdikan diri selanjutnya untuk orang lain, bagi jiwa-jiwa yang haus dan lapar.,” ucapnya dalam Doa.

Hari itu, Hari Kamis Putih tahun 1978. Waktu Misa di malam itu, kata-kata injil terasa olehnya bergaung ke seluruh lembah. “Ia yang mencintai murid-murid-Nya, kini mencintai mereka sampai sehabis-habisnya”.

Tujuh tahun kemudian, karena berbagai tantangan hidup, dalam usia Imamat yang masih relative muda, sang pastor muda itu pun mengalami krisis panggilan hidup sebagai imam. Ia mencoba curhat sana sini dengan rekan-rekan seangkatannya, dengan atasannya tetapi tidak ada jalan keluar.

Ia pun masuk dalam suasana hening di dalam kamarnya, dan berpikir apakah ia harus meneruskan panggilannya selaku Pastor atau berhenti sampai di sini. Pada saat ia merenung, tiba-tiba di mata batinnya, jelas sekali ia melihat wajah yang tak asing baginya. Ia melihat sosok wajah seorang ibu dan ketiga anaknya di sekitar tungku api dengan periuk kosong di atas tungku tersebut. Ibu dan ketiga anak itu menatap sang pastor dengan mata melotot yang begitu besar seolah-olah hendak menantang pastor muda ini. Ibu itu pun berkata, “Hai Imam muda, tidak bisakah engkau setia bagi jiwa-jiwa yang lapar?”

Pada saat itulah, ia kembali teringat akan sebuah janji yang pernah diucapkannya di lembah di kaki pegunungan di wilayah pedalaman Paga, Maumere. Malam itu, Pastor itu terkejut dan menyadari ternyata Tuhan memakai wajah perempuan dan ketiga anaknya yang mengelilingi tungku api dengan periuk tanah yang kosong mengajarkan tentang pengabdian, mengajarkan tentang kasih, mengajarkan tentang kesetiaan, mengajarkan tentang roti yang diremas-remas untuk orang. Petani miskin ini telah memberikan makanan mereka sehabis-habisnya.

***

Demikian sekelumit kisah Perjumpaan Seorang Imam Muda Dengan Periuk Tanah Yang Kosong, yang dituturkan Romo Dr. Matias Daven dalam kotbahnya pada perayaan Kamis Putih di Gereja Katedral Ruteng, Kamis, 24/3/216, pukul 21:00 waktu setempat.

Yesus membasuh kaki para murid. Membasuh kaki, suatu pekerjaan yang lazimnya pantas dilakukan oleh seorang pelayan. Yesus Tuhan hendak menyampaikan pesan ini, Ia yang mencintai Allah sedemikian rupa sehingga mengabaikan diri-Nya sendiri. Inilah jalan yang diambil Yesus. Ia mengasihi mereka sampai saat terakhir. Bertentangan dengan situasi kita saat ini yang semakin mencintai diri dan bahkan mengorbankan orang lain.

Hari Kamis, 24/3/2016, umat Kristiani diseluruh dunia memperingati Hari Kamis Suci, di Indonesia dikenal dengan sebutan Kamis Putih. Umat Kristiani mengenangkan Yesus Kristus yang menetapkan Ekaristi. Dalam Perjamuan Malam Terakhir, Yesus Kristus membasuh kaki para murid dan menyeka dengan kain yang diikatkan pada pinggang-Nya.

Ia tahu bahwa saat-Nya telah tiba untuk meninggalkan dunia ini kembali kepada Bapa. Ia tahu coban-cobaan yang akan segera menghancurkan dan mematikan tubuh-Nya. Semua membuktikan kasih-Nya yang tanpa batas. Ia mengasihi kita sampai akhir. Kasih-Nya menanggung segalanya. Kasih-Nya menghadirkan kebaikan bahkan dari segala situasi yang terburuk sekalipun. Kasih-Nya menyelamatkan kita. Sebagaimana disabdakan-Nya, “Tak ada kasih yang lebih besar daripada kasih seorang yang menyerahkan nyawanya bagi sahabat-sahabat-Nya.”

Malam Kamis Putih, kita bersama-Nya dalam doa tuguran dan adorasi. Kita berharap menyertai-Nya lebih dekat dari Getsemani menuju Kalvari. Dalam Adorasi Ekaristi Abadi, kita merenungkan kasih-Nya yang tanpa batas hingga kita mampu tinggal di dalam kasih-Nya itu. Kita mampu tinggal di dalam Dia yang mencintai murid-muridNya, yang kini mencintai mereka sehabis-habisnya.” (Alfan Manah/KbN)

147 Comments

Leave a Comment

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password