breaking news New

Dosen UNIPA : Novel Putri Komodo Merupakan Pukulan Telak Bagi Masyarakat Flores dan NTT

Kupang, Kabarnusantara.net – Berlangsung di Foodcourt Café Kampayo XT Square Yogyakarta, Jumat (21/4), novelis muda asal Pulau Jawa Michael Yudha Winano merilis novel Purti Komodo dengan mengambil latar Pulau Flores. Michael memilih Pulau Flores sebagai bentuk responsif  atas berbagai persoalan sosial terutama human traficking dan pelecehan seksual yang terjadi pada perempuan Flores.

Melalui novel ini, penulis mencoba untuk merespon isu perdagangan manusia yang merupakan isu sentral di NTT akhir-akhir ini, khususnya di Pulau Flores. Hal itu disebabkan banyaknya jumlah tenaga kerja yang dikirim ke luar negeri baik secara ilegal maupun legal. Isu ini tidak kala penting dengan isu korupsi yang menjamur di negeri ini.

“Saya mengangkat ini karena Flores atau NTT masuk dalam kategori provinsi termiskin ketiga dan belum banyak perhatian terhadap Pulau Flores. Sehingga berniat mengangkat isu-isu pinggiran dari pualu-pulau terpencil, supaya mendapatkan perhatian dari semua pihak, baik dari masyarakat umum dan semua kalangan, LSM, pemerintah maupun swasta”, papar Yudha.

Ia juga menjelaskan bahwa novelnya berdasar pada perspektif korban yang berusaha membebaskan diri dari kemiskinan dan memperjuangkan haknya.

“Saya menulis berdasar pada prespektif korban, dari satu TKW yang ada di Flores. Ia keluar negeri dan ternyata gagal, ketika pulang ia mencoba bangkit tapi dia sendiri juga mendapatkan pemerkosaan. Lalu dia aktif menjadi pekerja sosial, pelan-pelan ia bangkit, merawat anak hasil pemerkosaan tapi ternyata anaknya meninggal pada usia dini”, jelas Yudha.

Proses penulisan novel Putri Komodo yang memakan waktu selama 1,5 tahun dengan masa riset selama 5 tahun ini, ia menerima apresiasi dari dosen Universitas Nusa Nipa Maumere Flores, NTT, Santi Sima Gama atas keberanian novelis Michael Yudha dalam menulis kasus human trafficking di flores.

“Saya mau mengatakan Mas Yudha benar-benar berani,  seorang Jawa tapi berpetualangnya di daerah saya. Ada laki-laki Jawa yang berani menyeberang, menulis sebuah kisah yang saya sendiri masih terekam dibenak belum sempat menggoreskan semuanya lewat buku. Benar-benar saya apresiasi dengan dia, menuliskan isu-isu trafficking tidak mudah, dan dia berani”, ujarnya.

Bukan hanya itu, Santi juga menjuluki Yudha sebagai laki-laki feminis yang membela hak kaum perempuan. Santi merasa bahwa novel Putri Komodo merupakan tamparan keras bagi masyarakat Flores dan NTT.

“Sebenarnya novel tersebut adalah pukulan telak bagi kami orang NTT, ini tamparan buat kami orang NTT, kok yang peduli orang di luar kita”, ujarnya.

Sementara itu, semua data, tempat dan tokoh yang ada di novel Putri Komodo ini adalah nyata seperti yang terjadi di Flores, hanya saja nama tokoh disamarkan.

Yudha juga berharap novel yang dirilisnya kali ini dapat menyumbang khazanah kesusastraan Indonesia serta membuka mata terhadap masalah di Flores, bukan hanya melihat kecantikan alam dan komodonya.

“Harapan besar saya atas lahirnya novel ini ada tiga, pertama bisa menyumbangkan terhadap kasanah kesustraan di Indonesia. Kedua masyarakat semakin peduli dengan isu-isu pinggiran terutama di Pulau Flores, bukan masalah komodo dan keindahan alamnya saja. Ketiga saya menginginkan ada dampak sosial khususnya di Pulau Flores karena juga banyak program pembangunan, tapi di daerah terpencil masih belum terasa”, ungkapnya.

Sekedar menyegarkan ingatan kita, Provinsi NTT  per September 2016 masuk dalam peringkat ketiga untuk penduduk miskin se-Indonesia setelah Papua dan Papua Barat. NTT menduduki 22,01 persen dari 1.150, 08 ribu penduduk. (Astramus Tandang/RR/KbN)

149 Comments

Leave a Comment

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password