breaking news New

Sastra Kartini “Perjuangan Perempuan”

Kabarnusantara.net – “Pergi, garap kerjamu melaksanakan cita-cita; kerja buat hari depan; kerja buat ribuan yang terbungkuk-bungkuk di bawah tindasan hukum-hukum yang tidak adil, di bawah paham palsu tentang baik dan buruk; pergi, pergi, menderitalah dan berjuanglah tapi kerjalah buat keabadian! (Kartini, 4 September 1901)

April, bulan yang dinarasikan sebagai bulan untuk perempuan, walaupun bulan Desember di hari ke-22 ditetapkan pemerintah sebagai peringatan hari Ibu mengikuti tanggal penyelenggaraan Kongres Perempuan I, 22 Desember 1928. Keduanya bukan dikotomi melainkan penanda perempuan sebagai aktor yang ikut berperan pendirian Republik Indonesia. Bulan April, tanggal 21 tahun 1927 jabang bayi Kartini lahir di Jepara. Merayakan Kartini bukan hanya memakai kebaya tetapi harus pula menelusuri sejarahnya sebagai bagian dari diri Kartini. Merayakan Kartini hanya dengan kebaya sama saja membelah Kartini hingga hilang kekartiniannya. Menelusuri sejarah Kartini, Pramoedya memberi arahan dalam bukunya dengan menetapkan ‘Kemiskinan kemelaratan sebagai pendahuluan’.

Diponegoro Jatuh! Diponegoro jatuh! Pramoedya memulai buku biografi politik Kartini dengan sketsa sejarah pasca-perang Diponegoro. Perang yang berlangsung 1825-2830 ini telah meludeskan kas Hindia Belanda. Perang Diponegoro adalah perang  termahal dalam sejarah pemberontak Hindia Belanda karena untuk memadamkannya pemerintah Belanda meminjamkan 37 juta gulden kepada Pemerintah Hindia Belanda. Itu pun duit hasil pinjaman sana sini yang harus dikembalikan beserta bunga. Jadi dalam hal ini Pemerintah Belanda bertindak sebagai makelar hutang yang mendapatkan bunga tanpa modal sendiri.

Johannes van den Bosch menghadap Raja Belanda, Raja Willem memberikan rencana untuk memulihkan keuangan Hindia Belanda dengan rencana cultuurstelsel atau Tanam Paksa. Usul disetujui, dikirim lah Van den Bosch ke Hindia Belanda menjadi Gubernur Jenderal. Hanya setelah 5 tahun setelah padamnya perlawanan Diponegoro, Tanam Paksa yang disuburkan oleh air mata, keringat, ratap-tangis dan darah Pribumi, sampai ke Nederland segera berubah menjadi air surga yang menggerakkan kembali perdagangan, pelayaran, dan industri yang sempat beku.

Sejak dimulainya Tanam Paksa ini sampai dengan tahun 1877, uang kelebihan anggaran belanja Hindia Belanda yang dialirkan ke Nederland mencapai jumlah 800 juta gulden. Dengan pulihnya keadaan keuangan, Van den Bosch mendapatkan pembagian gelar baron dan kemudian hari menjadi graaf.

Delapan ratus ribu keluarga digiring ke kebun-kebun itu untuk menggarap kebun-kebun Gubernemen, yang berarti jumlah itu senilai seperempat penduduk Jawa. Pribumi tak punya cukup waktu menggarap tanah mereka sendiri. Paceklik pun menimpa, seperti yang terjadi di Demak dan Grobokan. Bencana kelaparan pun tidak dapat dihindari, di Demak, hanya dalam dua tahun jumlah 216.000 orang merosot hingga menjadi 120.000 dan di Grobogan dari sebanyak 98.000 penduduk hanya tersisa 9000 orang.

Skema kerja Tanam Paksa sendiri mengharuskan seperlima dari luas tanah petani pribumi harus ditanami tanaman nila, kopi, gula (tebu), dan tembakau. Sedangkan hasilnya harus dijual ke pemerintah dengan harga yang ditentukan oleh pemerintah. Barang siapa tidak mempunyai tanah, harus kerja di perkebunan-perkebunan pemerintah selama 66 hari dalam setahun tanpa dibayar.

