breaking news New

Suara Dari Papua: Kebangkitan Kristus Yang Membebaskan

Fr. Fridoardus Sariman, Pr bersama anak-anak di Papua

Oleh: Fr. Fridoardus Sariman, Pr*

Saatnya kita sudah masuk dalam perayaan Paskah tahun 2017. Makna Paskah selalu ada bersama kita karena kebangkitan Kristus yang membawa damai dan sukacita melalui kematian-Nya. Perayaan Paskah bukanlah seremonial belaka bagi setiap orang yang percaya akan-NYa, melainkan lebih dari itu Paskah adalah kekuatan sepanjang masa bagi yang percaya kepada-Nya.

Kebangkitan Kristus yang membawa pembebasan berarti kebangkitan Kristus adalah kebangkitan hidup dan kebangkitan akan masa depan. Singkatnya Paskah adalah pembebasan bagi umat manusia dari ketidakadilan dan penindasan. Kemudian, pertanyaanya bagaimana kita menginterpretasikan makna paskah dalam kehidupan sehari-hari? Jawabanya, tergantung dari cara kita masing-masing, sebagai orang yang menghayati kebangkitan Kristus itu.

Melalui tulisan ini, saya ingin membagi catatan refleksi dan sharing saya tentang makna Paskah tahun ini dengan seorang bapak asli Papua. Sebut saja namanya Bapak Nobert (mantan pewarta) di sala satu stasi dalam tugas asistensi saya. Seusai ibadat hari Paskah bapak Nobert sempat mensharingkan banyak hal tentang pengalaman hidupnya yang penuh dengan penindasan dan pengejaran beberapa tahun silam yang terjadi di tempat tinggalnya (kampung Waris).

Katanya “jujur Frater, sebagai orang yang percaya kepada Kristus saya tidak pernah merasakan kedamaian, khususnya kebangkitan Kristus yang membebaskan selama Paskah yang saya lewati”. Kemudian ia mengatakan lebih lanjut “mungkin kata yang tepatnya, saya tidak pernah merasakan kebebasan dan kemerdekaan sejati sebagai anak-anak Kristus”. Barangkali paskah tahun 2017 ini adalah rahmat yang membebaskan bagi keluarga saya, istri dan anak saya.

Sambil bercanda ia menceritakan tentang keterlibatan dirinya sebagai pewarta semasa mudanya beberapa tahun yang lalu di kampung asalnya. Katanya “Frater berangkat dari kisah sengsara Yesus, seingat saya Yudas Iskariot itu terlibat dalam pelanggaran hak asasi manusia (HAM), terlepas dari kehendak Allah. Sebagai manusia, seorang Yudas terlibat dalam kasus penjualan dan pembunuhan Yesus.

Menjual Yesus kepada para musuh itu adalah bentuk pelanggaran yang sangat sadis dan keji. Saya tidak begitu ingat cara Yudas Iskariot menjual Yesus kepada tokoh-tokoh agama dan tokoh pemerintah waktu itu, adalah cara pelanggaran hukum Allah. Yesus menderita dan disiksa sampai mati untuk kita dan melalui kebangkitanya Ia membebaskan kita”. Dengan nada lebih keras ia bertanya, terus frater bagaimana dengan situasi penindasan kita dan anak-anak kita di Papua????. Bagaimana nasib kami dan ank-anak kami???. Kami ingin bebas, kami tidak mau ditindas.

Karena mukanya agak serem, jujur saya sebagai pendatang satu-satunya di tempat asistensi itu agak kaget dan takut dan sedikit gugup ketika bercerita seolah-olah dengan terbawa perasaan marah. Karena suasana semakin panas, agaknya saya sedikit menghipnotis bapa Nobert, sembari berkata dan agak bercanda, Bapak entar pulang rumah ada makan apakah, ada yang enak kah???. Seketika itu juga ia tersenyum dan berkata; frater di rumah ada banyak buah-buahan. Akhirnya berakhirlah disitu cerita kita seusai perayaan paskah.

Sesampai di rumah, pada jam istrahat setelah makan siang bersama, bapa mulai bercerita kembali tentang kehidupan rumah tangganya. Saking enaknya cerita, dan tanpa sadar ia kembali melanjutkan cerita yang tadi sempat terputus. Katanya, “Frater saya pingin lanjut cerita yang tadi tu. Bisa kah? Saya langsung sambung, cerita apa bapak?. Tadi saya ada cerita tentang Yudas Iskariot di halaman Gereja tu”.

Kemudian ia melanjutkan ceritanya; “Begini Frater, cerita tadi tentang Yudas Iskariot, sama halnya dengan keadaan kami di Papua. Kami menjual sauadara kami sendiri, kami menghkianati keluarga kami, istri kami, anak-anak kami. Kami di Papua, baik orang dari luar Papua dan kami sesama orang Papua demi memuaskan diri dengan kekuasaan jabatan, menindas kami, tidak adil terhadap kami. Saya rasa itu adalah pelanggaran hukum Tuhan, sama halnya dengan membunuh Yesus”, katanya dengan santai. Saya rasa kelakuan Yudas Iskariot juga sering terjadi di dalam kehidupan kami sehari-hari, di tanah kami. Ketika orang lebih memikirkan tentang kekuasaan dan uang maka orang dengan mudah menjual, menghianati dan menghabiskan nyawa orang lain. Ketika orang dikuasai oleh jabatan dan uang, orang dengan senang hati melakukan hal yang serupa dengan Yudas Iskariot. Katanya dalam dialek Papua “Tong jangan jadi Yudas saat ini bole, tong bebaskaan tong pu masyarakat, itu baru tong hidup baek”.

Sepulang dari asistensi saya sempat mensharingkan pengalaman asistensi saya kepada teman-teman sekomunitas. Kami akhirnya berebutan menceritakan pengalaman kami masing-masing di tempat asistensi. Ada banyak cerita dan kisah, ada pengalaman jatuh-bangun, susah-senang dalam pelayanan di tengah kehidupan masyarakat. Unik dan menarik itulah cerita kita, suasana Paskah 2017 di Tanah Papua.

Cerita ini membawa pesan tersendiri bagi saya. Saya dengan sengaja boleh merumuskan tema dari reflksi saya “Kebangkitan Kristus yang Membebaskan”, khususnya bagi umat Kristiani di Tanah Papua. Manusia selalu membutuhkan pembebasan yaitu penyelamatan.

Saya kira pembebasan adalah tidak membiarkan dimensi hidup manusia tak disentuh, tak adil, tetapi adalah perwujudan manusia baru, manusia yang bebas dari penindasan dan ketidakadilan. Akhirnya pembebasan itu betul-betul sebuah karya penyelamatan Allah dalam kondisi kongkrit, historis dari kehidupan umat. Itulah rahmat pembebasan Allah kepada manusia. Semoga damai Paskah membawa damai dan sukacita untuk kita.

“Selamat Paskah buat kitorang semua”

*Mahasiswa STFT Fajar Timur Abaepura, jayapura, Seminari Tinggi Interdiosesan “Yerusalem Baru” Papua

0 Comments

Leave a Comment

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password