Sketsa sejarah ini yang mengiringi lahir dan besarnya Kartini. Kartini lahir pada masa luka akibat Tanam Paksa belum lagi sembuh. Ia menginsafi dirinya menjadi bagian dari rakyatnya. Bekerja bersama dan untuk rakyatnya.

… disebut bersama rakyatku; dengannyalah dia akan berada buat selama-lamanya! Aku sangat bangga, Stella, disebut dengan satu tarikan nafas bersama Rakyatku.

Kartini disebut oleh Pramoedya Ananta Toer sebagai pemula, peletak dasar Indonesia modern. Tulisnya, jika menggunakan stratifikasi Hindu, Kartini adalah brahmana. Tulisan-tulisan Kartini merefleksikan hal tersebut. Pramoedya meniliti Kartini, mengumpulkan surat-suratnya, tulisan-tulisannya yang dimuat oleh surat kabar masa Hindia Belanda, menelusuri konteks sejarah tempat Kartini tumbuh sampai akhirnya Pramoedya menulis biografi politik Kartini. ‘Panggil Aku Kartini Saja’ ia memberi judul bukunya itu.

Kartini juga mengagumi Tirto Adhi Soerjo, tokoh yang juga menginspirasi Pramoedya menulis tetralogi Pulau Buru dan juga menulis buku khusus yang berisi himpunan tulisan Tirto dan menafsirkan Tirto dan konteks sejarahnya yang diberinya judul ‘Sang Pemula’. Kartini menulis surat khusus menceritakan gemilangnya Tirto -Kartini menyebutnya dengan pemuda Jawa tanpa menyebut nama- yang tidak mendapatkan posisi yang pantas hanya karena ia seorang Jawa. Surat tersebut dikirimkan ke Estelle Zeehandelaar tertanggal 12 Januari 1900.

Di tengah iklim sastra yang mendung hingga menjamur pengarang kapiran motivasional namun nirkesadaran tugas kepengarangan, perlulah kita menengok kembali Kartini dan merenunginya sebagai kompleksitas sejarah. Perlu juga dicanangkan kepada pemuda yang hendak dan bercita-cita menjadi penulis-sastrawan sebuah manifesto kepangarangan Kartini;

Sebagai pengarang dapatlah aku secara besar-besaran mewujudkan cita-cita dan bekerja bagi pengangkatan derajat dan pengadaban Rakyatku. Kau tahu sendiri akan kecintaanku pada sastra, bahkan salah satu angan-anganku untuk sekali waktu menjadi sastrawan yang berarti.

Kartini melakoni perjuangan di lapangan kepengarangan dan ilmu pengetahuan setelah mengalami tidak arifnya tata nilai feodalisme terhadap wanita, terlibat dan mengamati rakyatnya bergelimang kemiskinan. Pramoedya menyebut Kartini sebagai antropolog otodidak yang menuliskan kehidupan rakyatnya dalam karyanya untuk menyebarkan kabar-kesadaran akan kejinya kolonialisme yang juga didukung oleh feodalisme dan mendirikan sekolah bagi para wanita.

Kartini bukan tanpa penerus, dan Kartini juga meneruskan perempuan pejuang sebelumnya, seperti Sitti Soendari yang berpidato dengan kesadaran nasional yang melampaui zaman, guru berusia 23 tahun itu, berpidato di Kongres Perempuan I. Soendari menyadari bhinekanya Indonesia, dia mengibaratkan Indonesia Raya adalah taman bunga.

Marilah Tuan biarkan pikiran naik ke udara dan memandang ke bawah. … tergambarlah Indonesia seperti taman bunga yang luas sekali, tiap pulau terbentang seperti petak tempat tumbuhnya bunga.

Taman itu tak akan selamat sempurna kalau yang tumbuh hanya kembang melati. Bukankah kita menghendaki membuat bunga rampai.(RR/KbN)

0 Comments

Leave a Comment

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password